Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Neraca Pembayaran Indonesia Defisit Rp160,16 Triliun di Kuartal I

Neraca Pembayaran Indonesia Defisit Rp160,16 Triliun di Kuartal I
ilustrasi tumpukan uang koin (Pixabay.com/ Kevin Schneider)
Intinya Sih
  • Neraca Pembayaran Indonesia kuartal I 2026 defisit Rp160,16 triliun, berbalik dari surplus kuartal sebelumnya, namun BI menilai kinerja tetap terjaga di tengah ketidakpastian global.

  • Defisit transaksi berjalan melebar jadi 4 miliar dolar AS akibat turunnya ekspor nonmigas dan penurunan surplus perdagangan barang, meski defisit jasa berhasil menyempit.

  • Transaksi modal dan finansial juga defisit 4,9 miliar dolar AS karena turunnya investasi portofolio dan pembayaran pinjaman luar negeri, sementara investasi langsung masih mencatat surplus.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Jakarta, IDN TimesBank Indonesia (BI) mengumumkan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada kuartal I 2026 mencatat defisit sebesar 9,1 miliar dolar AS, atau setara Rp160,16 triliun (kurs Rp17.600 per dolar AS). Defisit ini menjadi yang terbesar dibandingkan periode yang sama pada kuartal I 2024 hingga kuartal I 2025. Posisi ini berbalik dibandingkan kuartal IV 2025, yang mencatat surplus sebesar 6,1 miliar dolar AS.

Meski demikian, Bank Indonesia menyatakan kinerka NPI pada triwulan I 2026 tetap terjaga di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

"Dengan perkembangan tersebut, NPI pada triwulan I 2026 mencatat defisit 9,1 miliar dolar AS. Defisit transaksi berjalan tetap rendah di tengah perlambatan ekonomi global," ujar Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, dalam keterangan tertulis, Jumat (22/5/2026).

Denny juga menyampaikan posisi cadangan devisa pada akhir Maret 2026 tetap tinggi sebesar 148,2 miliar dolar AS, atau setara dengan pembiayaan 5,8 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Posisi cadangan devisa tersebut berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor..

1. Defisit transaksi berjalan tercatat cukup dalam

Ilustrasi Cadangan Devisa (IDN Times/Arief Rahmat)
Ilustrasi Cadangan Devisa (IDN Times/Arief Rahmat)

Melebarnya defisit NPI sejalan dengan peningkatan defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD), serta berbaliknya transaksi modal dan finansial menjadi defisit. Ia menjelaskan transaksi berjalan mengalami defisit sebesar 4,0 miliar dolar AS atau setara dengan Rp70,4 triliun pada kuartal I. Bahkan, defisit ini melebar dibandingkan kuartal sebelumnya yang tercatat sebesar 2,5 miliar dolar AS.

“Defisit transaksi berjalan tetap rendah di tengah perlambatan ekonomi global. Sementara itu, transaksi modal dan finansial mencatat defisit yang terjaga, meski ketidakpastian pasar keuangan global meningkat,” tegas

Menurut Denny, pelebaran defisit transaksi berjalan disebabkan oleh penurunan surplus neraca perdagangan barang, meskipun defisit neraca jasa menyempit.

“Surplus neraca dagang menurun karena ekspor turun seiring dengan perlambatan ekonomi global,” ujarnya.

2. Faktor turunnya suprlus nonmigas dan migas

Ilustrasi harga minyak (IDN Times/Arief Rahmat)
Ilustrasi harga minyak (IDN Times/Arief Rahmat)

Lebih rinci, ia menjelaskan penurunan surplus barang nonmigas dipengaruhi oleh rendahnya ekspor, terutama produk manufaktur seperti olahan makanan, batu bara, dan alat elektronik. Di sisi lain, defisit neraca migas menyempit seiring dengan penurunan surplus neraca dagang barang nonmigas.

“Penurunan defisit neraca migas dipengaruhi oleh berkurangnya impor, sejalan dengan penurunan produksi gas domestik,” tegasnya.

Sementara itu, neraca perdagangan jasa juga mencatat defisit yang lebih rendah, dipengaruhi oleh penyempitan defisit pada sektor jasa, termasuk jasa telekomunikasi dan jasa asuransi. Di sisi lain, defisit neraca pendapatan primer tercatat melebar dibandingkan kuartal IV 2025.

“Kondisi ini dipengaruhi oleh kenaikan pembayaran kupon atau bunga atas investasi portofolio. Namun, surplus neraca pendapatan sekunder relatif stabil dibandingkan capaian sebelumnya,” tambahnya.

3. Transaksi modal dan finansial juga defisit

Ilustrasi investasi (freepik.com)
Ilustrasi investasi (freepik.com)

Untuk transaksi modal dan finansial, kuartal I mencatatkan defisit sebesar 4,9 miliar dolar AS atau setara Rp86,24 triliun (kurs Rp17.600 per dolar AS), setelah mencatat surplus 9 miliar dolar AS pada kuartal IV 2025.

“Penurunan ini dipengaruhi oleh menurunnya surplus investasi portofolio, sejalan dengan meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global yang mendorong kenaikan premi risiko,” jelasnya.

Sementara itu, investasi lainnya juga tercatat mengalami defisit, terutama dipengaruhi oleh pembayaran pinjaman luar negeri yang jatuh tempo serta penempatan aset di luar negeri oleh pihak residen. Sedangkan investasi langsung tetap mencatatkan surplus, sejalan dengan persepsi positif investor terhadap prospek ekonomi Indonesia dan iklim investasi yang kondusif.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar

Related Articles

See More