Ekspor Emas Sudan ke UEA Anjlok Usai Hubungan Diplomatik Putus

- Ekspor emas Sudan ke UEA anjlok lebih dari 60 persen setelah hubungan diplomatik kedua negara putus, mengakhiri ketergantungan panjang Sudan pada pasar Dubai.
- Pemutusan hubungan terjadi karena tuduhan bahwa UEA mendanai dan mempersenjatai kelompok paramiliter RSF, membuat Sudan membatalkan proyek pelabuhan besar senilai miliaran dolar.
- Krisis ekspor emas memperparah tekanan ekonomi Sudan, mendorong pemerintah mencari pasar baru di Timur Tengah dan Afrika Utara meski terhambat sanksi serta sistem transfer internasional.
Jakarta, IDN Times - Otoritas keuangan di Khartoum melaporkan bahwa pengiriman emas dari Sudan ke Uni Emirat Arab (UEA) mengalami penurunan tajam pada tahun lalu. Penurunan ini mencapai level terendah dalam sejarah akibat putusnya hubungan diplomatik kedua negara. Keputusan tersebut sekaligus mengakhiri ketergantungan Sudan pada pasar Dubai yang selama puluhan tahun menjadi tujuan utama ekspor emas mereka.
Bank Sentral Sudan menjelaskan bahwa langkah ini diambil untuk menyelamatkan ekonomi negara di tengah perang saudara yang masih berkecamuk. Saat ini, pemerintah Sudan mulai mengalihkan penjualan emas ke negara-negara lain yang dianggap lebih stabil demi menjaga cadangan mata uang asing yang sangat dibutuhkan untuk kelangsungan negara.
1. Volume ekspor emas ke Dubai turun tajam

Data terbaru dari Bank Sentral Sudan menunjukkan bahwa pengiriman emas resmi ke UEA hanya mencapai 8,2 ton metrik pada tahun 2025. Angka ini merosot lebih dari 60 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang menembus angka 22,2 ton metrik. Hal ini mengubah total struktur perdagangan mineral Sudan, di mana sebelumnya hampir seluruh emas mereka dijual melalui Dubai.
Dulu, Dubai menguasai hingga 99 persen pasar emas Sudan. Namun, angka tersebut kini menyusut drastis dan hanya tersisa 56 persen. Menteri Pertambangan Sudan, Nour Al-Daem Taha, menegaskan betapa pentingnya peran emas bagi stabilitas keuangan negara saat ini.
"Emas tetap menjadi sumber utama devisa bagi Sudan, terutama sejak konflik mengganggu sektor perdagangan dan pertanian. Sektor pertambangan sendiri telah menyumbang pendapatan negara sekitar 1,087 triliun pound Sudan (Rp30,81 triliun)," kata Nour Al-Daem Taha, dilansir TRT Afrika.
2. Sudan putus hubungan akibat dugaan UEA danai kelompok paramiliter

Pemerintah Sudan memutuskan hubungan diplomatik karena menuduh UEA memberikan bantuan dana dan senjata kepada kelompok paramiliter Pasukan Pendukung Cepat (RSF). Akibat tuduhan serius ini, Sudan menetapkan UEA sebagai "negara agresor". Sebagai bentuk protes, Sudan juga membatalkan proyek pembangunan pelabuhan raksasa senilai 6 miliar dolar AS (Rp102,16 triliun) yang sebelumnya akan dikerjakan bersama UEA.
Dampak perselisihan ini merembet luas ke jalur transportasi. Pemerintah Sudan telah menghentikan semua penerbangan komersial dari Port Sudan menuju Dubai dan menutup jalur pengiriman barang yang melewati pelabuhan-pelabuhan di UEA.
"Pihak yang memasok senjata ke RSF sudah diketahui secara luas. Sayangnya, pihak yang menyediakan bantuan tersebut adalah UEA," ujar Utusan Resmi Sudan di Jenewa, Hassan Hamid, dilansir Swiss Info.
3. Ekonomi tertekan, pemerintah cari pembeli baru

Terganggunya jalur ekspor emas utama ini membuat ekonomi Sudan semakin tercekik dan memicu lonjakan inflasi. Akibatnya, harga kebutuhan pokok seperti gandum dan bahan bakar minyak (BBM) melonjak drastis di wilayah-wilayah yang dikuasai tentara pemerintah.
Untuk menyiasati krisis tersebut, Sudan mulai gencar menawarkan emas mereka ke pasar-pasar baru di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara, seperti Qatar, Oman, Mesir, dan Arab Saudi.
Meski demikian, proses transisi ini tidak berjalan mulus. Sudan masih kesulitan bermanuver akibat adanya hambatan dalam sistem transfer uang antarnegara dan sanksi internasional yang mengikat. Kondisi ini membuat Sudan kesulitan menerima pembayaran komersial di luar jalur tradisional mereka di Dubai.


















