Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Mitos vs Fakta: Konsumen Gak Sensitif Harga ketika Puasa

Mitos vs Fakta: Konsumen Gak Sensitif Harga ketika Puasa
ilustrasi ngabuburit (unsplash.com/Umar ben)
Intinya Sih
  • Selama Ramadan, konsumen tetap mempertimbangkan harga meski aktivitas belanja meningkat; mereka membandingkan penawaran dan mencari keseimbangan antara kebutuhan serta pengeluaran.
  • Konsumen lebih fokus pada nilai dan manfaat produk dibanding sekadar harga murah; strategi bundling atau bonus dinilai lebih menarik daripada diskon kecil.
  • Keberhasilan promosi sangat dipengaruhi waktu dan kepercayaan; promo di jam aktif belanja serta reputasi penjual yang baik mampu meningkatkan keputusan pembelian.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Bulan Ramadan sering dianggap sebagai periode emas bagi banyak pelaku bisnis. Permintaan meningkat, aktivitas belanja lebih ramai, dan banyak orang lebih mudah mengeluarkan uang untuk kebutuhan berbuka, sahur, hingga persiapan Lebaran. Karena itu muncul anggapan bahwa konsumen menjadi kurang sensitif terhadap harga selama bulan puasa.

Namun, apakah benar konsumen tidak terlalu peduli soal harga saat Ramadan? Kenyataannya tidak sesederhana itu. Ada beberapa fakta menarik tentang perilaku belanja selama periode ini.

1. Mitos: saat Ramadan orang pasti lebih boros

Belanja bersama pasangan
ilustrasi belanja (pexels.com/Jack Sparrow)

Banyak orang mengira konsumen akan membeli apa saja selama Ramadan karena suasana bulan yang spesial. Penjual kadang merasa bisa menaikkan harga tanpa memikirkan dampaknya pada permintaan. Logikanya, kebutuhan meningkat sehingga pembeli dianggap tidak terlalu memperhatikan harga.

Padahal konsumen tetap melakukan pertimbangan sebelum membeli. Mereka mungkin membeli lebih banyak barang, tetapi tetap membandingkan harga antar penjual. Jika selisih harga terlalu besar, konsumen tetap bisa beralih ke alternatif lain.

2. Fakta: konsumen lebih sensitif pada nilai, bukan sekadar harga

ilustrasi belanja sepatu Oxford
ilustrasi belanja sepatu Oxford (pexels.com/Antoni Shkraba Studio)

Selama Ramadan, konsumen cenderung mencari nilai terbaik dari uang yang mereka keluarkan. Mereka tidak hanya melihat harga murah, tetapi juga manfaat yang didapat. Paket bundling, bonus produk, atau porsi lebih besar sering terasa lebih menarik dibanding diskon kecil.

Artinya, strategi bisnis yang menonjolkan value sering lebih efektif. Konsumen merasa mendapatkan keuntungan lebih tanpa harus mengorbankan kualitas. Pendekatan ini membuat mereka tetap merasa puas dengan pembelian.

3. Mitos: promo apa pun pasti laku saat puasa

ilustrasi promo bisnis
ilustrasi promo bisnis (pexels.com/Markus spiske)

Sebagian pelaku bisnis percaya bahwa hampir semua promo akan berhasil selama Ramadan. Selama ada label diskon atau penawaran khusus, mereka yakin produk akan cepat terjual. Padahal tidak semua promosi benar-benar menarik perhatian konsumen.

Konsumen saat ini cukup kritis terhadap promosi. Mereka bisa dengan cepat membandingkan harga melalui marketplace atau media sosial. Jika promo terasa tidak signifikan atau terlalu biasa, dampaknya bisa sangat kecil.

4. Fakta: timing promo sangat menentukan

ilustrasi belanja online
ilustrasi belanja online (freepik.com/freepik)

Dalam periode Ramadan, waktu promosi bisa sangat memengaruhi hasil penjualan. Banyak konsumen lebih aktif berbelanja menjelang berbuka puasa atau setelah tarawih. Pada waktu tersebut, aktivitas online biasanya meningkat.

Bisnis yang memahami pola ini bisa mengatur promo pada jam yang tepat. Penawaran terbatas dalam waktu singkat sering memicu keputusan pembelian lebih cepat. Timing yang tepat bisa membuat promo terasa lebih menarik.

5. Fakta: kepercayaan tetap jadi faktor utama

137978881_m.jpg
Ilustrasi belanja fashion branded (123rf.com/petrunina)

Walau aktivitas belanja meningkat, konsumen tetap memilih penjual yang mereka percaya. Harga murah tidak selalu cukup jika kualitas produk atau pelayanan diragukan. Reputasi bisnis menjadi faktor penting dalam keputusan pembelian.

Selama Ramadan, banyak orang juga membeli untuk keluarga atau sebagai hadiah. Karena itu mereka cenderung memilih produk yang sudah terbukti baik. Kepercayaan sering lebih kuat pengaruhnya dibanding sekadar selisih harga.

Anggapan bahwa konsumen tidak sensitif terhadap harga saat puasa sebenarnya adalah mitos yang terlalu disederhanakan. Konsumen tetap mempertimbangkan harga, tetapi mereka juga melihat nilai, kualitas, dan kepercayaan pada penjual.

Bagi pelaku bisnis, strategi terbaik bukan sekadar menurunkan harga. Menggabungkan value, timing promosi, dan pelayanan yang baik justru lebih efektif untuk memaksimalkan penjualan selama Ramadan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Latest in Business

See More