Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Memahami Basis Poin dalam Keuangan: Pengertian dan Contohnya
ilustrasi basis poin (pexels.com/Nataliya Vaitkevich)
  • Basis poin adalah satuan 0,01 persen yang digunakan untuk mengukur perubahan kecil pada suku bunga, imbal hasil obligasi, atau biaya investasi agar komunikasi keuangan lebih presisi.
  • Penggunaan basis poin mencegah salah tafsir dalam perubahan persentase dan membantu pengukuran risiko melalui konsep seperti PVBP yang menilai dampak perubahan satu basis poin pada harga obligasi.
  • Perubahan basis poin memengaruhi biaya pinjaman, bunga tabungan, serta spread kredit dan biaya investasi, sehingga berdampak langsung pada kondisi keuangan masyarakat dan nilai aset.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Istilah basis poin atau basis point (bps) kerap muncul dalam pemberitaan ekonomi, terutama saat membahas perubahan suku bunga, imbal hasil obligasi, maupun biaya investasi.

Seperti dilansir Investopedia, meski terdengar teknis, basis poin sebenarnya merupakan satuan yang digunakan untuk menunjukkan perubahan persentase secara lebih presisi.

Satu basis poin setara dengan seper seratus poin persentase atau 0,01 persen. Dalam bentuk desimal, nilainya sama dengan 0,0001. Karena nilainya sangat kecil, basis poin digunakan untuk menggambarkan perubahan suku bunga atau imbal hasil yang tipis sekalipun.

1. Apa fungsi basis poin?

Ilustrasi suku bunga (pexels.com/Nataliya Vaitkevich)

Basis poin digunakan untuk menyatakan perubahan atau selisih persentase pada berbagai instrumen keuangan. Penggunaan satuan ini memudahkan pelaku pasar, analis, maupun regulator dalam mengukur dan mengomunikasikan perubahan yang sangat kecil.

Sebagai contoh, jika imbal hasil dividen meningkat dari 3 persen menjadi 3,3 persen, kenaikan tersebut setara dengan 30 basis poin. Sementara itu, apabila suku bunga turun dari 4 persen menjadi 3,5 persen, penurunannya setara dengan 50 basis poin.

Basis poin juga umum digunakan untuk menjelaskan perubahan suku bunga, imbal hasil obligasi, hingga indeks pasar. Misalnya, jika imbal hasil obligasi naik dari 5 persen menjadi 5,2 persen, kenaikannya mencapai 20 basis poin.

Dalam perdagangan saham, basis poin juga dapat digunakan untuk menunjukkan perubahan harga. Jika harga saham turun dari 200 dolar AS menjadi 199 dolar AS, penurunan tersebut setara dengan 0,5 persen atau 50 basis poin. Namun dalam praktik sehari-hari, harga saham lebih sering dikutip dalam satuan mata uang dibanding basis poin.

Selain itu, basis poin memiliki peran penting dalam manajemen risiko. Perubahan kecil pada suku bunga atau spread kredit dapat menjadi indikator perubahan kondisi pasar yang lebih luas.

Pengelola risiko juga menggunakan basis poin dalam pengujian skenario dan stress testing. Sebagai contoh, mereka dapat menghitung dampak kenaikan suku bunga sebesar 200 basis poin terhadap nilai portofolio investasi, lalu melihat perubahan hasil ketika asumsi tersebut disesuaikan beberapa basis poin.

2. Mengapa basis poin digunakan?

ilustrasi suku bunga (freepik.com/rawpixel.com)

Penggunaan basis poin membantu menghindari kesalahpahaman saat membahas perubahan persentase. Sebagai ilustrasi, jika suatu instrumen memiliki tingkat bunga 10 persen dan disebut mengalami kenaikan 10 persen, maknanya bisa berbeda. Kenaikan tersebut dapat diartikan menjadi 11 persen atau bahkan 20 persen, tergantung cara penafsirannya.

Dengan basis poin, perubahan menjadi lebih jelas. Jika tingkat bunga 10 persen naik 100 basis poin, maka bunganya menjadi 11 persen. Sementara kenaikan 1.000 basis poin akan membuat tingkat bunga naik menjadi 20 persen.

Dalam dunia obligasi, dikenal pula istilah Price Value of a Basis Point (PVBP) atau DV01. Ukuran ini digunakan untuk menghitung perubahan nilai harga obligasi akibat perubahan imbal hasil sebesar satu basis poin.

PVBP menjadi salah satu alat untuk mengukur risiko suku bunga dan memiliki fungsi yang mirip dengan durasi obligasi. Bedanya, PVBP hanya mengukur dampak perubahan sebesar satu basis poin, bukan perubahan yang lebih besar.

3. Bagaimana basis poin memengaruhi keuangan masyarakat?

ilustrasi investasi saham (pexels.com/iam hogir)

Perubahan yang diukur dalam basis poin dapat berdampak langsung maupun tidak langsung terhadap kondisi keuangan masyarakat.

Kenaikan atau penurunan suku bunga akan memengaruhi biaya pinjaman, tingkat bunga tabungan, serta berbagai produk kredit seperti kredit pemilikan rumah, kredit kendaraan, dan pinjaman pribadi. Dampaknya juga dapat dirasakan pada aktivitas konsumsi, pasar tenaga kerja, hingga harga aset keuangan.

Sebagai contoh, kenaikan suku bunga sebesar 50 basis poin berpotensi meningkatkan imbal hasil tabungan. Sebaliknya, pemilik kredit rumah dengan bunga mengambang dapat menghadapi kenaikan cicilan bulanan.

Dalam investasi, basis poin digunakan untuk menunjukkan perubahan harga aset, imbal hasil investasi, maupun biaya yang dikenakan kepada investor. Perubahan tersebut dapat memengaruhi tingkat keuntungan yang diterima investor dalam jangka panjang.

4. Basis poin dalam investasi dan spread kredit

Ilustrasi kartu kredit (pexels.com/Aukid phumsirichat)

Basis poin juga lazim digunakan untuk menjelaskan biaya pengelolaan reksa dana dan Exchange-Traded Fund (ETF). Sebagai contoh, rasio biaya tahunan sebesar 0,15 persen dapat disebut sebagai 15 basis poin.

Penggunaan basis poin memudahkan perbandingan biaya antarproduk investasi. Misalnya, suatu dana investasi dengan biaya 0,35 persen memiliki biaya 10 basis poin lebih rendah dibandingkan dana lain yang mengenakan biaya 0,45 persen.

Selain itu, basis poin digunakan untuk mengukur spread kredit, yaitu selisih imbal hasil antara dua instrumen utang. Sebagai contoh, jika obligasi korporasi menawarkan imbal hasil 3 persen dan obligasi pemerintah yang sebanding menawarkan 2 persen, maka spread kreditnya mencapai 100 basis poin.

Besarnya spread kredit mencerminkan persepsi pasar terhadap risiko penerbit obligasi. Spread yang semakin lebar menunjukkan risiko kredit yang dipandang lebih tinggi, sedangkan spread yang menyempit menunjukkan risiko yang dinilai menurun.

Perubahan spread kredit juga memengaruhi harga obligasi. Ketika spread melebar, harga obligasi umumnya turun karena investor meminta imbal hasil yang lebih tinggi. Sebaliknya, ketika spread menyempit, harga obligasi cenderung naik karena investor bersedia menerima imbal hasil yang lebih rendah.

Editorial Team

Related Article