Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

7 Negara Rilis Pernyataan Kecam Penutupan Selat Hormuz oleh Iran

7 Negara Rilis Pernyataan Kecam Penutupan Selat Hormuz oleh Iran
potret Selat Hormuz (commons.wikimedia.org/Goran_tek-en)
Intinya Sih
  • Tujuh negara, termasuk Inggris dan Jepang, mengeluarkan pernyataan bersama mengecam penutupan Selat Hormuz oleh Iran serta serangan terhadap fasilitas minyak di Timur Tengah.
  • Iran menutup Selat Hormuz sebagai balasan atas serangan Amerika Serikat dan Israel, menyebabkan gangguan pasokan minyak global dan lonjakan harga hingga rekor tertinggi.
  • Iran mulai membuka akses terbatas di Selat Hormuz untuk kapal dari negara tertentu, namun tetap melarang kapal AS dan Israel serta memperketat izin pelayaran demi alasan keamanan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Sebanyak tujuh negara di dunia merilis pernyataan bersama untuk mengecam penutupan Selat Hormuz yang dilakukan oleh Iran pada Kamis (19/3/2026). Tujuh negara tersebut terdiri dari Inggris, Jerman, Belanda, Italia, Prancis, Jepang, dan Kanada.

Dalam pernyataan tersebut, ketujuh negara juga mengecam keras serangan Iran yang menargetkan fasilitas-fasilitas minyak di Timur Tengah. Sebab, Iran pada Kamis juga kembali menyerang fasilitas minyak yang ada di Qatar sebagai balasan atas serangan Israel ke ladang minyak South Pars milik mereka. 

“Kami mengutuk keras serangan baru-baru ini yang dilakukan Iran terhadap kapal-kapal dagang tak bersenjata di Teluk, serangan terhadap infrastruktur sipil termasuk instalasi minyak dan gas, dan penutupan Selat Hormuz secara de facto oleh pasukan Iran,” demikian bunyi pernyataan bersama tersebut, seperti dilansir The Strait Times

1. Tujuh negara mendesak Iran hentikan penutupan Selat Hormuz

Bendera Iran sedang berkibar.
potret bendera Iran (unsplash.com/sina drakhshani)

Selain itu, dalam pernyataan tersebut, Inggris hingga Kanada juga mendesak Iran untuk segera membuka Selat Hormuz untuk semua kapal. Mereka juga mendesak Iran untuk berhenti mengancam keamanan di Selat Hormuz dengan cara memasang ranjau dan menyerang kapal-kapal yang berlayar di sana.

Mereka menilai tindakan tersebut telah melanggar hukum internasional. Sebab, dalam hukum internasional, setiap negara berhak berlayar di laut internasional, termasuk di Selat Hormuz, tanpa gangguan dari pihak mana pun.

“Kami menyampaikan keprihatinan mendalam kami atas meningkatnya konflik. Kami menyerukan kepada Iran untuk segera menghentikan ancaman, pemasangan ranjau, serangan pesawat tak berawak dan rudal, serta upaya lain untuk memblokir Selat Hormuz bagi pelayaran komersial untuk mematuhi Resolusi Dewan Keamanan PBB 2817,” lanjut pernyataan tersebut. 

2. Iran menutup Selat Hormuz sebagai balasan atas serangan Amerika Serikat dan Israel

Bendera Amerika Serikat dan Israel.
potret bendera Amerika Serikat dan Israel (pexels.com/www.kaboompics.com )

Iran sendiri menutup Selat Hormuz sebagai balasan atas serangan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari 2026 lalu. Sejak saat itu, Iran mulai meningkatkan pengamanan dan melarang kapal-kapal dagang, termasuk kapal minyak, untuk berlayar di selat tersebut. 

Penutupan Selat Hormuz oleh Iran ini membuat pasokan minyak dari Timur Tengah ke pasar global terhambat. Sebab, kapal-kapal jadi tidak bisa mengekspor minyak dari Timur Tengah ke pasar global. 

Hambatan ini praktis membuat harga minyak global melambung tinggi. Beberapa waktu lalu, harga minyak global sempat mencapai 120 dolar AS atau sekitar Rp2 juta per barel. Itu merupakan kenaikan harga tertinggi yang pernah terjadi dalam sejarah.

3. Iran sudah mengizinkan kapal dari negara-negara tertentu untuk berlayar di Selat Hormuz

Kapal sedang berlayar di laut.
ilustrasi kapal dagang (pexels.com/Oleksiy Konstantinidi)

Namun, beberapa waktu lalu, Iran dikabarkan sudah mengizinkan kapal-kapal untuk berlayar di Selat Hormuz secara terbatas. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengatakan pihaknya mengizinkan kapal dari negara mana pun untuk berlayar di Selat Hormuz, kecuali kapal-kapal dari AS dan Israel. 

Namun, agar bisa berlayar di Selat Hormuz, kapal-kapal harus meminta izin kepada militer Iran terlebih dahulu. Ini dilakukan karena Iran masih memperketat pengamanan di sana.

Meski begitu, banyak kapal yang kini masih enggan berlayar di Selat Hormuz karena situasi konflik di Timur Tengah masih belum mereda. Mereka khawatir akan terkena serangan dari Iran saat sedang berlayar di selat tersebut. 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Latest in News

See More