Jakarta, IDN Times - Investasi Jepang di Amerika Serikat (AS) dalam sektor energi dan industri, memicu kekhawatiran iklim. Ini setelah sebagian besar dana dialokasikan untuk proyek berbasis bahan bakar fosil dengan emisi karbon tinggi.
Menurut laporan Asahi Shimbun pada Sabtu (11/4/2026), lebih dari 90 persen dari gelombang pertama investasi Jepang ke AS, bagian dari kesepakatan perdagangan senilai 550 miliar dolar AS (sekitar Rp9.339 triliun), digunakan untuk proyek pembangkit listrik tenaga gas dan fasilitas ekspor minyak mentah. Secara keseluruhan, Jepang menginvestasikan sekitar 36 miliar dolar AS (Rp615 triliun) dalam tiga proyek utama, termasuk pabrik berlian sintetis di Georgia.
Jika beroperasi penuh, proyek-proyek tersebut diperkirakan menghasilkan emisi gas rumah kaca setara hingga 20 persen emisi tahunan Jepang. Investasi ini dinilai bertentangan dengan komitmen iklim global terhadap Perjanjian Paris dan target emisi nol bersih Jepang dalam 25 tahun ke depan.
