Rupiah Menguat, Tertolong Dolar AS yang Tertekan Data Manufaktur

- Rupiah dibuka menguat tipis ke Rp17.990 per dolar AS pada Selasa pagi, setelah sebelumnya sempat melemah di perdagangan awal pekan.
- Penguatan rupiah didorong oleh pelemahan dolar AS akibat turunnya data PMI manufaktur Amerika Serikat yang dirilis Institute for Supply Management.
- Analis memperkirakan rupiah berpotensi lanjut menguat dengan kisaran Rp17.950–18.050, sambil menunggu rilis data cadangan devisa Indonesia.
Jakarta, IDN Times - Nilai tukar atau kurs rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pagi ini, Selasa (7/7/2026).
Mengutip data Bloomberg, kurs rupiah dibuka menguat 5 poin atau 0,03 persen ke Rp17.990 per dolar AS. Kemarin, Senin (6/7), rupiah melemah 32 poin atau 0,18 persen ke Rp17.995 per dolar AS.
1. Pergerakan rupiah hari ini
Pada ke-10 menit perdagangan, kurs rupiah menguat 9 poin atau 0,05 persen ke Rp17.986 per dolar AS.
Menurut data Trading Economics, pada pukul 09.20 WIB, rupiah menguat 0,1 persen ke Rp17.981,2 per dolar AS.
2. Rupiah terbantu dolar AS yang tertekan akibat data manufaktur turun
Menurut analis pasar keuangan, Lukman Leong, penguatan nilai tukar rupiah didorong oleh tekanan terhadap dolar AS setelah Institute for Supply Management (ISM) merilis data Purchasing Managers Index (PMI) pada Juni 2026 turun 0,7 persen poin menjadi 53,3 dari posisi Mei sebesar 54. Angka tersebut di bawah prediksi.
“Rupiah diperkirakan akan dibuka datar walau berpotensi menguat terhadap dolar AS yg terkoreksi oleh data ISM semalam yang tidak sekuat harapan,” kata Lukman kepada IDN Times.
3. Prediksi pergerakan rupiah hari ini
Lukman memprediksi kurs rupiah akan menguat hari ini. Meski begitu, Lukman melihat investor masih menanti data cadangan devisa Indonesia hari ini, yang pada akhirnya akan mempengaruhi pergerakan kurs rupiah.
“Range Rp17.950-18.050,” tutur Lukman.




















