Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Saham Tambang Melejit Didorong Resiko Geopolitik dan Kebutuhan AI

Saham Tambang Melejit Didorong Resiko Geopolitik dan Kebutuhan AI
Tambang Emas Grasberg (dok. Orobel)
Intinya Sih
  • Risiko geopolitik global kini justru mendorong kenaikan saham tambang, karena konflik dan sanksi memperketat pasokan logam serta meningkatkan nilai strategis sumber daya mineral.
  • Lonjakan investasi di sektor AI menciptakan permintaan besar terhadap logam seperti tembaga dan aluminium untuk mendukung pembangunan pusat data, jaringan listrik, dan infrastruktur teknologi.
  • Kombinasi faktor geopolitik dan kebutuhan AI menjadikan sektor pertambangan sebagai infrastruktur strategis jangka panjang yang menopang ekonomi digital dan keamanan energi global.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times — Saham-saham sektor pertambangan kini menjadi sorotan pasar global, didorong oleh meningkatnya risiko geopolitik dan lonjakan permintaan dari industri akal imitasi (AI). Untuk pertama kalinya dalam setidaknya tiga dekade, ketegangan geopolitik justru memicu kenaikan saham tambang, bukan aksi jual.

Perubahan ini menandai pergeseran besar dalam cara investor memandang sektor pertambangan. Jika sebelumnya saham tambang identik dengan taruhan pada pertumbuhan industri global, kini sektor tersebut dinilai sebagai aset strategis yang terkait dengan keamanan, kontrol pasokan, dan kekuatan negara.

Table of Content

1. Geopolitik kini picu kenaikan, bukan penurunan

1. Geopolitik kini picu kenaikan, bukan penurunan

Saham Tambang Melejit Didorong Resiko Geopolitik dan Kebutuhan AI
ilustrasi geopolitik (pexels.com/SUZY Hazelwood)

Analis Jefferies menilai hubungan lama antara risiko geopolitik dan pelemahan saham tambang telah berubah. Selama bertahun-tahun, perang dagang, konflik militer, dan sanksi biasanya memperketat kondisi keuangan, memperlambat permintaan dari negara berkembang, serta menunda belanja modal, yang berdampak negatif pada konsumsi logam dan margin perusahaan tambang.

Namun dalam setahun terakhir, pola tersebut terbalik. Perang di Ukraina dan kebijakan tarif Gedung Putih mengganggu arus logam global, sementara ketegangan di Timur Tengah meningkatkan risiko terhadap energi dan jalur pelayaran. Perang dagang berkelanjutan antara AS dan China juga memicu pembatasan ekspor mineral kritis dan teknologi industri.

Dilansir Yahoo Finance, dalam enam bulan terakhir, investasi di indeks S&P 500 hanya mencatat imbal hasil sekitar 8 persen. Sebaliknya, sektor tambang AS (XME) melonjak 48 persen, sementara sektor tambang global (PICK) naik 57 persen dalam periode yang sama.

“Risiko geopolitik tidak lagi menandakan penurunan konsumsi dan justru cenderung menandakan pengetatan pasokan, kontrol ekspor, sanksi, dan penimbunan persediaan,” tulis Christopher LaFemina dan Giovanni Holmes dari Jefferies dalam catatan kepada klien.

Mereka menambahkan. kondisi tersebut “meningkatkan premi kelangkaan dan secara efektif menurunkan biaya modal perusahaan tambang.”

Pasokan baru juga terhambat oleh kebijakan lingkungan yang lebih ketat di negara-negara Barat serta meningkatnya nasionalisme sumber daya di Amerika Latin dan Afrika, termasuk Republik Demokratik Kongo yang menguasai sekitar tiga perempat produksi kobalt global.

2. Dorongan ganda dari ledakan AI

Saham Tambang Melejit Didorong Resiko Geopolitik dan Kebutuhan AI
ilustrasi AI (vecteezy.com/Muhammad Nur)

Selain faktor geopolitik, saham tambang juga diuntungkan oleh lonjakan investasi di sektor AI. Terjadi rotasi investasi yang disebut sebagai "AI scare trade," di mana investor mengalihkan dana dari aset lunak seperti perangkat lunak, real estate, dan jasa keuangan ke sektor energi, material, dan produksi fisik.

Ulrike Hoffman-Burchardi dari UBS Wealth Management mengatakan, banknya mengalihkan alokasi portofolio dari perangkat lunak ke sektor pertambangan, pembangkit listrik, dan manufaktur alat berat.

Pembangunan infrastruktur AI turut mendorong lonjakan permintaan logam seperti tembaga, baja, aluminium, hingga emas. Produsen berlomba memproduksi rak pendingin pusat data, chip GPU, transformator listrik, dan komponen lain yang bergantung pada logam.

Strategis Goldman Sachs dalam catatan kepada klien menyoroti pentingnya sektor padat aset yang tidak mudah usang secara teknologi, atau disebut sebagai bisnis HALO.

“Pasar memberi penghargaan pada kapasitas, jaringan, infrastruktur, dan kompleksitas teknik — aset yang mahal untuk direplikasi dan lebih kecil terpapar risiko usang secara teknologi,” tulis strategis Goldman Sachs.

3. Tambang jadi infrastruktur strategis jangka panjang

Saham Tambang Melejit Didorong Resiko Geopolitik dan Kebutuhan AI
Tambang Pueblo Viejo, salah satu tambang terbesar di dunia. (dok. Pulitzer Center)

Analis menilai kombinasi permintaan AI dan risiko geopolitik menciptakan dasar kuat bagi konsumsi logam, bahkan ketika pertumbuhan global masih tidak merata.

Jika perusahaan perangkat lunak dapat berkembang tanpa banyak input fisik, sistem pendukung AI seperti pembangkit listrik, transmisi, pendinginan, dan keamanan tetap bergantung pada material fisik dalam jumlah besar.

“Jaringan listrik, pusat data AI, pertahanan, dan infrastruktur digital semuanya bergantung pada tembaga, aluminium, dan logam lainnya,” tegas Jefferies.

Dengan demikian, sektor pertambangan kini dipandang sebagai infrastruktur strategis jangka panjang yang tertanam dalam rantai pasok pertahanan, transisi energi, ekspansi jaringan listrik, serta tulang punggung fisik ekonomi AI.

FAQ soal imbas geopolitik dan AI ke saham tambang

Mengapa saham tambang naik di tengah risiko geopolitik?

Karena konflik kini dipandang memperketat pasokan logam dan meningkatkan premi kelangkaan.

Apa peran AI dalam kenaikan saham tambang?

Pembangunan infrastruktur AI meningkatkan permintaan logam seperti tembaga dan aluminium.

Berapa kenaikan sektor tambang dalam enam bulan terakhir?

Sektor tambang AS naik 48 persen dan global 57 persen.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Jujuk Ernawati
EditorJujuk Ernawati
Follow Us

Latest in Business

See More