Kelas Menengah Menyusut, Ini 5 Sektor Bisnis yang Justru Tumbuh

- Jumlah kelas menengah Indonesia turun dari 57,3 juta orang pada 2019 menjadi sekitar 46,7 juta pada 2025, sementara kelompok menuju kelas menengah bertambah.
- Konsumen tetap berbelanja, tetapi lebih selektif pada harga, manfaat, dan kebutuhan; sektor makanan terjangkau serta kebutuhan harian berharga kompetitif memiliki peluang.
- Peluang juga terbuka bagi barang bekas, jasa perbaikan, dan bisnis digital penghemat biaya, seiring konsumen dan UMKM mencari pilihan lebih efisien.
Jumlah kelas menengah Indonesia dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan tren penurunan. Data yang diolah dari Susenas BPS menunjukkan jumlah kelas menengah turun menjadi sekitar 46,7 juta orang pada 2025, dari 57,3 juta pada 2019. Di saat yang sama, kelompok aspiring middle class atau masyarakat yang sedang menuju kelas menengah justru semakin besar.
Kondisi tersebut bukan berarti masyarakat berhenti berbelanja. Konsumen justru semakin selektif dalam menentukan barang dan jasa yang dianggap layak dibeli, terutama ketika pendapatan harus berhadapan dengan biaya hidup yang terus berjalan. Pola ini membuat sejumlah sektor bisnis memiliki peluang karena menawarkan harga terjangkau, manfaat jelas, atau solusi yang dianggap lebih bernilai.
1. Bisnis makanan dan minuman harga terjangkau

ilustrasi bisnis franchise (pexels.com/James Frid) Bisnis makanan dan minuman tetap memiliki pasar yang besar karena makanan merupakan kebutuhan yang sulit ditunda. Namun, ketika daya beli semakin diperhitungkan, konsumen cenderung mencari produk yang memberikan kombinasi harga, porsi, rasa, dan kenyamanan yang dianggap sepadan. Kondisi ini membuka ruang bagi bisnis F&B yang mampu menawarkan konsep sederhana tetapi tetap memiliki nilai yang jelas.
Peluangnya tidak selalu berada pada restoran dengan harga premium. Warung modern, makanan siap saji, katering harian, minuman dengan harga terjangkau, hingga konsep value meal dapat menjadi pilihan yang lebih relevan bagi konsumen yang sedang mengatur pengeluaran. Bisnis seperti ini juga memiliki peluang berkembang jika mampu menjaga kualitas sekaligus menekan biaya operasional.
2. Produk kebutuhan sehari-hari dengan harga kompetitif

ilustrasi pria belanja (pexels.com/Drazen Zigic) Ketika konsumen mulai berhati-hati mengatur keuangan, kebutuhan sehari-hari biasanya tetap menjadi prioritas. Produk seperti bahan makanan, perlengkapan rumah tangga, kebutuhan kebersihan, dan barang konsumsi dengan harga kompetitif tetap memiliki pasar karena dibutuhkan secara rutin. Konsumen mungkin mengurangi pembelian barang tertentu, tetapi kebutuhan dasar tetap harus dipenuhi.
Peluang bisnis kemudian muncul pada produk yang menawarkan harga ekonomis tanpa mengorbankan fungsi utama. Toko kelontong modern, minimarket lokal, produk private label, hingga bisnis grosir skala kecil dapat memanfaatkan perubahan tersebut. Kuncinya bukan sekadar menjadi yang paling murah, tetapi mampu membuat konsumen merasa mendapatkan manfaat yang sepadan dengan uang yang dikeluarkan.
3. Bisnis barang bekas dan alternatif lebih murah

ilustrasi pria belanja celana (pexels.com/Dian Ramadhan) Tekanan daya beli juga dapat mendorong konsumen mencari alternatif sebelum membeli barang baru. Karena itu, bisnis barang bekas atau preloved berpotensi mendapatkan perhatian, terutama untuk kategori seperti pakaian, elektronik, furnitur, hingga perlengkapan hobi. Produk yang masih layak pakai dapat memberikan akses terhadap barang dengan harga yang lebih rendah dibanding membeli baru.
Model bisnis ini juga semakin mudah dijalankan melalui platform digital dan media sosial. Penjual dapat membangun kepercayaan dengan memberikan informasi kondisi barang secara transparan, foto yang jelas, serta harga yang masuk akal. Jika dikelola dengan baik, pasar barang bekas bukan hanya soal mencari barang murah, tetapi juga menjadi pilihan konsumsi yang lebih rasional.
4. Jasa perbaikan dan perawatan

ilustrasi servis motor (pexels.com/andrea) Saat membeli barang baru terasa semakin mahal, memperbaiki barang lama bisa menjadi pilihan yang lebih ekonomis. Kondisi ini menciptakan peluang bagi bisnis jasa seperti servis elektronik, reparasi sepatu dan tas, bengkel kendaraan, hingga perawatan peralatan rumah tangga. Konsumen yang sebelumnya mudah mengganti barang bisa mulai mempertimbangkan biaya perbaikan terlebih dahulu.
Peluang tersebut semakin menarik bagi usaha yang mampu memberikan harga transparan dan hasil yang dapat dipercaya. Pelanggan biasanya tidak hanya mencari jasa murah, tetapi juga ingin mengetahui apakah barangnya memang masih layak diperbaiki. Artinya, bisnis reparasi dapat membangun keunggulan melalui keahlian, kecepatan pelayanan, dan jaminan pekerjaan.
5. Bisnis digital yang membantu konsumen berhemat

ilustrasi edit video (pexels.com/Caio) Perubahan perilaku konsumsi juga membuka peluang bagi bisnis digital yang membantu masyarakat mendapatkan harga atau layanan yang lebih efisien. Contohnya platform pembanding harga, layanan promo, aplikasi pengelolaan keuangan, hingga bisnis yang membantu UMKM menjual produk dengan biaya lebih rendah. Ketika konsumen semakin sensitif terhadap harga, informasi mengenai pilihan terbaik menjadi semakin bernilai.
Menariknya, kebutuhan tersebut tidak hanya datang dari konsumen. Pelaku UMKM juga membutuhkan teknologi untuk menekan biaya, menjangkau pelanggan, dan mengelola operasional secara lebih efisien. Karena itu, bisnis digital yang benar-benar memberikan penghematan atau meningkatkan produktivitas memiliki peluang untuk tetap relevan di tengah perubahan daya beli.
Penyusutan kelas menengah memang menjadi tantangan bagi banyak bisnis karena kelompok ini merupakan salah satu penopang utama konsumsi domestik. Pemerintah sendiri menekankan pentingnya peran kelas menengah karena konsumsi rumah tangga menyumbang sekitar 54–55 persen terhadap PDB Indonesia.
Namun, perubahan jumlah kelas menengah tidak otomatis berarti seluruh aktivitas bisnis melemah. Konsumen tetap berbelanja, tetapi semakin mempertimbangkan harga, manfaat, dan kebutuhan sebelum mengeluarkan uang. Bagi pelaku usaha, perubahan tersebut justru bisa menjadi peluang untuk menciptakan produk dan layanan yang lebih relevan dengan kondisi konsumen saat ini.






















![[QUIZ] Dari MBTI, Ini Ide Bisnis yang Cocok untuk Kepribadian Introvert](https://image.idntimes.com/post/20240320/clay-banks-ox6sw103ktm-unsplash-474ffad107d58aa54aa53e1b1d562a46.jpg)