Jepang dan Korsel Sepakati Pakta Keamanan Energi Baru
- Jepang dan Korsel sepakat membentuk kerangka kerja sama energi baru untuk memperkuat rantai pasokan, termasuk cadangan minyak strategis dan komitmen saling menyuplai energi saat darurat.
- KTT di Andong menandai pemulihan hubungan Tokyo-Seoul melalui diplomasi kampung halaman, memperkuat kemitraan setelah sengketa historis dan menegaskan peran penting keduanya di kawasan Indo-Pasifik.
- Kedua pemimpin juga menegaskan kolaborasi dalam keamanan ekonomi, menghadapi ancaman Korea Utara bersama AS, serta memperluas kerja sama di bidang kecerdasan buatan dan teknologi masa depan.
Jakarta, IDN Times - Perdana Menteri (PM) Jepang, Sanae Takaichi, dan Presiden Korea Selatan (Korsel), Lee Jae Myung, sepakat untuk meluncurkan kerangka kerja sama energi baru, guna memperkuat rantai pasokan dan ketahanan kawasan Indo-Pasifik.
Kesepakatan itu terjadi saat kedua pemimpin menggelar pertemuan puncak (KTT) pada Selasa (19/5/2026) di Andong, kota kelahiran presiden Korsel.
Langkah ini diambil menyusul meningkatnya ketegangan di Timur Tengah akibat konflik Israel-Amerika Serikat (AS) dengan Iran yang melumpuhkan jalur pelayaran Selat Hormuz. Mengingat kedua negara sangat bergantung pada impor minyak dari wilayah tersebut, pentingnya penguatan hubungan bilateral kini menjadi prioritas utama.
1. Apa saja kesepakatan energi Jepang-Korsel?

Kyodo News melaporkan, KTT yang berlangsung selama 1,5 jam tersebut menyepakati beberapa poin, termasuk dialog kebijakan energi. Korsel-Jepang sepakat membentuk ruang diskusi untuk menyusun strategi taktis pengamanan pasokan energi.
Kedua negara juga fokus pada pemanfaatan cadangan minyak strategis kawasan dan komitmen saling menyuplai minyak mentah, produk minyak bumi, serta gas alam cair (LNG) jika terjadi kondisi darurat. Korsel dipastikan ikut serta dalam kerangka kerja senilai 10 miliar dolar AS (Rp176,4 triliun) yang dipimpin oleh Negeri Sakura, guna membantu negara-negara Asia mengamankan pasokan minyak.
Tokyo-Seoul juga berkomitmen pada mineral kritis, di mana mereka akan mengamankan rantai pasokan mineral penting yang dibutuhkan industri teknologi dan masa depan.
2. Diplomasi kampung halaman dan stabilitas kawasan
KTT ini menandai momen penting, di mana kedua pemimpin saling mengunjungi kota kelahiran masing-masing dalam waktu empat bulan. Ini setelah sebelumnya bertemu di Nara, Jepang, pada Januari lalu.
Pemulihan hubungan ini melanjutkan tren positif yang diinisiasi sejak 2023, setelah sempat berada di titik terendah akibat sengketa historis masa perang. Sebelumnya, kedua negara sempat berselisih akibat kompensasi atas dugaan kerja paksa selama pemerintahan kolonial Jepang di Semenanjung Korea dari 1910-1945, serta masalah-masalah historis dan teritorial lainnya.
"Fakta bahwa kita telah mengunjungi kampung halaman masing-masing hanya dalam waktu empat bulan adalah kejadian langka di panggung global. Ini membuktikan betapa pentingnya kita satu sama lain sebagai mitra," kata Presiden Lee, dikutip dari NHK News.
Sementara itu, PM Takaichi menegaskan bahwa aliansi Tokyo-Seoul melampaui isu ekonomi. Menurutnya, kedua negara harus memainkan peran sentral sebagai penopang utama dalam menjaga stabilitas di kawasan Indo-Pasifik.
3. Takaichi dan Lee juga menegaskan kesepakatan keamanan ekonomi dan AI
Selain sektor enegi, Takaichi dan Lee juga menegaskan kembali komitmen keamanan mereka. Bersama sekutu utama mereka, Washington, kedua negara sepakat untuk mempererat koordinasi dalam menghadapi ancaman rudal dan nuklir Korea Utara.
Dilansir Asahi Shimbun, pihaknya juga akan bekerja sama memperluas kolaborasi di sektor kecerdasan buatan (AI) dan keamanan ekonomi.
"Kami menegaskan bahwa kami akan mempromosikan kerja sama yang saling menguntungkan, sehingga Jepang dan Korsel dapat menjadi kuat dan makmur bersama," kata Takaichi, seraya menambahkan bahwa ia bermaksud untuk memajukan diskusi di antara para pejabat terkait.
Pertemuan bilateral para pemimpin Asia Timur ini akan terus berlanjut melalui praktik kunjungan timbal balik, di mana Lee dijadwalkan akan mengunjungi Jepang pada agenda berikutnya.
















