Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Rupiah Tembus Rp17.100, Purbaya Klaim Masih Sesuai Perhitungan Simulasi

Rupiah Tembus Rp17.100, Purbaya Klaim Masih Sesuai Perhitungan Simulasi
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam Bincang Bareng Media. (IDN Times/Triyan).
Intinya Sih
  • Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan pelemahan rupiah ke Rp17.100 per dolar AS masih sesuai skenario simulasi APBN yang telah disesuaikan untuk menghadapi gejolak pasar.
  • Bank Indonesia fokus menjaga stabilitas nilai tukar dengan mengoptimalkan seluruh instrumen operasi moneter di tengah ketidakpastian global yang tinggi.
  • BI melakukan intervensi terukur di pasar valas dan menilai kenaikan harga komoditas akibat konflik Timur Tengah bisa memberi efek positif bagi ekonomi Indonesia.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan pelemahan rupiah ke level Rp17.100 per dolar AS masih masuk dalam skenario simulasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Menurutnya, dalam penyusunan anggaran Kementerian Keuangan tidak hanya terpaku pada satu angka asumsi. Pemerintah telah menaikkan parameter simulasi ke level tertentu untuk mengantisipasi gejolak pasar.

"Saya tegaskan, angka simulasi rupiah itu bukan yang digunakan dalam APBN sebelumnya. Angkanya sudah dinaikkan ke level tertentu, sehingga kondisi saat ini masih termasuk dalam perhitungan skenario," ujar Purbaya Selasa (7/4/2026).

1. Stabilisasi rupiah masuk ranah Bank Indonesia

Ilustrasi dolar AS (freepik.com/jcomp)
Ilustrasi dolar AS (freepik.com/jcomp)

Meski mengakui adanya tekanan terhadap rupiah, Purbaya enggan mengungkapkan angka pasti asumsi nilai tukar dalam simulasi terbaru pemerintah guna menghindari spekulasi berlebihan di pasar.

"Saya tidak menyebutkan angkanya. Kalau saya sampaikan, nanti muncul spekulasi rupiah akan menuju level tertentu. Urusan stabilisasi nilai tukar kita serahkan kepada bank sentral. Saya percaya mereka mampu menanganinya," ujar Purbaya.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah pada penutupan perdagangan kemarin (7/4/2026) menembus Rp17.103 per dolar AS, atau sudah melemah hingga mencapai 68 poin atau 0,40 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.

2. Optimalkan seluruh instrumen moneter

Ramalan Dolar AS Pekan Depan (Detik Finance)
Ramalan Dolar AS Pekan Depan (Detik Finance)

Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, mengatakan stabilitas saat ini menjadi fokus utama otoritas moneter. Untuk itu, BI akan mengoptimalkan seluruh instrumen operasi moneter yang dimiliki.

"Di tengah ketidakpastian global yang sangat tinggi, stabilitas menjadi prioritas utama. BI akan mengoptimalkan pemanfaatan seluruh instrumen operasi moneter untuk menjaga stabilitas nilai tukar," ujarnya dalam keterangan resmi, Selasa (7/4/2026).

3. BI lakukan intervensi untuk stabilkan rupiah

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti di Peking University pada Jumat (8/3/2024) (Dok. ANTARA FOTO)
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti di Peking University pada Jumat (8/3/2024) (Dok. ANTARA FOTO)

Destry menegaskan, BI akan terus melakukan intervensi di pasar valas secara konsisten dan terukur. Intervensi dilakukan di pasar spot, domestic non-deliverable forward (DNDF), serta non-deliverable forward (NDF) di pasar offshore guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Selain itu, BI juga melihat dampak konflik di Timur Tengah tidak sepenuhnya negatif bagi perekonomian Indonesia. Kenaikan harga komoditas justru berpotensi memberikan efek positif, mengingat Indonesia merupakan negara eksportir. BI juga memastikan akan terus memantau dinamika global dan domestik serta mengambil langkah yang diperlukan untuk menjaga stabilitas rupiah.

"Dampak konflik Timur Tengah bersifat dua arah. Kenaikan harga komoditas dan posisi Indonesia sebagai negara eksportir dapat memberikan efek positif yang mengimbangi tekanan terhadap nilai tukar," ujar Destry.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Satria Permana
EditorSatria Permana
Follow Us

Latest in Business

See More