Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Dampak Rupiah Melemah terhadap Masyarakat, Menghambat Ekonomi

Dampak Rupiah Melemah terhadap Masyarakat, Menghambat Ekonomi
rupiah (unsplash.com/badly abbas)
Intinya Sih
  • Melemahnya rupiah hingga mendekati Rp17 ribu per dolar AS memicu kenaikan harga barang impor, terutama bahan produksi dan kebutuhan pokok masyarakat.
  • Daya beli masyarakat menurun karena harga terus naik sementara pendapatan stagnan, membuat konsumsi berkurang dan perputaran ekonomi lokal melambat.
  • Perusahaan menekan biaya operasional dengan PHK akibat beban produksi tinggi, disertai kenaikan suku bunga kredit yang memperberat keuangan rumah tangga.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Merosotnya nilai tukar rupiah terhadap dolar bikin masyarakat khawatir. Apalagi nilai tukar rupiah sempat hampir menyentuh Rp17 ribu per satu dolar AS. Selain disebabkan oleh sentimen pasar global, faktor domestik turut memperburuk situasi.

Melemahnya rupiah memicu kekhawatiran, terutama terkait perekonomian masyarakat. Di mana daya beli masyarakat bisa menurun karena naiknya harga pangan dan kebutuhan lainnya. Ada beberapa dampak lain yang perlu diwaspadai agar dapat mengambil sikap. Berikut dampak rupiah melemah terhadap masyarakat.

1. Kenaikan harga barang

rupiah
rupiah (pexels.com/Defrino Maasy)

Dampak pertama yang paling dirasakan masyarakat adalah harga barang yang semakin naik. Kenaikan ini disebabkan oleh biaya produksi yang melonjak, terutama bagi perusahaan yang mengimpor bahan produksi. Mau tidak mau perusahaan juga menaikkan harga produk mereka kepada masyarakat.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), nilai impor Indonesia mengalami kenaikan dibanding tahun sebelumnya. Dengan nilai 218,02 miliar dolar AS atau meningkat 2,03 persen pada Januari - November 2025. Komoditas impor ini meliputi, migas, farmasi, bahan pangan, alat medis, hingga pakaian.

Dapat disimpulkan bahwa Indonesia masih sangat bergantung pada impor. Oleh sebab itu, melemahnya rupiah akan memengaruhi harga impor. Akibatnya, harga barang menjadi lebih mahal.

2. Melemahnya daya beli masyarakat

50.000 Rupiah Indonesia
50.000 Rupiah Indonesia (pexels.com/Ahsanjaya)

Akibat dari melonjaknya harga barang membuat masyarakat menahan diri untuk berbelanja. Bagi keluarga dengan penghasilan rendah, tentu lebih memilih untuk melakukan penghematan. Apalagi melihat gaji di Indonesia yang rendah, tetapi harga terus melonjak.

Kondisi tersebut akan membuat perputaran ekonomi lokal terhambat. Menurunnya daya beli masyarakat juga berdampak pada kualitas hidup. Di mana masyrakat tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup yang layak.

3. Menurunnya angka lapangan pekerjaan

ilustrasi pencari kerja
ilustrasi pencari kerja (unsplash.com/Getty Images)

Perusahaan bisa saja menaikkan harga produk, tetapi mereka juga khawatir masyaralat tidak membeli. Untuk menjaga efisiensi dan kelangsungan bisnis di tengah meningkatnya biaya operasional, perusahaan akan mengambil beberapa keputusan. Salah satunya dengan melakukan pengurangan tenaga kerja (PHK).

Sementara tenaga kerja baru ikut sulit mendapat pekerjaan karena minimnya lowongan pekerjaan. Hal ini berisiko meningkatkan angka pengangguran dan memperlebar kesenjangan sosial di tengah masyarakat.

4. Biaya transportasi dan logistik naik

ilustrasi menaiki kereta api di Swiss (instagram.com/Elena Saharova)
ilustrasi menaiki kereta api di Swiss (instagram.com/Elena Saharova)

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mencatat bahwa Indonesia memiliki cadangan minyak bumi dan kondensat mencapai 4,42 miliar barel dan gas mencapai 55,85 triliun kaki kubik (TCF) pada Januari 2025. Namun, Indonesia masih mengimpor minyak dari luar negeri karena kebutuhan yang terus meningkat.

Karena perdagangan internasional menggunakan mata uang dolar, pemerintah harus mengeluarkan dana lebih ketika rupiah melemah. Akibatnya, harga bensin ikut naik untuk menutupi biaya belanja. Kenaikan ini menjadi beban tambahan bagi distribusi barang antar wilayah di Indonesia.

5. Suku bunga kredit naik

uang Rupiah Indonesia (pexels.com/IqbalStock)
uang Rupiah Indonesia (pexels.com/IqbalStock)

Bank Indonesia biasanya akan mengambil kebijakan moneter, salah satunya adalah dengan menaikkan suku bunga acuan. Tujuannya untuk menjaga daya tarik aset Rupiah di mata investor. Namun, keputusan ini berdampak buruk terhadap masyarakat yang memiliki pinjaman atau kredit.

Kenaikan suku bunga akan membuat cicilan bulanan untuk Kredit Pemilikan Rumah (KPR), Kredit Kendaraan Bermotor (KKB), hingga modal kerja bagi pengusaha ikut naik. Bertambahnya beban finansial menyebabkan masyarakat kesulitan mengatur keuangan karena habis untuk membayar bunga.

Melemahnya rupiah adalah fenomena ekonomi kompleks yang dampaknya bisa dirasakan langsung oleh masyarakat. Jika pemerintah tak mampu mengatasi hal tersebut, kondisi yang lebih buruk mungkin terjadi.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Latest in Business

See More