Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kadin Soroti Pentingnya Standar Hilirisasi Nikel, Tak Sekadar Produksi
North Maluku Sustainability Trip yang digelar Kadin Komite Bilateral UK dan Irlandia bersama Kadin Indonesia dan Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) di Weda, Maluku Utara (dok. Kadin)
  • Kadin Indonesia menekankan pentingnya standar keberlanjutan dalam hilirisasi nikel, agar keberhasilan industri tidak hanya diukur dari volume produksi tetapi juga tata kelola lingkungan dan sosial.
  • Standar ESG menjadi faktor utama penentu investasi global, dengan peningkatan investasi pengolahan mineral Indonesia mencapai 208 persen antara 2019 hingga 2022 berkat kepatuhan terhadap prinsip keberlanjutan.
  • Hilirisasi nikel mendorong pertumbuhan ekonomi Maluku Utara hingga 34 persen, namun pemerintah daerah menegaskan pentingnya pengawasan lingkungan dan keterlibatan masyarakat demi manfaat jangka panjang.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
2019 hingga 2022

Investasi di sektor pengolahan mineral Indonesia meningkat 208 persen, dari 3,56 miliar dolar AS menjadi 10,96 miliar dolar AS.

Tahun lalu

Ekonomi Maluku Utara tumbuh sekitar 34 persen secara tahunan berkat kontribusi sektor pengolahan nikel.

kuartal pertama 2026

Pertumbuhan ekonomi Maluku Utara mencapai 19,64 persen, tertinggi di Indonesia, didorong oleh industri hilirisasi nikel.

5 Juni 2026

Ahmad Fikri Susanto dari Kadin menegaskan pentingnya standar keberlanjutan dalam rantai pasok mineral kritis pada kegiatan North Maluku Sustainability Trip di Weda.

kini

Kadin Indonesia terus mendorong penerapan standar ideal dalam hilirisasi nikel nasional agar memenuhi prinsip keberlanjutan dan transparansi.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menyoroti pentingnya penerapan standar keberlanjutan dalam pengembangan hilirisasi nikel nasional, tidak hanya berfokus pada peningkatan volume produksi.
  • Who?
    Kadin Indonesia bersama Kadin Komite Bilateral UK dan Irlandia, Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), serta tokoh seperti Ahmad Fikri Susanto, Bernardino Vega, dan Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda.
  • Where?
    Kegiatan berlangsung di kawasan industri Weda, Maluku Utara, dalam rangkaian North Maluku Sustainability Trip yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan industri nikel.
  • When?
    Pernyataan dan kegiatan tersebut disampaikan pada Jumat, 5 Juni 2026, bersamaan dengan agenda kunjungan lapangan ke kawasan hilirisasi nikel di Maluku Utara.
  • Why?
    Dorongan muncul karena meningkatnya tuntutan pasar global terhadap rantai pasok mineral kritis yang berkelanjutan serta kebutuhan memastikan praktik pertambangan memenuhi standar lingkungan dan sosial internasional.
  • How?
    Kadin mendorong penyusunan standar ideal hilirisasi melalui kolaborasi antara pelaku usaha, investor, akademisi, dan pemerintah untuk memastikan tata kelola transparan serta penerapan prinsip ESG di sektor nikel nasional.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Kadin bilang kalau bikin barang dari nikel harus pakai aturan yang baik, bukan cuma bikin banyak. Banyak orang dari luar negeri mau lihat kalau lingkungan dijaga dan orang sekitar ikut senang. Di Maluku Utara, banyak pabrik nikel bantu ekonomi naik tinggi sekali. Tapi pemerintah mau semua tetap jaga alam dan bantu masyarakat juga.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Dorongan Kadin untuk menetapkan standar hilirisasi nikel yang menekankan keberlanjutan menunjukkan arah pembangunan industri yang semakin matang dan bertanggung jawab. Melalui kolaborasi antara pelaku usaha, investor, akademisi, dan pemerintah di Maluku Utara, upaya ini tidak hanya memperkuat kepercayaan global terhadap sektor mineral Indonesia, tetapi juga menghadirkan pertumbuhan ekonomi daerah yang nyata dan bernilai tambah bagi masyarakat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mendorong lahirnya standar ideal dalam pengembangan hilirisasi nikel nasional. Di tengah meningkatnya tuntutan pasar global terhadap rantai pasok mineral kritis yang berkelanjutan, keberhasilan hilirisasi dinilai tidak lagi hanya diukur dari besarnya volume produksi, tetapi juga dari kualitas tata kelola lingkungan, sosial, dan transparansi yang diterapkan.

Dorongan tersebut mengemuka dalam kegiatan North Maluku Sustainability Trip yang digelar Kadin Komite Bilateral UK dan Irlandia bersama Kadin Indonesia dan Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) di Weda, Maluku Utara. Kegiatan ini mempertemukan organisasi internasional, investor, akademisi, pelaku industri, hingga pembuat kebijakan untuk melihat langsung perkembangan ekosistem hilirisasi nikel di kawasan tersebut.

Indonesia sendiri saat ini tercatat sebagai pemilik cadangan nikel terbesar di dunia. Berdasarkan data terbaru U.S. Geological Survey (USGS), cadangan nikel Indonesia mencapai 62 juta ton atau sekitar 44,3 persen dari total cadangan global. Sebagian besar cadangan tersebut berada di Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Maluku Utara.

1. Hilirisasi dinilai harus dibarengi standar keberlanjutan

North Maluku Sustainability Trip yang digelar Kadin Komite Bilateral UK dan Irlandia bersama Kadin Indonesia dan Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) di Weda, Maluku Utara (dok. Kadin)

Perwakilan Kadin Komite Bilateral UK dan Irlandia sekaligus Direktur BYD Haka Auto, Ahmad Fikri Susanto, mengatakan, pasar global kini semakin memperhatikan aspek keberlanjutan dalam rantai pasok mineral kritis. Menurut dia, investor dan pembeli internasional tidak lagi hanya melihat kapasitas produksi suatu kawasan industri.

“Investor dan pembeli global kini ingin melihat lebih dari sekadar volume produksi. Mereka ingin memahami bagaimana rantai pasok dikelola, bagaimana lingkungan dijaga, dan bagaimana masyarakat turut merasakan manfaat pembangunan. Upaya membangun kepercayaan kini menjadi sama pentingnya dengan membangun kapasitas produksi itu sendiri,” ujar Fikri dalam keterangannya, Jumat (5/6/2026).

2. Standar keberlanjutan jadi faktor penting menentukan investasi dan pasar bagi industri mineral

Aktivitas tambang nikel PT Vale di Kabupaten Luwu Timur. (Dok. IDN Times/Didit Hariyadi)

Pandangan serupa disampaikan Vice Chair for International Affairs Kadin Indonesia, Bernardino Vega. Dia menilai, standar keberlanjutan kini menjadi faktor penting yang menentukan akses investasi maupun pasar bagi industri mineral di berbagai negara.

“Semakin banyak dana investasi yang menerapkan kriteria ESG menjadikan kepatuhan terhadap standar keberlanjutan sebagai salah satu prasyarat utama dalam pengambilan keputusan investasi. Respons pasar terhadap hal ini terlihat jelas. Investasi di sektor pengolahan mineral Indonesia meningkat 208 persen antara 2019 hingga 2022, dari 3,56 miliar doalr AS menjadi 10,96 miliar dolar AS," kata dia.

Bernardino mengatakan, peran Kadin Indonesia adalah memastikan pelaku usaha nasional memahami dengan jelas standar dan ekspektasi yang terus berkembang, serta membantu beradaptasi lebih awal. Sebab pada akhirnya, perusahaan yang mampu menunjukkan praktik pertambangan yang baik serta kinerja ESG kredibel dan dapat diverifikasi adalah yang akan memperoleh investasi jangka panjang dan akses yang lebih strategis ke pasar global.

3. Maluku Utara jadi contoh pertumbuhan ekonomi berbasis hilirisasi

Gubernur Maluku Utara dan Duta Posbakum Sherly Tjoanda. (IDN Times/Dini Suciatiningrum)

Sementara, Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda, mengatakan, hilirisasi telah memberikan kontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi daerah. Menurut dia, sektor pengolahan nikel menjadi salah satu motor utama pertumbuhan ekonomi Maluku Utara dalam beberapa tahun terakhir.

“Tahun lalu ekonomi Maluku Utara tumbuh sekitar 34 persen secara tahunan, sementara pada kuartal pertama 2026 mencapai 19,64 persen, tertinggi di Indonesia. Sebagian besar dari industri hilirisasi khususnya di nikel. Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa hilirisasi telah menciptakan nilai tambah yang nyata bagi daerah,” kata Sherly.

Meski demikian, Pemerintah Provinsi Maluku Utara menegaskan bahwa pertumbuhan industri harus tetap diiringi penguatan pengawasan lingkungan, transparansi, dan keterlibatan masyarakat dalam proses pembangunan.

Sherly menegaskan manfaat hilirisasi harus dapat dirasakan hingga generasi mendatang, bukan hanya menghasilkan eksploitasi sumber daya alam semata.

“Lima puluh tahun dari sekarang, Maluku Utara tidak boleh hanya dikenal karena nikel yang diambil dari tanahnya, tetapi karena nilai yang berhasil kita tinggalkan bagi masyarakatnya,” ujar dia.

Editorial Team

Related Article