Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Komoditas yang Bisa Terdampak Perang Rusia-Ukraina

4 min read
5 Komoditas yang Bisa Terdampak Perang Rusia-Ukraina
ilustrasi kapal kargo (pexels.com/Tom Fisk)
  • Serangan terhadap pelabuhan dan jalur Laut Hitam mengganggu ekspor gandum serta jagung Ukraina, meningkatkan biaya logistik dan risiko penumpukan 8–11 juta ton jagung.
  • Kerusakan fasilitas pengolahan dan ekspor Ukraina mengancam pasokan minyak bunga matahari, sementara pembeli internasional dapat beralih ke minyak sawit, kedelai, atau rapeseed.
  • Serangan pada infrastruktur energi Rusia menurunkan kapasitas kilang dan produksi diesel, berpotensi mengetatkan pasokan bahan bakar serta menaikkan biaya transportasi dan distribusi global.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Perang Rusia-Ukraina kembali memberikan tekanan terhadap perdagangan komoditas global. Serangan terhadap pelabuhan, kapal, kilang minyak, dan fasilitas pengolahan membuat sejumlah jalur pasokan penting terganggu, terutama di kawasan Laut Hitam. Jika gangguan berlangsung lebih lama, perubahan pasokan tersebut dapat meningkatkan volatilitas harga berbagai komoditas di pasar dunia.

Dampaknya tidak hanya terlihat pada minyak dan gandum. Rusia dan Ukraina juga memiliki peran penting dalam perdagangan jagung, minyak bunga matahari, serta berbagai input pertanian. Berikut lima komoditas yang bisa terdampak perang Rusia-Ukraina.

  1. 1. Gandum terancam karena ekspor Laut Hitam terganggu

    ilustrasi gandum
    ilustrasi gandum (magnific.com/jcomp)

    Gandum menjadi salah satu komoditas yang paling sensitif terhadap perkembangan perang karena Rusia dan Ukraina merupakan pemasok utama bagi pasar dunia. Keduanya menyumbang sekitar 27 persen dari perdagangan gandum global, sementara serangan terhadap pelabuhan dan terminal di kawasan Laut Hitam telah mengurangi kapasitas ekspor. Pada Juli 2026, serangan terhadap pelabuhan Ukraina menghilangkan sekitar sepertiga kapasitas ekspor biji-bijian negara tersebut.

    Gangguan tersebut menjadi semakin penting karena sebagian besar ekspor pertanian Ukraina sebelumnya melewati pelabuhan Laut Hitam. Serangan terhadap pelabuhan dan kapal membuat sebagian pengiriman harus dialihkan melalui jalur Danube dan perbatasan darat yang kapasitasnya lebih terbatas. Kondisi ini dapat meningkatkan biaya logistik dan membuat pembeli global lebih bergantung pada pemasok dari kawasan lain.

  2. 2. Jagung menghadapi risiko penumpukan akibat gangguan ekspor

    ilustrasi jagung
    ilustrasi jagung (pexels.com/FRANK MERIÑO)

    Jagung juga menghadapi risiko karena gangguan di pelabuhan dapat membuat hasil panen lebih sulit dikeluarkan dari Ukraina. Keterbatasan kapasitas penyimpanan berpotensi mengancam sekitar 8 hingga 11 juta ton jagung apabila ekspor melalui jalur Laut Hitam terus mengalami hambatan. Risiko tersebut menjadi semakin besar ketika hasil panen baru mulai masuk, sementara pengiriman dari panen sebelumnya belum dapat berjalan normal.

    Masalah tersebut bukan hanya soal berkurangnya pasokan ke pasar internasional. Hasil panen yang tertahan juga dapat menimbulkan persoalan di dalam negeri karena petani membutuhkan tempat penyimpanan untuk hasil panen berikutnya. Jika kapasitas pelabuhan dan penyimpanan tidak segera pulih, gangguan tersebut dapat memengaruhi perdagangan jagung dan pendapatan produsen.

  3. 3. Minyak bunga matahari terganggu karena fasilitas pengolahan diserang

    ilustrasi bunga matahari
    ilustrasi bunga matahari (pexels.com/Carl-Emil Jørgensen)

    Minyak bunga matahari menjadi komoditas lain yang perlu diperhatikan karena Ukraina merupakan salah satu pemasok penting minyak nabati dunia. Gangguan terhadap fasilitas pengolahan dapat menghambat proses mengubah biji bunga matahari menjadi minyak sekaligus mengurangi kemampuan ekspor produk akhirnya. Serangan terhadap infrastruktur pengolahan dan ekspor dapat mempersempit pasokan yang tersedia bagi pembeli internasional.

    Risiko tersebut semakin nyata setelah fasilitas pengolahan minyak nabati di Ukraina kembali menjadi sasaran serangan pada September 2026. Salah satu fasilitas Bunge di Dnipro mengalami kerusakan akibat serangan pada 10 September, sementara serangan terhadap infrastruktur ekspor juga terus mengganggu aktivitas perdagangan di kawasan tersebut. Jika pasokan minyak bunga matahari berkurang, pembeli dapat beralih ke minyak sawit, kedelai, atau rapeseed sebagai alternatif.

  4. 4. Minyak bumi bisa bergejolak karena infrastruktur energi diserang

    ilustrasi kapal tanker minyak
    ilustrasi kapal tanker minyak (pexels.com/Zifeng Xiong)

    Minyak bumi tetap menjadi komoditas penting karena Rusia merupakan salah satu produsen minyak terbesar di dunia. Serangan terhadap infrastruktur energi Rusia dapat mengurangi kemampuan negara tersebut untuk mengolah minyak mentah menjadi produk bahan bakar. Dampaknya tidak hanya berasal dari produksi minyak mentah, tetapi juga dari berkurangnya kapasitas pengolahan di dalam negeri.

    Pada Juni 2026, refinery throughput Rusia turun menjadi sekitar 3,8 juta barel per hari, sekitar 30 persen lebih rendah dibandingkan dengan Juni 2025. Penurunan tersebut terjadi setelah kampanye serangan drone terhadap kilang Rusia semakin intensif dalam 18 bulan terakhir. Gangguan kilang kemudian dapat mengubah pola perdagangan energi karena negara yang sebelumnya mendapatkan produk olahan dari Rusia perlu mencari sumber lain.

  5. 5. Diesel tertekan karena kapasitas kilang rusia menurun

    Ilustrasi penyimpanan bahan bakar
    Ilustrasi penyimpanan bahan bakar (pexels.com/Igor Passchier)

    Diesel menghadapi risiko yang lebih langsung karena komoditas ini bergantung pada proses pengolahan minyak mentah. Produksi diesel Rusia diperkirakan turun hampir 30 persen dibandingkan dengan 2025, sementara pemerintah Rusia telah membatasi ekspor sejumlah produk bahan bakar untuk menjaga ketersediaan di dalam negeri. Kondisi tersebut dapat memperketat pasokan diesel yang tersedia untuk pasar internasional.

    Dampaknya dapat meluas ke luar sektor energi karena diesel digunakan untuk truk, kapal, alat berat, mesin pertanian, dan berbagai aktivitas industri. Ketika pasokan diesel global mengetat, biaya transportasi dan distribusi barang juga berpotensi meningkat. Kenaikan biaya tersebut kemudian dapat memberikan tekanan tambahan terhadap harga berbagai barang dan jasa.

    Kelima komoditas yang bisa terdampak perang Rusia-Ukraina memang belum pasti mengalami kenaikan. Harga komoditas tetap dipengaruhi oleh produksi negara lain, persediaan global, cuaca, permintaan, nilai tukar, dan kemampuan pelaku pasar mencari jalur perdagangan alternatif. Namun, semakin lama gangguan terhadap pelabuhan dan infrastruktur energi berlangsung, semakin besar pula risiko tekanan baru terhadap pasar komoditas global.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More