Uang Beredar Maret 2026 Tembus Rp10.355 Triliun, Tumbuh 9,7 Persen

- Uang beredar Maret 2026 mencapai Rp10.355,1 triliun, tumbuh 9,7 persen yoy, menunjukkan peningkatan likuiditas ekonomi nasional dibandingkan bulan sebelumnya.
- Peningkatan M2 terutama didorong oleh pertumbuhan uang beredar sempit (M1) sebesar 14,4 persen yoy dan kenaikan tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat hingga 39,2 persen yoy.
- Penyaluran kredit tumbuh stabil 8,9 persen yoy pada Maret 2026, menandakan fungsi intermediasi perbankan tetap konsisten di tengah dinamika ekonomi global.
Jakarta, IDN Times – Likuiditas perekonomian Indonesia yang tercermin dari uang beredar dalam arti luas (M2) menunjukkan tren peningkatan pada Maret 2026.
Bank Indonesia (BI) mencatat, M2 tumbuh 9,7 persen secara tahunan (year on year/yoy), lebih tinggi dibandingkan Februari 2026 yang sebesar 8,7 persen yoy. Secara nominal, jumlah uang beredar pada Maret 2026 mencapai Rp10.355,1 triliun.
1. Pertumbuhan M2 didorong uang beredar sempit

Peningkatan likuiditas ini didorong oleh pertumbuhan komponen uang beredar sempit (M1) yang mencapai 14,4 persen yoy. Selain itu, uang kuasi juga tumbuh sebesar 5,2 persen yoy, turut menopang kenaikan M2 secara keseluruhan.
Kondisi ini mencerminkan aktivitas ekonomi yang tetap berjalan, dengan perputaran uang di masyarakat yang semakin meningkat.
2. Tagihan ke pemerintah jadi faktor utama

BI menyebut perkembangan M2 pada Maret 2026 terutama dipengaruhi oleh meningkatnya tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat
Tagihan tersebut tercatat tumbuh 39,2 persen yoy, melonjak dibandingkan Februari 2026 yang sebesar 25,6 persen yoy. Kenaikan ini menjadi salah satu pendorong utama ekspansi likuiditas di dalam negeri.
3. Penyaluran kredit tetap stabil

Di sisi lain, penyaluran kredit juga memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan uang beredar. Pada Maret 2026, kredit tumbuh 8,9 persen yoy, relatif stabil dibandingkan bulan sebelumnya.
Stabilnya pertumbuhan kredit ini menunjukkan fungsi intermediasi perbankan tetap berjalan konsisten, meski di tengah dinamika ekonomi global.
Secara keseluruhan, peningkatan uang beredar pada Maret 2026 mengindikasikan likuiditas yang semakin longgar, sekaligus menjadi sinyal positif bagi aktivitas ekonomi nasional ke depan.


















