Kenapa Orang Beli Barang Mahal padahal Ada yang Lebih Murah?

- Konsumsi mencolok adalah pembelian barang atau jasa mahal untuk menunjukkan kekayaan atau status sosial.
- Istilah ini diperkenalkan Thorstein Veblen melalui buku The Theory of the Leisure Class pada 1889.
- Ponsel mewah dan supercar edisi terbatas menjadi contoh barang dengan alternatif yang memiliki fungsi serupa dan harga lebih rendah.
Jakarta, IDN Times - Pernah melihat orang membeli barang yang harganya jauh lebih mahal, padahal ada produk lain dengan fungsi serupa dan harga lebih murah? Perilaku seperti itu dikenal sebagai konsumsi mencolok (conspicuous consumption).
Dilansir Investopedia, konsumsi mencolok adalah pembelian barang atau jasa untuk menunjukkan kekayaan atau status sosial. Istilah ini diperkenalkan ekonom dan sosiolog Amerika Serikat Thorstein Veblen melalui bukunya The Theory of the Leisure Class pada 1889.
Ponsel pintar kelas atas, mobil mewah, hingga barang lain yang memiliki alternatif dengan fungsi serupa dan harga lebih rendah dapat menjadi contoh konsumsi mencolok.
1. Pengertian konsumsi mencolok

ilustrasi barang mewah (unsplash.com/Laura Chouette) Konsumsi mencolok merujuk pada pembelian barang atau jasa yang membuat kekayaan dan status sosial seseorang terlihat oleh orang lain. Barang yang dibeli biasanya berupa produk mewah yang mudah dikenali sebagai barang mahal atau kelas atas. Contohnya bisa ditemukan pada teknologi, mobil, maupun pakaian.
Meski sering dikaitkan dengan orang kaya, konsumsi mencolok sebenarnya dapat dilakukan oleh siapa pun dari berbagai kelas ekonomi.
Veblen memperkenalkan istilah tersebut dalam The Theory of the Leisure Class pada 1889. Konsumsi ini berkembang seiring pertumbuhan kelas menengah pada abad ke-19 dan ke-20. Saat itu, kelas menengah memiliki lebih banyak pendapatan yang bisa dibelanjakan untuk barang dan jasa yang sebenarnya bukan kebutuhan utama.
2. Contoh-contoh konsumsi mencolok

Ferrari Luncurkan 849 Testarossa, Supercar Hybrid Penerus SF90 Stradale (dok. Ferrari) Konsumsi mencolok dapat dilihat dari pembelian barang yang memang dirancang untuk menjadi simbol kekayaan. Misalnya pakaian dengan label merek mewah, perangkat dan mainan berteknologi tinggi, serta kendaraan.
Ponsel pintar dan teknologi
Ponsel pintar kelas atas sudah banyak tersedia dari berbagai produsen besar. Namun, ada pula ponsel yang dibuat khusus sebagai barang mewah. Pada dasarnya, ponsel pintar memiliki fungsi komunikasi yang sama, ditambah perangkat lunak dan aplikasi yang memberikan berbagai fungsi lainnya.
Namun, sejumlah merek mewah seperti Bentley dan Lamborghini juga memiliki ponsel pintar rancangan khusus. Perangkat keras di dalamnya hampir selalu merupakan yang terbaik. Sementara itu, pembeda utamanya sering terdapat pada bagian luar, seperti casing yang dibuat dari kulit, titanium, atau bahkan granit.
Salah satu contohnya adalah Black Diamond iPhone. Ponsel tersebut dibanderol 15 juta dlar AS, dan merupakan iPhone 5 kelas atas yang dilapisi emas, dihiasi permata, serta dilengkapi berlian hitam.
Supercar edisi terbatas juga menjadi contoh konsumsi mencolok. Mobil tersebut dibuat dengan fokus pada kecepatan dan tampilan, tetapi memiliki kegunaan praktis yang terbatas.
Perusahaan seperti McLaren dan Bugatti memproduksinya dalam jumlah kecil. Harga satu unitnya pun sering kali mencapai lebih dari 1 juta dolar AS.
Di sisi lain, kecepatan maksimal supercar umumnya tidak bisa dicapai dengan aman atau secara legal di sebagian besar jalan. Artinya, kemampuan penuh mobil tersebut jarang digunakan, termasuk oleh pemiliknya.
3. Kenapa membeli barang semahal itu?

ilustrasi belanja barang mewah (pexels.com/Paweł L.) Membeli barang seperti itu memang dapat membuat seseorang memiliki perangkat terbaik yang tersedia. Namun, pasar juga menyediakan versi yang jauh lebih murah dengan fungsi yang sama.
Pembelian produk tersebut terutama bertujuan membuat orang membicarakan barang yang dimiliki sekaligus menunjukkan bahwa pemiliknya mampu membeli barang dengan harga yang sangat tinggi.




















