ilustrasi Moskow, Rusia (pexels.com/Max Avans)
Meningkatnya dominasi Asia ternyata belum mampu menggeser seluruh pusat kekayaan tradisional. London masih bertahan di posisi kelima dengan 102 miliarder dan menjadi kota terkaya di Eropa. Moskow berada di peringkat kesembilan dengan 82 miliarder, sedangkan Paris memiliki 44 miliarder.
Amerika Utara juga masih memiliki sejumlah kota yang menjadi rumah bagi banyak orang superkaya. San Francisco memiliki 86 miliarder, Los Angeles 40 miliarder, Dallas 28 miliarder, Toronto 26 miliarder, dan Palm Beach 24 miliarder. Sementara itu, Dubai berhasil masuk daftar dengan 24 miliarder, menandakan semakin besarnya peran Timur Tengah sebagai tujuan investasi global.
Kota-kota tersebut umumnya menawarkan stabilitas ekonomi, regulasi yang mendukung investasi, serta akses terhadap pasar internasional. Faktor-faktor tersebut membuat mereka tetap relevan meskipun pusat pertumbuhan miliarder perlahan mulai bergeser ke Asia. Kondisi itu menunjukkan bahwa kota-kota dengan ekosistem bisnis yang kuat masih menjadi tujuan utama bagi para pengusaha dan investor kelas dunia.
Pertumbuhan jumlah miliarder di berbagai belahan dunia memperlihatkan bahwa peta ekonomi global terus berubah. Asia semakin mendominasi, China makin agresif, dan Jakarta pun berhasil menempatkan diri di antara kota-kota terkaya dunia.
Bagi Indonesia, pencapaian ini bisa menjadi dorongan untuk terus memperkuat iklim investasi dan menciptakan lebih banyak peluang usaha. Siapa tahu, beberapa tahun ke depan jumlah miliarder asal Jakarta akan semakin bertambah dan membuat posisinya naik lebih tinggi dalam peringkat dunia.