Nestlé Lepas Bisnis Ice Cream, Fokus 4 Kategori

- Nestlé berencana melepas sisa bisnis ice cream ke Froneri sebagai bagian dari restrukturisasi global di bawah CEO baru, Philipp Navratil.
- Perusahaan akan fokus pada empat kategori utama: coffee, petcare, nutrition, serta food & snacks untuk memperkuat efisiensi dan pertumbuhan.
- Pada 2025, penjualan turun menjadi 89,49 miliar franc Swiss dengan laba bersih anjlok 17 persen akibat penarikan produk susu formula bayi.
Jakarta, IDN Times — Nestlé mengumumkan rencana melepas sisa bisnis ice cream sebagai bagian dari perombakan strategi global. Langkah ini dilakukan di tengah restrukturisasi perusahaan di bawah kepemimpinan Chief Executive Officer (CEO) baru, Philipp Navratil.
Perusahaan asal Swiss tersebut akan memusatkan bisnis pada empat kategori utama, yakni coffee, petcare, nutrition, serta food & snacks. Penjualan unit ice cream direncanakan kepada perusahaan patungan Froneri, di mana Nestlé masih memegang 50 persen saham.
1. Ice cream dijual ke froneri

Nestlé menyatakan tengah berada dalam tahap negosiasi lanjutan untuk menjual sisa bisnis ice cream kepada Froneri. Perusahaan ini didirikan pada 2016 bersama PAI Partners untuk menaungi sejumlah merek es krim, termasuk Häagen-Dazs.
Dalam siaran pers terkait pembaruan strategi pada Kamis (19/2/2026), Nestlé menyebutkan ada “negosiasi lanjutan untuk penjualan sisa bisnis es krim kami kepada Froneri.” Selain itu, perusahaan juga memulai proses penjajakan mitra untuk unit Nestlé Waters & Premium Beverages pada kuartal I 2026 dan menargetkan dekonsolidasi bisnis tersebut mulai 2027.
Dilansir laman resmi Nestle, data laporan keuangan 2025 menunjukkan kategori Milk products & Ice cream mencatat penjualan sebesar 9.698 juta franc Swiss atau sekitar Rp211,7 triliun (kurs Rp21.828 per franc Swiss), turun dari 10.397 juta franc Swiss (Rp226,8 triliun) pada 2024. Pertumbuhan organik kategori ini tercatat 1,3 persen sepanjang 2025.
Pada kuartal IV-2025, penjualan Milk products & Ice cream sebesar 2.523 juta franc Swiss (Rp55 triliun), dibandingkan 2.749 juta franc Swiss (Rp59,9 triliun) pada periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan organik kuartalan tercatat minus 0,1 persen, dengan pricing minus 0,9 persen dan real internal growth (RIG) 0,7 persen.
2. Restrukturisasi di bawah CEO baru

Navratil memimpin Nestlé sejak September setelah CEO sebelumnya diberhentikan. Ia menyampaikan perusahaan akan disusun ulang untuk berfokus pada empat kategori inti guna menyesuaikan perubahan preferensi konsumen dan meningkatkan efisiensi biaya.
Portofolio akan dipertajam dengan menitikberatkan pada bisnis global utama di Coffee, Petcare, dan Nutrition yang secara gabungan menyumbang sekitar 70 persen penjualan. Nestlé juga mengintegrasikan Nutrition dan Nestlé Health Science menjadi satu unit untuk memperkuat posisi kategori tersebut.
Di sektor Coffee, merek utama mencakup Nescafé, Nespresso, dan Starbucks. Pada Petcare, merek seperti Pro Plan, Purina ONE, dan Friskies menjadi andalan.
Navratil juga menegaskan posisi perusahaan terkait kepemilikan saham di L’Oréal. “Kami adalah pemegang yang bahagia,” ujar Navratil.
3. Kinerja keuangan dan dampak recall

Sepanjang 2025, total penjualan Nestlé tercatat 89,49 miliar franc Swiss (Rp1.951 triliun), turun dari 91,35 miliar franc Swiss (Rp1.992 triliun) pada 2024. Laba bersih turun 17 persen menjadi 9,03 miliar franc Swiss (Rp196,9 triliun).
Untuk kuartal IV, pertumbuhan penjualan organik mencapai 4 persen, melampaui estimasi analis sebesar 3,4 persen. Secara keseluruhan, pertumbuhan organik 2025 tercatat 3,5 persen, dengan kontribusi pricing 2,8 persen dan RIG 0,8 persen.
Nestlé memperkirakan pertumbuhan penjualan organik 2026 berada di kisaran 3 persen hingga 4 persen, termasuk dampak negatif 0,2 poin persentase akibat penarikan produk susu formula bayi. Penarikan tersebut dipicu oleh kontaminasi bahan baku yang mengandung bakteri cereulide, yang dapat menyebabkan mual dan muntah pada bayi. Produk terdampak beredar di lebih dari 60 negara. Navratil menyatakan penarikan telah selesai dan pabrik beroperasi penuh untuk menjaga pasokan.
Langkah pelepasan bisnis ice cream dan penataan portofolio dilakukan bersamaan dengan upaya efisiensi, termasuk rencana pengurangan 16 ribu pekerjaan secara global.











