Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Jaga Arus Logistik, Begini Pengawasan Data di Kawasan Berikat
Ilustrasi ekspor-impor. (Dok. Kementerian Keuangan)
  • Pemerintah melalui Bea dan Cukai memperketat pengawasan ekspor-impor lewat sistem CEISA 4.0, menuntut perusahaan di kawasan berikat untuk melaporkan data secara real-time demi menjaga kelancaran logistik.
  • Industri manufaktur seperti PT Mattel Indonesia mulai mengadopsi sistem inventori otomatis BZone agar integrasi logistik, produksi, dan ekspor-impor berjalan efisien serta sesuai regulasi kepabeanan.
  • Daya saing digital Indonesia meningkat dengan skor EV-DCI 2026 mencapai 42,2; keberhasilan adopsi teknologi lokal menunjukkan kemampuan software nasional bersaing di level global.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times – Pemerintah Indonesia melalui Direktorat Jenderal Bea dan Cukai terus memperketat pengawasan kepabeanan bagi perusahaan berorientasi ekspor melalui sistem CEISA 4.0.

Perubahan regulasi yang semakin terdigitalisasi ini menuntut industri manufaktur, khususnya yang memanfaatkan fasilitas Kawasan Berikat (Kaber), Kemudahan Impor Tujuan Ekspor (KITE), dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), untuk mengintegrasikan sistem pelaporan internal mereka secara real-time.

Bagi perusahaan global, ketidaksesuaian data pelaporan kini menjadi risiko besar karena dapat menghambat proses logistik dan mengganggu arus barang ekspor-impor.

1. Kepatuhan regulasi kepabeanan kini jadi fondasi kelangsungan bisnis ekspor

Ilustrasi platform untuk integrasi data di kawasan berikat. (dok. BZone)

Digitalisasi di kawasan berikat kini bukan lagi sekadar alat efisiensi operasional, melainkan instrumen kepatuhan hukum (compliance) yang krusial. Perusahaan manufaktur skala besar dihadapkan pada tantangan transaksi bervolume tinggi yang harus terdokumentasi secara akurat tanpa boleh mengganggu kelancaran produksi harian.

Chief Executive Officer (CEO) PT Eka Reka Palakerti Indonesia (ERP Indonesia), Anang Ind Pratama mengatakan perubahan pendekatan pengawasan oleh pemerintah memaksa industri untuk meninggalkan sistem manual. Salah satu implementasi nyata dilakukan oleh raksasa produsen mainan PT Mattel Indonesia yang mengadopsi platform Bonded Zone IT Inventory, BZone, guna menjembatani sistem manufaktur mereka dengan sistem CEISA 4.0 milik Bea Cukai.

“Bagi perusahaan manufaktur berorientasi ekspor, kepatuhan bukan lagi sekadar memenuhi regulasi, tetapi menjadi fondasi kelangsungan bisnis karena ketidaksesuaian data maupun pelaporan dapat menghambat proses logistik, memperlambat arus barang, hingga mempengaruhi kelancaran operasional perusahaan,” kata Anang dalam keterangan tertulis, dikutip Selasa (7/7/2026).

2. Kompleksitas logistik dorong adopsi sistem persediaan berbasis otomatisasi

Kawasan berikat di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang. (dok. Pelindo Pelabuhan Tanjung Emas)

Masalah utama yang kerap dihadapi oleh perusahaan manufaktur di kawasan berikat adalah integrasi data antara departemen logistik, proses manufaktur, dan bagian ekspor-impor. Sistem penataan yang terfragmentasi rawan memicu selisih pencatatan barang baku masuk dan produk jadi yang keluar.

Untuk mengatasi kompleksitas tersebut, industri manufaktur mulai beralih ke otomatisasi pelaporan. Chief Commercial Officer (CCO) ERP Indonesia, Contardo Satria Gondokusumo, menyebutkan bahwa penerapan teknologi inventori pada perusahaan dengan volume transaksi tinggi harus dilakukan secara bertahap agar tidak menimbulkan guncangan pada operasional pabrik.

"Implementasi di Mattel Indonesia memiliki kompleksitas tersendiri mengingat tingginya volume transaksi serta kebutuhan integrasi proses logistik dan ekspor-impor tanpa mengganggu kelancaran operasional perusahaan," ucap Contardo.

Integrasi terpadu dalam satu platform ini memastikan setiap pergerakan stok terpantau secara real-time dan otomatis terlaporkan ke sistem kepabeanan.

3. Daya saing digital manufaktur indonesia terus merangkak naik

ilustrasi ekspor (pexels.com/Kai Pilger)

Urgensi transformasi digital di sektor industri ini sejalan dengan tren pertumbuhan adopsi teknologi di dalam negeri. Berdasarkan data East Ventures Digital Competitiveness Index (EV-DCI) 2026, skor daya saing digital Indonesia mengalami kenaikan yang cukup positif, yakni naik dari angka 38,8 pada tahun 2025 menjadi 42,2 pada tahun 2026.

Secara global, belanja korporasi untuk keperluan transformasi teknologi memang diproyeksikan melonjak tajam. Laporan Worldwide Digital Transformation Spending Guide dari International Data Corporation (IDC) memperkirakan total belanja digital dunia akan menembus angka US$3,9 triliun pada tahun 2027 mendatang.

Melihat lanskap tersebut, Anang Ind Pratama menambahkan keberhasilan adopsi teknologi oleh perusahaan multinasional di dalam negeri menunjukkan pengembang piranti lunak lokal kini sudah mampu bersaing di level tertinggi.

"Implementasi BZone di Mattel Indonesia menunjukkan bahwa solusi teknologi yang dikembangkan di Indonesia mampu memenuhi standar operasional dan kepatuhan yang dibutuhkan perusahaan manufaktur global," tutur Anang.

Curated For You

Editorial Team

Related Article