Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kesenjangan Kekayaan Singapura makin Lebar, Mobilitas Sosial Melambat
ilustrasi Singapura (unsplash.com/Florian Wehde)
  • Singapura mencatat koefisien Gini kekayaan 0,55, lebih tinggi daripada ketimpangan pendapatan pascapajak dan transfer sebesar 0,38, menandakan aset rumah tangga terkonsentrasi lebih lebar.
  • Properti menjadi komponen kekayaan terbesar rumah tangga pada 2023; ekuitas rumah menyumbang lebih dari separuh kekayaan rata-rata, termasuk tetap positif pada 20% kelompok terbawah.
  • Mobilitas sosial relatif melambat: proporsi anak dari kelompok pendapatan terbawah yang tetap di kelompok itu meningkat, sementara pemerintah mengandalkan kebijakan perumahan dan CPF untuk meredam kesenjangan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Singapura dikenal sebagai salah satu negara dengan perekonomian paling maju di Asia. Namun, di balik tingginya pendapatan dan kuatnya ekonomi, ternyata masih ada persoalan soal kesenjangan kekayaan yang perlu diperhatikan.

Pemerintah Singapura untuk pertama kalinya merilis ukuran ketimpangan kekayaan (wealth inequality) dan menemukan bahwa kesenjangannya lebih tinggi dibandingkan ketimpangan pendapatan (income inequality). Kondisi ini juga berjalan beriringan dengan melambatnya mobilitas sosial antargenerasi.

Buat kamu yang melihat Singapura sebagai negara dengan peluang ekonomi yang besar, data ini menunjukkan bahwa kesempatan untuk naik kelas secara ekonomi ternyata gak selalu sama bagi setiap keluarga. Lantas, seperti apa sebenarnya kondisi kesenjangan kekayaan dan mobilitas sosial di Singapura?

1. Ketimpangan kekayaan lebih tinggi daripada ketimpangan pendapatan

ilustrasi Singapura, pejalan kaki, crowd (pexels.com/David Gan)

Kementerian Keuangan Singapura memperkirakan koefisien Gini kekayaan berada di angka 0,55, sedangkan koefisien Gini pendapatan setelah pajak dan transfer berada di 0,38. Semakin tinggi angka Gini, semakin besar pula ketimpangannya. Artinya, jarak kepemilikan kekayaan antarrumah tangga di Singapura ternyata lebih lebar dibandingkan jarak pendapatan mereka. Kondisi ini penting karena kekayaan gak hanya berbicara soal gaji, tapi juga mencakup aset dan kewajiban seperti properti, tabungan, saham, serta cicilan rumah.

Profesor Irene Ng dari Departemen Pekerjaan Sosial National University of Singapore menilai pengukuran Gini kekayaan bisa memberikan gambaran yang lebih lengkap mengenai ketimpangan di masyarakat. Menurutnya, kekayaan cenderung lebih timpang karena orang kaya punya lebih banyak cara untuk menambah aset dibandingkan kelompok berpenghasilan rendah. Jadi, meskipun seseorang punya penghasilan yang cukup, belum tentu nilai kekayaannya bisa mengejar orang yang sudah memiliki banyak aset sejak awal. Perbedaan inilah yang membuat kesenjangan kekayaan bisa semakin terasa dari waktu ke waktu.

2. Properti menjadi sumber kekayaan terbesar

ilustrasi perumahan di Singapura, properti (pexels.com/Towfiqu barbhuiya)

Data tahun 2023 menunjukkan bahwa nilai aset properti menjadi komponen terbesar dalam kekayaan rumah tangga Singapura. Secara rata-rata, nilai aset properti rumah tangga mencapai sekitar 1,121 juta dolar Singapura, sedangkan saldo bersih Central Provident Fund (CPF) mencapai 387 ribu dolar Singapura dan aset keuangan lainnya sekitar 401 ribu dolar Singapura.

Setelah dikurangi seluruh kewajiban, termasuk cicilan hipotek, rata-rata total kekayaan rumah tangga mencapai sekitar 1,755 juta dolar Singapura. Angka tersebut menunjukkan betapa pentingnya kepemilikan rumah dalam membentuk kekayaan masyarakat Singapura.

Menariknya, ekuitas rumah atau nilai properti setelah dikurangi sisa cicilan menyumbang lebih dari separuh kekayaan rata-rata rumah tangga di seluruh kelompok kekayaan. Bahkan pada 20 persen rumah tangga dengan kekayaan terendah, ekuitas properti rata-rata masih berada di angka positif.

Kementerian Keuangan Singapura menyebut kondisi ini berbeda dengan beberapa negara seperti Inggris dan Australia, di mana kelompok rumah tangga terbawah rata-rata bisa memiliki ekuitas rumah nol atau bahkan negatif. Jadi, kebijakan kepemilikan rumah di Singapura tetap punya peran besar dalam membantu masyarakat membangun aset.

3. Kekayaan keluarga bisa menentukan titik awal anak

ilustrasi Singapura, warga Singapura naik mobil (pexels.com/David Gan)

Kesenjangan kekayaan bukan cuma soal kondisi finansial orangtua saat ini, tapi juga bisa memengaruhi peluang anak pada masa depan. Dr Mathew Mathews dari Institute of Policy Studies mengatakan bahwa kekayaan keluarga dapat memengaruhi titik awal seorang anak dalam kehidupannya.

Orangtua yang memiliki lebih banyak aset punya kemampuan lebih besar untuk berinvestasi pada pendidikan anak sekaligus memberikan perlindungan ketika keluarga menghadapi masalah finansial. Situasi ini pada akhirnya bisa membantu keuntungan ekonomi dan sosial berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Prof Ng juga menjelaskan bahwa pendapatan dan kekayaan bisa membawa keuntungan maupun kerugian antargenerasi karena keduanya dapat memengaruhi jaringan sosial serta pilihan sekolah yang bisa diakses anak. Bayangkan saja ketika satu keluarga mampu menyediakan pendidikan dan berbagai kesempatan tambahan, sementara keluarga lain harus lebih berhati-hati dalam setiap pengeluaran.

Perbedaan pengalaman tersebut bisa membuat titik awal setiap anak menjadi gak sama. Kalau berlangsung terus, kekayaan keluarga berpotensi semakin kuat dalam menentukan peluang seseorang untuk meningkatkan taraf hidup.

4. Mobilitas sosial Singapura mulai melambat

ilustrasi Chinatown di Singapura, pejalan kaki, street market, pasar (pexels.com/Fabian Reck)

Pemerintah Singapura menilai negara tersebut masih cukup berhasil mempertahankan mobilitas sosial absolut antargenerasi. Artinya, banyak anak dari keluarga berpenghasilan rendah hingga menengah tetap bisa memperoleh pendapatan yang lebih tinggi dibandingkan ayah mereka. Namun ketika melihat mobilitas relatif, kondisinya mulai melambat seiring semakin matangnya perekonomian. Perubahan ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi gak otomatis membuat semua orang punya peluang yang sama untuk meninggalkan posisi ekonomi keluarganya.

Gambaran tersebut terlihat dari kelompok anak yang lahir dari rumah tangga dengan pendapatan paling rendah. Untuk kelompok kelahiran 1978–1982, sebanyak 24,2 persen tetap berada di 20 persen kelompok pendapatan terbawah seperti ayah mereka. Angkanya meningkat menjadi 25,1 persen untuk kelompok kelahiran 1982–1986 dan 25,3 persen untuk kelompok kelahiran 1985–1989. Jadi, dari waktu ke waktu, semakin banyak anak dari kelompok terbawah yang mengalami kesulitan untuk keluar dari posisi ekonomi tersebut.

5. Pemerintah berupaya mencegah kesenjangan makin mengakar

ilustrasi pedagang di Singapura, toko di Singapura, bisnis, usaha (pexels.com/David Gan)

Kondisi tersebut gak berarti pemerintah Singapura membiarkan kesenjangan kekayaan begitu saja, lho. Kementerian Keuangan menyebut kebijakan perumahan melalui Housing Board dan sistem CPF dibuat dengan keberpihakan kepada masyarakat yang memiliki sumber daya lebih terbatas. Kedua kebijakan tersebut dinilai berperan dalam membantu meredam ketimpangan kekayaan. Sebagian besar rumah tangga Singapura juga memiliki kekayaan positif, sementara hanya sebagian kecil yang berada dalam kondisi kekayaan negatif.

Meski begitu, tantangan ke depan tetap cukup besar karena kekayaan bisa semakin mengakar apabila terus diwariskan antar generasi. Dr Mathews menilai latar belakang keluarga bisa menjadi semakin berpengaruh terhadap mobilitas sosial ketika perekonomian semakin matang. Karena itu, keluarga yang menghadapi berbagai bentuk kerugian secara bersamaan perlu mendapatkan perhatian agar kesenjangan pendapatan dan kekayaan gak saling memperbesar. Buat kamu, kondisi ini menunjukkan bahwa menjaga mobilitas sosial bukan cuma soal menciptakan lapangan kerja, tapi juga memastikan anak dari keluarga kurang mampu tetap punya kesempatan untuk berkembang.

Data terbaru Singapura menunjukkan bahwa kesenjangan kekayaan memang menjadi persoalan yang berbeda dari ketimpangan pendapatan. Koefisien Gini kekayaan sebesar 0,55 memperlihatkan bahwa kepemilikan aset jauh lebih terkonsentrasi dibandingkan pendapatan setelah pajak dan transfer. Di saat yang sama, mobilitas sosial relatif juga mulai melambat sehingga latar belakang keluarga semakin berpengaruh terhadap peluang anak untuk naik kelas. Karena itu, menjaga akses terhadap rumah, pendidikan, tabungan, dan berbagai kesempatan ekonomi menjadi penting agar kekayaan gak terus terkumpul pada kelompok tertentu saja.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article