Krisis Finansial, BBC Bakal Hemat Biaya Perusahaan 10 Persen

- BBC akan menghemat dana sebesar Rp13,7 triliun
- Krisis finansial diperburuk oleh penurunan pembayaran layanan TV berbayar
- BBC sebelumnya sudah melakukan pemotongan biaya lebih dari setengah miliar pound sterling
Jakarta, IDN Times - Perusahaan media massa asal Inggris, British Broadcasting Corporation (BBC), dikabarkan bakal menghemat biaya operasional perusahaan sebesar 10 persen imbas krisis finansial. Kabar tersebut diumumkan langsung oleh BBC pada Kamis (12/2/2026).
“Di pasar media yang berubah dengan cepat, kami terus menghadapi tekanan keuangan yang besar,” kata juru bicara BBC yang tidak disebut namanya dalam sebuah pernyataan, seperti dilansir The Strait Times.
“Sebagai hasilnya, kami memperkirakan akan melakukan penghematan lebih lanjut selama 3 tahun ke depan sekitar 10 persen dari biaya kami. Ini bertujuan untuk membuat BBC menjadi lebih produktif dan memprioritaskan penawaran kami kepada pemirsa,” lanjut pernyataan tersebut.
1. BBC diperkirakan akan menghemat dana sebesar Rp13,7 triliun

BBC sebetulnya tidak merinci berapa jumlah biaya operasional perusahaan yang bakal dipotong imbas penghematan tersebut. Namun, sejumlah media Inggris melaporkan bahwa BBC akan memotong biaya sebesar 600 juta pound sterling atau Rp13,7 triliun.
Selain melakukan penghematan, sejumlah media Inggris juga menyebut BBC akan melakukan PHK dan menutup beberapa program. Namun, tidak disebutkan secara detail program apa saja yang akan ditutup.
Langkah ini semata-mata dilakukan hanya untuk menyelamatkan perusahaan dari karena krisis finansial yang sedang melanda. Jika tidak, maka BBC diprediksi akan bangkrut dan menutup semua layanannya.
2. Krisis finansial diperburuk oleh penurunan pembayaran layanan TV berbayar

Krisis finansial yang dialami BBC ini diperburuk oleh penurunan jumlah masyarakat yang berlangganan layanan televisi berbayar. Sebab, masyarakat Inggris kini semakin enggan mengeluarkan uangnya hanya untuk membayar layanan TV, baik dari BBC maupun dari media-media lain.
BBC sendiri sangat mengandalkan pendapatan yang dihasilkan dari pembayaran langganan TV berbayar dari masyarakat. Sebab, pendapatan yang diperoleh dari skema tersebut sangat besar. Sepanjang 2024 hingga 2025 saja, BBC mendapatkan keuntungan sekitar 3,8 miliar pound sterling atau Rp87,1 triliun dari penjualan lisensi TV berbayar yang mereka sediakan.
Namun, menurut data yang dirilis parlemen Inggris, sebanyak 3,6 juta rumah di Inggris saat ini sudah tidak lagi membutuhkan layanan TV berbayar. Oleh karena itu, pendapatan BBC dari penjualan lisensi TV menurun hingga lebih dari 1,1 miliar pound sterling atau Rp25,2 triliun. Hal ini lantas membuat krisis finansial yang dialami perusahaan jadi semakin parah.
3. BBC sebelumnya sudah melakukan pemotongan biaya lebih dari setengah miliar pound sterling

Sebelumnya, BBC juga sudah melakukan pemotongan anggaran lebih dari setengah miliar pound sterling selama 3 tahun terakhir. Langkah ini juga dilakukan untuk menyelamatkan perusahaan dari krisis finansial.
Krisis finansial yang dialami BBC ini juga diperburuk oleh tuntutan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Trump menuntut BBC sebesar 10 miliar dolar AS atau 168,3 triliun dengan dalih pencemaran nama baik. Sebab, BBC dikabarkan pernah mengunggah video tentang Trump yang menimbulkan kontroversi.
Imbas kasus tersebut, Direktur Jenderal BBC, Tim Davie, terpaksa mengundurkan diri dari jabatannya. Ia dijadwalkan akan resmi hengkang dari perusahaan per 2 April 2026 mendatang.


















