OJK Sebut Konflik Timur Tengah Kerek Volatilitas Pasar Keuangan Global

- OJK menilai ekonomi global masih cukup kuat berkat pemulihan manufaktur dan kepercayaan konsumen, meski tensi geopolitik seperti di Timur Tengah meningkatkan risiko volatilitas pasar keuangan.
- Perekonomian Amerika Serikat tumbuh hanya 1,4 persen pada kuartal IV-2025, di bawah ekspektasi pasar, dengan tekanan inflasi yang membuat kebijakan suku bunga cenderung bertahan tinggi lebih lama.
- Ekonomi Indonesia tetap solid dengan pertumbuhan 5,39 persen pada kuartal IV-2025 dan inflasi meningkat tipis, sementara keyakinan konsumen serta aktivitas manufaktur masih berada di zona positif.
Jakarta, IDN Times - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebutkan perekonomian global saat ini masih menunjukkan kinerja relatif baik sejalan dengan penguatan kinerja manufaktur global dan tren pemulihan keyakinan konsumen. Hal itu disampaikan langsung oleh Pejabat Sementara (Pjs) Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi dalam konferensi pers penyampaian hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) OJK edisi Februari 2026, Selasa (3/3/2026).
Meski begitu, perempuan yang karib disapa Kiki tersebut menekankan ada potensi volatilitas di pasar keuangan global imbas peningkatan tensi geopolitik.
"Namun, peningkatan tensi geopolitik dan juga fragmentasi geoekonomi pada awal 2026 termasuk di Timur Tengah serta dinamika kebijakan perdagangan di Amerika Serikat menjadi downside risk yang berpotensi meningkatkan volatilitas di pasar keuangan secara global," tutur dia.
1. Perekonomian AS di bawah ekspektasi pasar

Selain itu, Kiki juga mengungkapkan perekonomian Amerika Serikat (AS) yang masih di bawah ekspektasi pasar. Pada kuartal IV-2025, pertumbuhan ekonomi Negeri Paman Sam tumbuh hanya 1,4 persen, jauh di bawah ekspektasi pasar.
"Tekanan inflasi kembali meningkat dan ekspektasi pasar dari pemangkasan suku bunga pada pertengahan tahun mulai menurun dengan kecederungan kebijakan suku bunga higher for longer," kata Kiki.
2. Penilaian atas perekonomian China

Kiki juga turut menyampaikan perkembangan perekonomian di kawasan Asia.
"Perekonomian Tiongkok masih menghadapi tekanan permintaan domestik di tengah berlanjutnya krisis sektor properti meskipun kinerja eksternal masih menjatuhkan surplus," kata dia.
3. Perekonomian domestik

Dari sisi domestik, perekonomian Indonesia pada kuartal IV-2025 mencatat pertumbuhan yang solid sebesar 5,39 persen year on year (yoy) sehingga secara keseluruhan pada 2025 tumbuh 5,11 persen.
"Inflasi headline meningkat terutama akibat efek basis rendah tahun sebelumnya. Indeks keyakinan konsumen masih berada di zona optimis meskipun menunjukkan moderasi dan aktivitas manufaktur tetap berada dalam fase ekspansif pada 2026," kata Kiki.

















