Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Perang Rusia-Ukraina Kembali Mengancam Harga Pangan Dunia

4 min read
Perang Rusia-Ukraina Kembali Mengancam Harga Pangan Dunia
ilustrasi gandum (magnific.com/jcomp)
  • Serangan terhadap pelabuhan dan kapal di Laut Hitam serta Laut Azov mengganggu jalur ekspor pertanian Rusia-Ukraina, ketika periode pengiriman gandum sedang mencapai puncak.
  • Ekspor gandum Rusia pada Agustus 2026 diperkirakan turun sekitar 70 persen, sementara Ukraina hanya sepertiga volume Agustus 2025; harga gandum global turut meningkat.
  • Negara importir mencari pemasok alternatif, tetapi jarak, stok, dan ongkos angkut dapat menaikkan biaya rantai pasok pangan, termasuk bagi pembeli gandum dari Laut Hitam.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Perang Rusia-Ukraina kembali menimbulkan tekanan terhadap pasar pangan global setelah serangan terhadap pelabuhan dan infrastruktur pertanian di kawasan Laut Hitam mengganggu aktivitas ekspor. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena Rusia dan Ukraina merupakan pemasok penting sejumlah komoditas pertanian, terutama gandum, bagi pasar dunia. Gangguan pengiriman berpotensi membuat pembeli mencari sumber pasokan lain dengan biaya yang lebih tinggi.

Dampaknya tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan gandum di pasar internasional. Biaya pengiriman, harga pupuk, hingga kebutuhan mencari pemasok alternatif dapat ikut meningkatkan biaya dalam rantai pasok pangan. Jika gangguan berlangsung lebih lama, negara yang bergantung pada impor pangan berpotensi menghadapi tekanan harga yang lebih besar.

  1. 1. Pelabuhan laut hitam kembali terganggu

    ilustrasi kapal kargo
    ilustrasi kapal kargo (pexels.com/Tom Fisk)

    Serangan Rusia dan Ukraina terhadap pelabuhan serta kapal di kawasan Laut Hitam dan Laut Azov mengganggu jalur penting bagi perdagangan komoditas pertanian. Pelabuhan Laut Hitam sebelumnya menangani sekitar 90 persen ekspor pertanian Ukraina, sedangkan serangan terhadap sejumlah pelabuhan Rusia juga mengurangi kapasitas ekspor gandum negara tersebut. Kondisi ini terjadi ketika periode ekspor gandum sedang berada pada puncaknya.

    Gangguan tersebut membuat sejumlah pengiriman harus ditunda atau dialihkan ke jalur lain. Ukraina mencoba meningkatkan penggunaan pelabuhan di Sungai Danube, tetapi kapasitasnya jauh lebih terbatas dibandingkan pelabuhan Laut Hitam. Pada Agustus 2026, puluhan kapal bahkan sempat mengantre di sekitar Kanal Sulina karena keterbatasan kapasitas dan gangguan operasional.

  2. 2. Pasokan gandum dunia mulai tertekan

    ilustrasi gandum
    ilustrasi gandum (magnific.com/Oleksandr Ryzhkov)

    Rusia dan Ukraina memiliki peran besar dalam perdagangan gandum dunia sehingga berkurangnya ekspor dari kedua negara dapat memengaruhi harga internasional. CSIS memperkirakan ekspor gandum Rusia pada Agustus 2026 turun hingga sekitar 70 persen dibandingkan rata-rata bulan yang sama dalam beberapa tahun terakhir. Ekspor gandum Ukraina juga diperkirakan hanya sekitar sepertiga dari volume Agustus 2025.

    Tekanan tersebut mulai tercermin pada harga. FAO mencatat harga gandum dunia pada Agustus 2026 sekitar 15 persen lebih tinggi dibandingkan Agustus 2025, sementara IFPRI menyebut harga gandum telah meningkat hampir 25 persen dari level Januari 2026. Kenaikan tersebut tidak sepenuhnya disebabkan perang karena kondisi cuaca dan kekeringan di sejumlah negara produsen juga ikut memengaruhi pasokan.

  3. 3. Negara importir harus mencari pemasok alternatif

    ilustrasi bola dunia
    ilustrasi bola dunia (unsplash.com/Kyle Glenn)

    Ketika pengiriman dari Laut Hitam terganggu, pembeli gandum tidak serta-merta kehilangan seluruh pasokannya. Mereka dapat mencari komoditas dari negara eksportir lain seperti Amerika Serikat, Australia, Argentina, atau negara Eropa, tetapi perubahan sumber pasokan dapat meningkatkan biaya perdagangan. Pembeli gandum global kini mulai mencari pasokan alternatif setelah serangan terhadap infrastruktur Laut Hitam mengganggu sejumlah pengiriman.

    Masalahnya, pemasok alternatif belum tentu memiliki biaya dan kapasitas yang sama dengan Rusia atau Ukraina. Jarak pengiriman yang berbeda, keterbatasan stok, serta meningkatnya biaya angkutan dapat membuat harga gandum dari sumber lain menjadi lebih mahal. Karena itu, gangguan di satu kawasan produksi dapat memberikan tekanan terhadap harga di pasar global meskipun negara lain masih memiliki persediaan.

  4. 4. Harga pangan bisa ikut mendapat tekanan

    ilustrasi membeli sayuran
    ilustrasi membeli sayuran (unsplash.com/Alex Hudson)

    Dampak perang tidak berhenti pada harga gandum karena komoditas tersebut merupakan bahan penting bagi berbagai produk pangan. Jika biaya gandum dan pengiriman meningkat, pelaku industri dapat menghadapi biaya bahan baku yang lebih tinggi sebelum produk sampai ke konsumen. Tekanan juga dapat meluas apabila gangguan perdagangan ikut memengaruhi jagung, minyak nabati, dan komoditas pertanian lainnya.

    Risiko tersebut akan lebih terasa di negara yang sangat bergantung pada impor pangan. Negara-negara seperti Indonesia juga termasuk pembeli besar gandum dari kawasan Laut Hitam sehingga gangguan pasokan dapat membuat importir perlu mencari sumber alternatif. Namun, besarnya dampak terhadap harga pangan domestik tetap bergantung pada stok, sumber impor, nilai tukar, biaya logistik, dan kebijakan pemerintah masing-masing negara.

    Perang Rusia-Ukraina tidak berarti dunia akan langsung mengalami kekurangan pangan. Negara importir masih dapat mencari pasokan dari wilayah lain dan sejumlah negara memiliki cadangan untuk menghadapi gangguan sementara. Namun, jika serangan terhadap infrastruktur perdagangan terus berlangsung, biaya untuk memindahkan pangan dari produsen ke konsumen dapat semakin besar dan akhirnya memberikan tekanan tambahan terhadap harga pangan global.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More