Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kemasan Makanan Ringan di Jepang Jadi Hitam-Putih Imbas Konflik Timteng
Bendera Jepang (unsplash.com/Alexander Grigoryev)
  • Pasokan nafta Jepang terganggu akibat konflik di Timur Tengah yang menghambat pelayaran di Selat Hormuz, memicu lonjakan harga bahan baku hingga 79,4 persen pada April 2026.
  • Calbee mengubah kemasan 14 produk utama menjadi hitam-putih untuk menghemat tinta cetak, sementara produsen lain menyesuaikan harga dan desain demi menjaga kelancaran produksi.
  • Pemerintah Jepang menambah impor nafta dari Amerika Serikat dan negara lain serta memastikan cadangan domestik cukup hingga akhir tahun guna menjaga stabilitas industri.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Perusahaan makanan ringan asal Jepang, Calbee Inc., akan mengubah desain kemasan pada 14 produk utamanya menjadi warna hitam-putih mulai akhir Mei 2026. Keputusan ini diambil untuk menyiasati terbatasnya pasokan nafta sebagai bahan baku pembuat tinta cetak dan plastik, akibat konflik di kawasan Timur Tengah (Timteng).

Pemerintah Jepang memastikan persediaan nafta di dalam negeri secara umum masih aman. Namun, sejumlah pelaku industri makanan mulai merasakan hambatan ketersediaan barang di lapangan, sehingga mereka mengambil langkah penyesuaian seperti menyederhanakan warna kemasan hingga menaikkan harga jual produk.

1. Pasokan nafta Jepang terhambat akibat konflik Timur Tengah

Terganggunya pasokan nafta berawal dari konflik di Timur Tengah yang menghambat pelayaran kapal pengangkut barang di Selat Hormuz. Lebih dari 93 persen pengiriman minyak mentah ke Jepang pada 2025 melewati jalur tersebut. Hal ini sangat berdampak pada Jepang, mengingat sekitar 40 persen impor naftanya berasal dari kawasan tersebut.

"Kami sudah mencoba mencari rute lain untuk mengirim barang selain lewat Selat Hormuz, seperti dari Pelabuhan Yanbu di Arab Saudi dan Pelabuhan Fujairah di Uni Emirat Arab," kata Pejabat Hubungan Masyarakat untuk Urusan Timur Tengah di Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri (METI) Jepang, Narumi Hosokawa, dilansir The New York Times.

Sebagai langkah antisipasi, Jepang menambah pembelian nafta dari negara lain, termasuk Amerika Serikat, Brasil, dan beberapa negara Afrika. Di sisi lain, industri juga dihadapkan pada lonjakan harga bahan baku global. Harga grosir nafta di Jepang tercatat naik hingga 79,4 persen pada April 2026, yang turut menambah beban biaya operasional pabrik pembuat plastik dan tinta cetak.

2. Penyesuaian kemasan dan harga oleh produsen makanan

Menghadapi keterbatasan bahan baku tinta, Calbee yang menguasai sekitar 70 persen pasar keripik kentang di Jepang, menjadi perusahaan pertama yang menerapkan penyesuaian desain kemasan secara massal.

"Kami kesulitan mendapatkan pasokan nafta secara optimal, sehingga kami mengubah kemasan menjadi hitam-putih," kata juru bicara Calbee.

Pihak Calbee memastikan perubahan warna kemasan ini dilakukan semata-mata demi menjaga kelancaran produksi, tanpa mengurangi kualitas maupun rasa makanan. Langkah penyederhanaan kemasan serupa juga tengah dikaji oleh Itoham Yonekyu Holdings Inc. untuk produk daging olahannya.

Di tempat lain, penyesuaian dilakukan melalui kenaikan harga jual. Mizkan Holdings Co. akan menaikkan harga makanan "natto" mulai Juni 2026, sementara produsen roti Yamazaki Baking Co. dan Pasco Shikishima Corp. akan melakukan hal yang sama mulai Juli.

3. Langkah pemerintah atasi kendala pengiriman logistik

Untuk meredakan kekhawatiran masyarakat dan pelaku industri, pemerintah Jepang terus memantau pergerakan distribusi pasokan bahan baku di lapangan.

"Kami belum menerima laporan mengenai masalah langsung pada pasokan tinta cetak atau nafta. Kami yakin jumlah nafta yang dibutuhkan oleh Jepang secara keseluruhan masih mencukupi," kata Deputi Kepala Sekretaris Kabinet Jepang, Kei Sato, dalam konferensi pers di Tokyo.

Guna mengamankan cadangan domestik, pemerintah telah menambah volume impor nafta dari luar wilayah Timur Tengah menjadi 900 ribu kiloliter pada April 2026, di mana 300 ribu kiloliter di antaranya didatangkan dari Amerika Serikat.

Dalam rapat kabinet pada 21 Mei 2026, Perdana Menteri Sanae Takaichi memastikan persediaan produk turunan minyak bumi di Jepang cukup hingga akhir tahun. Pemerintah juga telah menggelar delapan kali rapat khusus dan bersiap menggunakan cadangan minyak negara. Meski ketersediaan barang secara angka dinilai aman, para pengamat menilai tantangan sebenarnya saat ini adalah memulihkan kelancaran jalur pengiriman barang yang masih terhambat.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article