Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Lolos dari Downgrade MSCI, RI Masih Hadapi Krisis Kepercayaan

Lolos dari Downgrade MSCI, RI Masih Hadapi Krisis Kepercayaan
IHSG melemah 5,91 persen pada penutupan perdagangan sesi I, Kamis (29/1/2026). (IDN Times/Pitoko)
Intinya Sih
  • MSCI mempertahankan Indonesia di kategori Emerging Market, namun sorotan terhadap transparansi dan aliran informasi menunjukkan masih adanya krisis kepercayaan di mata investor global.
  • Dalam lima bulan terakhir, investor asing menarik sekitar 3,6 miliar dolar AS dari pasar saham Indonesia akibat kekhawatiran terhadap risiko dan pelemahan rupiah.
  • Laksamana Sukardi menilai sebagian investor menurunkan keyakinan pada pasar Indonesia, mengubah posisi investasi menjadi lebih hati-hati karena meningkatnya persepsi risiko dan kebutuhan premi tambahan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times - Tinjauan Market Accessibility Review terbaru dari MSCI yang mempertahankan Indonesia dalam klasifikasi Emerging Market memang membawa kelegaan bagi pelaku pasar. Namun, ekonom sekaligus mantan Menteri BUMN Laksamana Sukardi menilai perhatian yang terlalu besar terhadap status tersebut berisiko mengaburkan persoalan yang lebih mendasar, yakni apakah investor masih memandang Indonesia sebagai tujuan investasi yang transparan, dapat diprediksi, dan terpercaya.

"Kenyataan bahwa information flow menjadi sorotan utama MSCI, mencerminkan kekhawatiran atas transparansi dan kualitas informasi bagi investor," katanya dalam pernyataan tertulis yang diterima IDN Times, Senin (22/6/2026).

Persoalan tersebut juga muncul dalam peninjauan sebelumnya, yang menandakan masih adanya catatan yang belum sepenuhnya terselesaikan.

1. Investor asing sudah lebih dulu mengurangi eksposur ke Indonesia

ilustrasi IHSG (IDN Times/Muhammad Surya)
ilustrasi IHSG (IDN Times/Muhammad Surya)

Laksamana menilai perhatian pasar seharusnya tidak hanya tertuju pada keputusan MSCI yang mempertahankan status Indonesia sebagai Emerging Market. Sebab, sebelum hasil review diterbitkan, investor asing telah menarik sejumlah dana dari pasar saham Indonesia dalam lima bulan terakhir.

"Kita perlu menaruh perhatian bahwa sebelum laporan MSCI diterbitkan, investor asing dalam kurun waktu 5 bulan terakhir, telah menarik sekitar 3,6 miliar dolar AS dari pasar saham Indonesia sebelum MSCI menyampaikan kesimpulannya," tuturnya.

Pada periode yang sama, pasar saham Indonesia juga menjadi salah satu yang berkinerja paling lemah di dunia. Menurutnya, keluarnya dana asing tersebut bukan disebabkan oleh laporan MSCI, melainkan mencerminkan kekhawatiran investor yang sudah muncul lebih dahulu.

Karena itu, persoalan utama pasar modal Indonesia bukan semata berhasil menghindari penurunan status. Investor disebut telah mengambil sikap terhadap risiko yang mereka lihat di Indonesia sebelum hasil peninjauan MSCI diumumkan.

"Selain masalah penurunan penilaian MSCI terhadap aspek Information Flow, keputusan exit juga disebabkan oleh tend melemahnya nilai tukar rupiah," tuturnya.

2. MSCI kembali menyoroti transparansi pasar

Kantor Bursa Efek Indonesia (Dok. IDN Times/Istimewa)
Kantor Bursa Efek Indonesia (Dok. IDN Times/Istimewa)

Information Flow mengukur kemampuan investor memperoleh informasi yang tepat waktu, lengkap, dan transparan. Dalam peninjauan terbarunya, MSCI juga menyoroti transparansi kepemilikan saham serta praktik perdagangan yang berpotensi memengaruhi proses pembentukan harga di pasar.

"Artinya, MSCI masih menyoroti masalah yang sama pada review sebelumnya. Karena itu, isu yang disorot MSCI pada dasarnya berkaitan dengan kualitas lingkungan investasi dan tingkat kepercayaan investor, sebuah karakteristik yang sebenarnya dominan pada Frontier Market," kata Laksamana.

Dia menilai Indonesia secara fundamental berbeda dengan negara yang umumnya masuk kategori Frontier Market. Sebagai ekonomi terbesar di Asia Tenggara, anggota G20, serta negara dengan peringkat investment grade, Indonesia memiliki populasi hampir 300 juta jiwa dan produk domestik bruto (PDB) lebih dari 1,5 triliun dolar AS.

Meski demikian, MSCI tidak mengelompokkan suatu negara berdasarkan ukuran ekonomi. Penilaian lebih banyak didasarkan pada aksesibilitas pasar, termasuk kemudahan investor memperoleh informasi yang dapat dipercaya, memahami struktur kepemilikan, serta melakukan transaksi masuk dan keluar pasar secara efisien.

"Sehingga, mempertahankan status Emerging Market tidak berarti tingkat kepercayaan investor tetap sama," tuturnya.

3. Sebagian investor dinilai menurunkan keyakinan terhadap pasar Indonesia

Sejumlah investor memantau pergerakan saham di Kantor Bursa Efek Indonesia (BEI) Jawa Tengah 1 di Semarang (IDN Times/Dhana Kencana)
Sejumlah investor memantau pergerakan saham di Kantor Bursa Efek Indonesia (BEI) Jawa Tengah 1 di Semarang (IDN Times/Dhana Kencana)

Laksamana menilai sebagian investor telah menurunkan tingkat keyakinannya terhadap pasar Indonesia meski status Emerging Market masih dipertahankan. Dalam kondisi tersebut, Indonesia masih dianggap layak untuk diinvestasikan, tapi dengan catatan.

"Banyak investor institusi kemungkinan mengubah posisi dari overweight menjadi underweight. Indonesia masih layak diinvestasikan, tetapi kini dianggap memiliki risiko lebih tinggi sehingga membutuhkan premi risiko tambahan," paparnya.

Dia menyebut kondisi tersebut sebagai credibility discount, yakni ketika fundamental ekonomi masih menarik tetapi persepsi risiko meningkat sehingga investor meminta kompensasi yang lebih besar.

Dalam lima bulan terakhir, nilai portofolio investor asing disebut menyusut dari sekitar 5,811 miliar dolar AS menjadi sekitar 2,425 miliar dolar AS. Meski demikian, investor asing masih menguasai sekitar 42 persen pasar saham domestik.

Menurutnya, keberadaan investor asing yang masih bertahan tidak otomatis menunjukkan tingkat kepercayaan yang tinggi. Salah satu faktornya adalah Indonesia masih menjadi bagian dari indeks MSCI Emerging Markets sehingga sejumlah investor institusi tetap harus mempertahankan eksposurnya.

Selain itu, proses penyesuaian portofolio investor institusi berskala besar umumnya tidak dapat dilakukan sekaligus karena berpotensi menekan harga saham dan meningkatkan biaya transaksi. Oleh sebab itu, penyesuaian biasanya dilakukan secara bertahap sambil mencermati perkembangan pasar dan kebijakan.

"Dengan demikian, keberadaan investor asing mencerminkan kombinasi keyakinan yang masih ada, sikap menunggu, dan proses penyesuaian yang belum selesai," tuturnya.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar

Related Articles

See More