Ilustrasi suku bunga (pexels.com/Nataliya Vaitkevich)
Basis poin digunakan untuk menyatakan perubahan atau selisih persentase pada berbagai instrumen keuangan. Penggunaan satuan ini memudahkan pelaku pasar, analis, maupun regulator dalam mengukur dan mengomunikasikan perubahan yang sangat kecil.
Sebagai contoh, jika imbal hasil dividen meningkat dari 3 persen menjadi 3,3 persen, kenaikan tersebut setara dengan 30 basis poin. Sementara itu, apabila suku bunga turun dari 4 persen menjadi 3,5 persen, penurunannya setara dengan 50 basis poin.
Basis poin juga umum digunakan untuk menjelaskan perubahan suku bunga, imbal hasil obligasi, hingga indeks pasar. Misalnya, jika imbal hasil obligasi naik dari 5 persen menjadi 5,2 persen, kenaikannya mencapai 20 basis poin.
Dalam perdagangan saham, basis poin juga dapat digunakan untuk menunjukkan perubahan harga. Jika harga saham turun dari 200 dolar AS menjadi 199 dolar AS, penurunan tersebut setara dengan 0,5 persen atau 50 basis poin. Namun dalam praktik sehari-hari, harga saham lebih sering dikutip dalam satuan mata uang dibanding basis poin.
Selain itu, basis poin memiliki peran penting dalam manajemen risiko. Perubahan kecil pada suku bunga atau spread kredit dapat menjadi indikator perubahan kondisi pasar yang lebih luas.
Pengelola risiko juga menggunakan basis poin dalam pengujian skenario dan stress testing. Sebagai contoh, mereka dapat menghitung dampak kenaikan suku bunga sebesar 200 basis poin terhadap nilai portofolio investasi, lalu melihat perubahan hasil ketika asumsi tersebut disesuaikan beberapa basis poin.