Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Ini 2 Teknologi yang Bisa Dipakai PLN untuk Sulap Sampah Jadi Energi

Daniel K.F. Tampubolon di Semangat Awal Tahun 2026 (SAT 2026).
Daniel K.F. Tampubolon di Semangat Awal Tahun 2026 (SAT 2026). (IDN Times/Herka Yanis)
Intinya sih...
  • PLN Persero menjelaskan teknologi gasifikasi dan insinerasi untuk mengubah sampah menjadi energi listrik di proyek PLTSa.
  • Teknologi gasifikasi mengubah sampah padat menjadi syngas, sedangkan insinerator membakar seluruh sampah dengan fasilitas pembakaran tinggi.
  • Pemerintah memutuskan untuk mengadopsi teknologi incineration atau direct combustion pada proyek PLTSa yang sudah mulai dilelang oleh BPI Danantara.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - PT PLN Persero menjelaskan ada dua teknologi yang bisa digunakan untuk mengolah sampah menjadi energi listrik di proyek Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa). Kedua teknologi itu yakni teknik gasifikasi (gasifier) dan insinerasi (incineration).

"Gasifier yaitu mengubah benda padat yaitu sampah tadi melalui tekanan yang sangat tinggi menjadi gas synthetic gas atau syngas. Benda-benda padat tadi diubah menjadi syngas. Dari situ ada pengkondisian sebelum nantinya, apakah gasnya nanti akan dipakai untuk melakukan pembakaran dan memanaskan boiler untuk selanjutnya nanti ke turbin atau generator, atau syngas nya langsung disalurkan ke gas engine," ujar Excutive Vice President of New and Renewable Energy PT PLN Persero, Daniel K. F Tampubolon di program 'Semangat Awal Tahun' 2026 by IDN Times di IDN HQ, Jakarta Selatan pada Kamis (15/1/2026).

Seandainya menggunakan metode gasifikasi maka sebaiknya sampah yang diubah tidak banyak yang organik. Teknik kedua, menggunakan insinerator.

"Dengan teknik ini, seluruh sampah akan melewati fasilitas TPA (Tempat Pembuangan Akhir) lalu akan ada proses pre-conditioning facility. Tujuannya, karena sampah belum dipilah secara matang, maka dibutuhkan proses pre-conditioning untuk menurunkan kadar air sampahnya," tutur dia.

Setelah itu, kata Daniel, sampah akan dimasukan ke dalam conveyor dan dibakar. Ia memahami kekhawatiran yang muncul di benak publik ketika membakar sampah yaitu pencemaran udara dengan membakar sampah non-organik. Namun, Daniel memastikan hal tersebut tidak terjadi.

"Karena insinerator dilengkapi fasilitas pembakaran yang sangat tinggi, at least 850 derajat celcius sampai 1.000 derajat celcius, maka dalam kondisi seperti ini seluruh gas beracun itu akan terurai secara sempurna. Belum lagi akan ada filtering untuk partikel debu, gas beracun hingga logam berat," katanya.

Ia mengatakan lewat mekanisme itu maka gas emisi pembakaran lewat insinerator bisa memenuhi standar yang telah ditetapkan oleh Eropa. "Ini rest assure bahwa dengan insinerator, emisinya sangat-sangat terkendali dan terukur. Bahkan, bisa diawasi oleh Kementerian Lingkungan Hidup," tutur dia.

Sementara, CEO BPI Danantara, Rosan Roeslani mengatakan pemerintah telah memutuskan untuk mengadopsi teknologi incineration atau direct combustion pada proyek PLTSa. Proyek PLTSa sudah mulai dilelang oleh BPI Danantara pada awal November 2025 lalu.

IDN Times kembali menggelar Semangat Awal Tahun (SAT) 2026 by IDN Times yang menjadi forum diskusi tahunan. Acara ini digelar di IDN HQ, Jakarta Selatan, pada 14-15 Januari 2026.

SAT 2026 by IDN Times menghadirkan sejumlah pemimpin nasional, pengambil kebijakan, pelaku industri, dan tokoh-tokoh inspiratif. Dengan tema 440 Hari Pemerintahan Presiden Prabowo: Menuju Pertumbuhan yang Berkualitas, SAT 2026 dirancang buat menjangkau Milenial dan Gen Z sekaligus menjadi wadah membahas isu-isu berkembang saat ini.

SAT 2026 juga menghadirkan Awarding Session sebagai bentuk apresiasi kepada tokoh-tokoh inspiratif melalui penghargaan "Inspiring Newsmaker of The Year 2026".

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Latest in Business

See More

Makin Mudah, Semua Layanan Pegadaian Kini Ada di Aplikasi Tring!

15 Jan 2026, 17:47 WIBBusiness