Kenapa Indonesia Investment Authority Disingkat INA, Bukan IIA?

- INA melibatkan sovereign wealth fund asing sejak awal pembentukan, termasuk JBIC, US DFC, dan ADIA.
- Presiden Jokowi meminta singkatan tetap INA untuk mencerminkan identitas Indonesia di tingkat internasional.
- Tim INA mengalami kendala saat registrasi nama karena singkatan INA telah digunakan oleh organisasi lain di Eropa.
Jakarta, IDN Times - Ada cerita tersendiri di balik penamaan Indonesia Investment Authority (INA) sebagai lembaga pengelola investasi Indonesia. Sebab, semestinya disingkat menjadi IIA.
Hal itu disampaikan oleh Chief Executive Officer (CEO) INA Ridha D.M Wirakusumah, yang mengungkap proses penamaan INA melibatkan diskusi panjang sejak lembaga tersebut mulai dibentuk.
"Kok namanya INA sih? Kan kalau Indonesia Investment Authority kan harusnya IIA tuh," ujarnya dalam Program Real Talk bersama Editor In Chief IDN Times Uni Lubis, dikutip Jumat (2/1/2026).
1. Dibantu sovereign wealth fund asing sejak awal

Ridha menjelaskan, pada fase awal pembentukan, tim pendiri INA banyak berdiskusi dan mendapat masukan dari sejumlah sovereign wealth fund (SWF) dan institusi asing. Beberapa di antaranyaJapan Bank for International Cooperation (JBIC), U.S. International Development Finance Corporation (US DFC), serta Abu Dhabi Investment Authority (ADIA).
Menurut Ridha, ADIA menjadi salah satu pihak yang paling intens mendampingi proses tersebut. Dari situ, tim pendiri kemudian mengadopsi pola penamaan yang lazim digunakan sovereign wealth fund global.
Dia menyebut, praktik penamaan seperti Abu Dhabi Investment Authority (ADIA), Qatar Investment Authority (QIA), hingga Kuwait Investment Authority menjadi rujukan. Dari sanalah kemudian disepakati nama Indonesia Investment Authority.
"Ya udah Indonesia Investment Authority aja deh gitu kasarnya. Ya udah dapet tuh jadinya Indonesia Investment Authority," ujar Ridha.
2. Presiden minta singkatan harus tetap INA

Ridha menuturkan, saat nama tersebut disampaikan kepada Joko "Jokowi" Widodo yang kala itu masih menjabat presiden RI, tidak mempermasalahkan penamaan lembaga tersebut. Namun, Jokowi menegaskan agar akronim yang digunakan tetap INA.
"Waktu dibawa ke Pak Jokowi, Pak Jokowi bilang, 'Ya enggak apa-apa lah, pokoknya singkatannya harus INA'," ungkap Ridha.
Singkatan itu dinilai sejalan dengan identitas Indonesia di tingkat internasional, termasuk yang lazim digunakan dalam berbagai ajang global seperti olahraga dan forum internasional.
3. Sempat temui kendala saat registrasi nama

Dalam proses selanjutnya, Ridha menyampaikan, tim INA sempat melakukan upaya pendaftaran dan penelusuran nama secara global. Dari hasil pencarian tersebut, ditemukan singkatan INA juga telah digunakan oleh organisasi lain di Eropa.
Namun, organisasi tersebut bukan bergerak di sektor investasi, melainkan menggunakan kepanjangan International Nurse Association. Kendati demikian, temuan itu tidak menjadi penghalang karena bidang kegiatannya berbeda.
"Tapi kita bilang, paling enggak, paling enggak sama-sama mulianya lah tujuannya gitu," katanya.


















