Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Kejar Dominasi China-Korsel, Jepang Akan Produksi Kapal Pengangkut LNG

Kejar Dominasi China-Korsel, Jepang Akan Produksi Kapal Pengangkut LNG
Potret kapal pengangkut LNG. (https://commons.wikimedia.org : Gordon Leggett / Wikimedia Commons / CC BY-SA 4.0)
Intinya Sih
  • Pemerintah Jepang di bawah PM Sanae Takaichi menghidupkan kembali produksi kapal pengangkut LNG setelah tujuh tahun vakum untuk memperkuat keamanan ekonomi nasional.
  • Langkah ini menjadi strategi Jepang mengejar dominasi China dan Korea Selatan dalam industri pembuatan kapal LNG bernilai tinggi yang kini dikuasai dua negara tersebut.
  • Meningkatnya permintaan global terhadap kapal pengangkut LNG dipicu ekspansi proyek gas alam cair di AS dan Timur Tengah, mendorong Jepang kembali masuk ke pasar ini.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Pemerintah dan sektor swasta Jepang bersiap menghidupkan kembali produksi kapal pengangkut gas alam cair (LNG) dalam negeri. Ini setelah vakum selama tujuh tahun sejak 2019. Langkah strategis ini bertujuan memperkuat keamanan ekonomi di bawah pemerintahan Perdana Menteri Sanae Takaichi.

Raksasa galangan kapal Imabari Shipbuilding Co tengah menjajaki penggunaan fasilitas manufaktur dari perusahaan pembuat kapal besar lainnya milik Oshima Shipbuilding Co untuk proyek tersebut. Kolaborasi industri ini akan dilakukan di Prefektur Nagasaki, dilansir Kyodo News.

1. Upaya pemerintahan Takaichi untuk memperkuat keamanan ekonomi Jepang

Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi. (x.com/takaichi_sanae)
Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi. (x.com/takaichi_sanae)

Industri perkapalan adalah salah satu dari 17 bidang yang telah diprioritaskan oleh pemerintahan Takaichi untuk investasi utama. Ini dengan target pendanaan publik dan swasta sebesar 1 triliun yen (sekitar Rp106,1 triliun) selama 10 tahun. Proyek tersebut akan mendukung investasi modal dan pengembangan teknologi.

Kementerian Pertanahan, Infrastruktur, Transportasi, dan Pariwisata dijadwalkan menggelar pertemuan panel ahli pada 19 Maret 2026. Diskusi akan melibatkan pakar di bidang pembuatan kapal, tranportasi maritim, dan energi untuk menyelaraskan proyek ini dengan kebijakan energi nasional.

2. Jepang berupaya mengejar dominasi China dan Korsel

Ilustrasi bendera Jepang. (unsplash.com/Fumiaki Hayashi)
Ilustrasi bendera Jepang. (unsplash.com/Fumiaki Hayashi)

Jepang berupaya mengejar ketertinggalan global, di mana saat ini dominasi dalam volume produksi kapal, terutama untuk kapal pengangkut LNG, ditempati oleh China dan Korea Selatan (Korsel). Galangan kapal Jepang terakhir kali mengirimkan unit LNG pada 2019, melalui Mitsubishi Heavy Industries Ltd dan Kawasaki Heavy Industries Ltd.

Jepang tidak kehilangan kemampuan pembuatan kapal. Namun, tekanan biaya, konsolidasi industri, dan pesaing yang lebih kuat di China dan Korsel telah mendorongnya keluar dari pasar kapal pengangkut LNG. Beijing memimpin dalam volume pembuatan kapal secara keseluruhan, dan Seoul memimpin dalam produksi kapal pengangkut LNG bernilai tinggi.

Proyek LNG membutuhkan investasi modal yang besar dan beroperasi dalam jangka waktu yang panjang. Perusahaan minyak besar memprioritaskan ketepatan pengiriman, kredibilitas teknis yang terbukti, serta garansi dan layanan purna jual daripada sekadar harga.

Menurut pengamat industri, galangan kapal Korsel telah mempertahankan rekam jejak yang kuat, dengan insiden kualitas atau keterlambatan yang lebih sedikit dibandingkan pesaing yang lebih baru. Namun, China semakin mendekat. Galangan kapal China telah meningkatkan pengiriman kapal pengangkut LNG, sehingga keunggulan Korsel mungkin hanya bersifat sementara.

Korea Herald melaporkan, hingga Januari 2026, galangan kapal China telah memenangkan pesanan setidaknya 13 kapal pengangkut LNG tahun ini. Sementara, galangan kapal Korsel hanya mendapat 8 kapal. Hudong Zhonghua dan Jiangnan Shipyard, keduanya anak perusahaan China State Shipbuilding Corp (CSCC), memimpin perolehan tersebut.

Untuk diketahui, CSCC adalah konglomerat pembuatan kapal terbesar di dunia. Perusahaan tersebut dibentuk melalui penggabungan dua perusahaan milik negara, guna mengekang persaingan yang berlebihan dan mengkonsolidasikan pangsa pasar.

3. Melonjaknya permintaan kapal pengangkut LNG karena proyek gas alam cair global yang meningkat

Ilustrasi industri gas alam cair (LNG). (pexels.com/Diego F. Parra)
Ilustrasi industri gas alam cair (LNG). (pexels.com/Diego F. Parra)

Dilansir The Chosun Daily, kapal pengangkut LNG memiliki harga satuan tinggi dan membutuhkan teknologi konstruksi yang canggih. Kapal jenis ini adalah kapal ultra-presisi yang mengangkut gas alam dalam keadaan cair superdingin pada suhu minus 162 derajat celcius.

Kapal tersebut juga membutuhkan ruang kargo bersuhu sangat rendah, serta sistem insulasi dan propulsi canggih. Hal inilah yang menjadikannya tantangan teknologi dan karenanya mahal. Kapal pengangkut LNG dianggap sebagai jenis kapal bernilai tambah tinggi yang representatif dalam industri pembuatan kapal, dan muncul sebagai jenis kapal kunci dalam persaingan pesanan tahun ini.

Sebelumnya, pesanan proyek LNG global sempat melambat dan menyebabkan pesanan kapal pengangkut LNG menjadi sedikit tertinggal tahun lalu. Namun, tahun ini, ekspansi fasilitas pencairan LNG semakin cepat, terutama di Amerika Serikat. Alhasil, meningkatnya ekspektasi terhadap peningkatan permintaan transportasi maritim. Melonjaknya produksi kapal tersebut juga dipicu oleh peningkatan permintaan penggantian armada dari negara-negara Timur Tengah, seperti Qatar.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Latest in Business

See More