Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Konflik Timur Tengah Picu Risiko Pasar, DBS Sarankan Strategi Bertahan

Konflik Timur Tengah Picu Risiko Pasar, DBS Sarankan Strategi Bertahan
Chief Investment Office (CIO) DBS Hou Wey Fook. (Dok/Istimewa).
Intinya Sih
  • DBS menilai konflik di Timur Tengah meningkatkan ketidakpastian global dan risiko pasar, mendorong investor untuk menerapkan strategi defensif serta memperbesar porsi aset lindung nilai seperti emas.
  • Perubahan arah kebijakan moneter Amerika Serikat turut memengaruhi gejolak pasar, dengan potensi pemangkasan suku bunga lebih agresif berkat dorongan produktivitas dari teknologi kecerdasan buatan.
  • DBS merekomendasikan diversifikasi portofolio ke saham emerging markets dan Jepang, sembari menjaga disiplin manajemen risiko di tengah volatilitas tinggi dan potensi kembalinya kebijakan pengetatan likuiditas.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Divisi Chief Investment Office (CIO) DBS menilai ketidakpastian global pada kuartal II-2026 kian meningkat, terutama dipicu konflik di Timur Tengah.

Chief Investment Office (CIO) DBS Hou Wey Fook mengatakan dalam situasi ini, investor diminta lebih disiplin dalam mengelola risiko portofolio, termasuk meningkatkan alokasi ke aset lindung nilai seperti emas.

Meski secara historis saham Amerika Serikat kerap mencatatkan imbal hasil positif pascakonflik besar.

"Kondisi saat ini tidak bisa disikapi dengan rasa puas diri. Volatilitas yang masih tinggi membuat strategi defensif menjadi kunci," tegasnya.

Salah satu langkah yang direkomendasikan adalah mengalihkan sebagian eksposur saham AS ke indeks berisiko rendah seperti S&P 500 Low Volatility Index, sekaligus menambah porsi emas untuk menjaga stabilitas portofolio.

1. Perkembangan di Selat Hormuz menjadi penentu utama arah harga energi global

Ilustrasi perairan selat hormuz yang berdampak pada ekonomi global.
Ilustrasi perairan selat hormuz yang berdampak pada ekonomi global. Foto: Freepik.com

Dari sisi geopolitik, DBS menyoroti perang di Timur Tengah sebagai faktor utama yang memengaruhi aset berisiko.

"Harga minyak menjadi kanal transmisi utama, mengingat peran Iran sebagai salah satu produsen besar di Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC)," tegasnya.

Perkembangan di Selat Hormuz akan menjadi penentu utama arah harga energi global. Jika terjadi gangguan signifikan, lonjakan harga minyak berpotensi meningkatkan inflasi, mempersempit ruang pelonggaran kebijakan moneter, serta menekan pertumbuhan ekonomi global.

2. Perubahan narasi kebijakan moneter Amerika Serikat pengaruhi gejolak global

Gedung Federal Reserve (Instagram/the Fed)
Gedung Federal Reserve (Instagram/the Fed)

Selain faktor geopolitik, perubahan narasi kebijakan moneter Amerika Serikat juga menjadi perhatian. DBS menilai pandangan ekonom Kevin Warsh membuka peluang perubahan arah kebijakan bank sentral AS (The Fed).

Warsh meyakini peningkatan produktivitas berbasis kecerdasan buatan (AI) dapat memberi ruang bagi pemangkasan suku bunga lebih agresif tanpa memicu inflasi.

Namun di sisi lain, ia juga menyoroti pentingnya menjaga independensi kebijakan moneter, termasuk dengan mengurangi neraca The Fed secara signifikan.

3. Tingkatkan peluang kembalinya kebijakan quantitative tightening

ilustrasi The Fed (pexels.com/Photo By: Kaboompics.com)
ilustrasi The Fed (pexels.com/Photo By: Kaboompics.com)

Kondisi ini meningkatkan peluang kembalinya kebijakan quantitative tightening, yang berpotensi mendorong kurva imbal hasil menjadi lebih curam dan menguntungkan sektor keuangan.

DBS juga menekankan pentingnya diversifikasi di tengah fenomena crowded trades, yakni ketika banyak investor menempatkan dana pada aset yang sama.

"Ketegangan geopolitik belakangan ini sempat memicu aksi ambil untung di pasar yang sebelumnya menguat, seperti Korea Selatan dan Jepang," tegasnya.

Namun DBS memandang tekanan tersebut hanya bersifat sementara. Ketika volatilitas mereda, investor diperkirakan kembali fokus pada fundamental, terutama pada sektor logam mulia dan teknologi.

4. Rekomendasikan investor lakukan diversifikasi portofolio

Ilustrasi pasar saham (freepik.com)
Ilustrasi pasar saham (freepik.com)

Dalam konteks ini, DBS merekomendasikan investor mulai mendiversifikasi portofolio ke saham emerging markets (EM) dan Jepang. Saham EM dinilai berpotensi diuntungkan oleh pelemahan dolar AS, pemangkasan suku bunga The Fed, serta pertumbuhan laba yang solid.

Sementara itu, pasar Jepang didukung oleh stimulus fiskal, reformasi tata kelola perusahaan, serta imbal hasil yang relatif menarik dibandingkan pasar lainnya.

DBS menegaskan, di tengah kondisi yang disebut sebagai “saat terbaik sekaligus terburuk”, disiplin dalam manajemen risiko dan diversifikasi tetap menjadi kunci utama bagi investor.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Dwifantya Aquina
EditorDwifantya Aquina
Follow Us

Latest in Business

See More