- Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan: 0,45 miliar dolar AS
- Sektor pertambangan dan lainnya: 3,11 miliar dolar AS
- Sektor industri pengolahan: 20,59 miliar dolar AS
Ekspor Indonesia Melonjak 21,98 Persen, CPO dan Nikel Jadi Motor Utama

Nilai ekspor Indonesia pada April 2026 mencapai 25,3 miliar dolar AS, naik 21,98 persen dibanding tahun sebelumnya, didorong oleh lonjakan ekspor nonmigas terutama dari sektor industri pengolahan.
Lemak nabati, nikel, dan mesin menjadi penyumbang utama kenaikan ekspor nonmigas, sementara pertambangan serta pertanian masih mengalami kontraksi di tengah tren positif industri pengolahan.
China, Amerika Serikat, dan India tetap menjadi pasar utama ekspor nonmigas Indonesia dengan kontribusi 44,52 persen terhadap total ekspor nasional sepanjang Januari–April 2026.
Jakarta, IDN Times - Kinerja ekspor Indonesia kembali menunjukkan tren positif. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor nasional mencapai 25,3 miliar dolar Amerika Serikat pada April 2026, meningkat 21,98 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Pertumbuhan tersebut terutama ditopang oleh lonjakan ekspor nonmigas yang terus menguat di tengah dinamika perdagangan global. Sementara ekspor migas masih mengalami tekanan, produk hilirisasi mineral dan komoditas berbasis kelapa sawit menjadi penggerak utama pertumbuhan ekspor Indonesia.
“Pada April 2026, nilai ekspor mencapai 25,3 miliar dolar AS atau tumbuh 21,98 persen dibandingkan April 2025,” ujar Pudji dalam Konferensi Pers di Gedung BPS, Selasa (2/6/2026).
Berdasarkan data BPS, nilai ekspor migas tercatat sebesar 1,15 miliar dolar AS, turun 1,2 persen secara tahunan. Adapun ekspor nonmigas mencapai 24,15 miliar dolar AS, melonjak 23,36 persen dibandingkan April 2025.
1. Lemak nabati, nikel, dan mesin jadi penopang ekspor nonmigas

Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS, Pudji Ismartini, menjelaskan kenaikan ekspor April 2026 didominasi sektor nonmigas. Komoditas dengan kontribusi terbesar berasal dari kelompok lemak dan minyak hewani atau nabati (HS15) yang tumbuh 66,59 persen secara tahunan dan menyumbang 5,91 persen terhadap total kenaikan ekspor.
Selanjutnya, ekspor nikel dan barang daripadanya (HS75) meningkat 75,52 persen dengan andil 2,17 persen. Sementara mesin dan peralatan mekanis serta bagiannya (HS84) naik 57,90 persen dengan kontribusi 1,47 persen.
Secara sektoral, ekspor nonmigas terdiri atas:
Sektor industri pengolahan menjadi tulang punggung ekspor nasional setelah tumbuh 29,07 persen secara tahunan dan memberikan andil kenaikan sebesar 22,35 persen.
"Kenaikan ini terutama didorong oleh meningkatnya ekspor minyak kelapa sawit, produk olahan nikel, kimia dasar organik berbasis hasil pertanian, barang perhiasan dan barang berharga, serta semikonduktor dan komponen elektronik lainnya," ujar Pudji.
Di sisi lain, ekspor sektor pertambangan dan sektor pertanian masih mengalami kontraksi. Ekspor pertambangan turun 1,17 persen, sedangkan sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan turun 5,53 persen dibandingkan April tahun lalu.
2. Besi baja dan CPO masih menjadi andalan ekspor Indonesia

BPS mencatat komoditas besi dan baja, minyak sawit mentah (CPO) beserta turunannya, serta batu bara masih mendominasi ekspor nonmigas Indonesia sepanjang Januari–April 2026.
Ketiga komoditas tersebut menyumbang sekitar 28,30 persen terhadap total ekspor nonmigas nasional.
Secara kumulatif, ekspor besi dan baja meningkat 2,54 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara ekspor CPO dan produk turunannya melonjak 16,59 persen seiring membaiknya permintaan global.
Berbeda dengan dua komoditas tersebut, ekspor batu bara masih menghadapi tekanan. Nilainya tercatat turun 7,27 persen secara tahunan pada empat bulan pertama 2026.
3. China, Amerika Serikat, dan India jadi pasar utama ekspor nonmigas

China, Amerika Serikat, dan India tetap menjadi tujuan ekspor terbesar Indonesia pada Januari–April 2026. Ketiga negara tersebut menyerap sekitar 44,52 persen total ekspor nonmigas nasional.
Nilai ekspor nonmigas ke China mencapai 22,76 miliar dolar AS. Komoditas utama yang dikirim adalah besi dan baja (HS72) dengan pangsa 25,94 persen. Ekspor komoditas tersebut ke China naik 0,7 persen secara kumulatif.
Sementara itu, nilai ekspor nonmigas ke Amerika Serikat mencapai 10,17 miliar dolar AS. Produk unggulannya adalah mesin dan perlengkapan elektrik beserta bagiannya (HS85) dengan pangsa 16,21 persen. Nilai ekspor komoditas ini meningkat 3,28 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
"Adapun nilai ekspor nonmigas ke India tercatat sebesar 6,14 miliar dolar AS. Komoditas utama yang dikirim ke negara tersebut adalah bahan bakar mineral (HS27) dengan pangsa 32,78 persen, meski mengalami penurunan 1,37 persen secara kumulatif," tegasnya.
Kinerja ekspor yang tetap tumbuh pada awal 2026 menunjukkan daya saing produk unggulan Indonesia masih terjaga. Permintaan global terhadap produk hilirisasi mineral, nikel, serta produk berbasis kelapa sawit menjadi faktor utama yang menopang pertumbuhan tersebut.
Secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia selama Januari–April 2026 mencapai 92,15 miliar dolar AS, meningkat 5,48 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Dari total tersebut, ekspor migas tercatat 4,41 miliar dolar AS atau turun 8,3 persen. Sementara ekspor nonmigas mencapai 87,74 miliar dolar AS, tumbuh 6,28 persen secara tahunan.


















