Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Ini 3 Unit Bisnis Pertamina yang Terpengaruh Gejolak Timur Tengah

Ini 3 Unit Bisnis Pertamina yang Terpengaruh Gejolak Timur Tengah
Kantor Pusat Pertamina di Gambir, Jakarta Pusat. (dok. Pertamina)
Intinya Sih
  • Pertamina memetakan tiga unit bisnis yang terdampak gejolak Timur Tengah, yaitu PIS, PIEP di Irak, dan Patra Niaga yang mengelola pengadaan minyak mentah.
  • Perusahaan memperkuat mitigasi risiko, memantau intensif pekerja serta armada di kawasan konflik, dan berkoordinasi dengan Kemenlu serta otoritas setempat untuk menjaga keamanan operasional.
  • Pertamina mengoptimalkan kilang domestik dan diversifikasi pasokan energi guna menjaga ketahanan nasional, sementara Jusuf Kalla menyoroti potensi kenaikan harga minyak akibat gangguan logistik global.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - PT Pertamina (Persero) telah memetakan tiga unit bisnis strategisnya yang bersentuhan langsung dengan dinamika geopolitik di Timur Tengah. Ketiga unit tersebut adalah PT Pertamina International Shipping (PIS) untuk sektor pengangkutan, Pertamina Internasional EP (PIEP) yang beroperasi di Basra, Irak, serta Pertamina Patra Niaga yang mengurusi pengadaan minyak mentah.

Menyikapi dinamika saat ini, Pertamina menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas pasokan energi nasional. Fokus utama saat ini adalah menjamin keselamatan pekerja serta keberlangsungan operasional melalui penguatan mitigasi risiko dan pemantauan intensif.

1. Seluruh pekerja dan armada di Timur Tengah dalam pantauan intensif

Ilustrasi hulu migas (Dok. SKK Migas)
Ilustrasi hulu migas (Dok. SKK Migas)

Vice President Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron menyampaikan saat ini kondisi seluruh pekerja, operasional, hingga armada yang berada di kawasan Timur Tengah terpantau secara intensif.

Perusahaan juga telah menyiapkan langkah mitigasi risiko untuk menghadapi berbagai kemungkinan di lapangan. Pihaknya terus menjalin komunikasi erat dengan Kementerian Luar Negeri, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI), atau Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) serta otoritas setempat.

"Pertamina juga telah menyiapkan langkah mitigasi risiko serta memperkuat komunikasi dengan Kementerian Luar Negeri, KBRI, KJRI dan otoritas setempat guna menjaga kelancaran operasional dan keamanan kru,” kata Baron dalam keterangan tertulis, Sabtu (1/3/2026).

2. Optimalkan kilang domestik dan diversifikasi pasokan

Proyek kilang alias Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan. (dok. Pertamina)
Proyek kilang alias Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan. (dok. Pertamina)

Untuk menjaga ketahanan energi nasional, Pertamina juga memanfaatkan portofolio sumber pasokan yang beragam, baik dari dalam negeri maupun mitra luar negeri. Diversifikasi memberikan fleksibilitas tinggi dalam mengelola suplai di tengah ketidakpastian situasi global.

Pertamina juga memaksimalkan operasional kilang di dalam negeri demi menjaga keseimbangan produksi dan distribusi. Baron menegaskan pengawasan akan terus diperketat agar ketersediaan BBM serta LPG bagi masyarakat tetap dalam kondisi aman dan memadai.

“Sebagai garda terdepan energi nasional, Pertamina memperketat pengawasan dan mengupayakan ketahanan pasokan crude, BBM, dan LPG tetap aman untuk memenuhi kebutuhan seluruh masyarakat Indonesia,” ujar Baron.

3. JK ingatkan dampak ke harga BBM imbas gangguan logistik

Wakil Presiden ke-10 dan 12, Jusuf Kalla (IDN Times/Ilman Nafi'an)
Wakil Presiden ke-10 dan 12, Jusuf Kalla (IDN Times/Ilman Nafi'an)

Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla, mengatakan, dampak perang antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel bisa berdampak buruk. Salah satunya, kenaikan harga minyak dunia.

"Iya, pertama tentu harga minyak naik. Pasti itu yang pertama. Logistik di antara Timur Tengah dan kita seluruh terputus. Sekarang ratusan ribu orang Indonesia, puluhan ribu Indonesia yang naik umrah contohnya, itu tidak bisa kembali pada dewasa ini," kata dia.

Selain itu, kata JK, ekspor Indonesia ke sejumlah negara juga bisa terganggu akibat adanya perang di Timur Tengah.

"Juga ekspor kita tentu ke Eropa akan masalah karena ini semua timbul ketakutan, semua orang bersiap seperti itu. Jadi masalahnya, ya, kita biasanya mengimpor minyak dari Timur Tengah karena kita kekurangan. Sekarang pasti setop," ucap JK.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Latest in Business

See More