kapal militer AS di Selat Hormuz (Official U.S. Navy Page from United States, Public Domain, via Wikimedia Commons)
Dilansir Democrata, kekhawatiran terhadap ketahanan pasokan minyak kian menguat menyusul penurunan signifikan pergerakan kapal dagang yang melintasi Selat Hormuz. Berdasarkan data Kpler yang dihimpun Reuters, lalu lintas kapal kargo yang melewati selat vital tersebut pada Kamis (17/9/2026) hanya tersisa empat kapal, merosot tajam dari rata-rata 16 kapal pada sepuluh hari sebelumnya. Kerentanan rute pengiriman energi ini sebelumnya telah mendorong negara-negara G7 pada Juni lalu untuk berkomitmen memperbanyak diversifikasi pasokan dan meningkatkan cadangan demi mengurangi ketergantungan pada Selat Hormuz.
Menurut sumber perdagangan yang dilaporkan Reuters, Saudi Aramco diperkirakan akan memobilisasi sekitar 60 juta barel minyak mentah selama September dan Oktober dari Ras Tanura lewat perairan Oman. Rencana pengkajian cadangan darurat oleh G7 ini juga menyusul kebijakan IEA enam bulan lalu yang pernah menyetujui pelepasan terkoordinasi sebesar 400 juta barel minyak mentah. Di samping itu, Macron juga merencanakan pembicaraan dengan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen pada Jumat (18/9/2026) ini untuk meninjau ketersediaan cadangan gas Eropa serta kemungkinan langkah menahan harga.
Macron menegaskan bahwa penanganan gejolak energi harus diselesaikan dari sumber permasalahannya sebelum membebankan pengeluaran baru kepada anggaran negara. “Sebelum menghabiskan sejumlah besar uang, yang merupakan uang pembayar pajak dan pada akhirnya akan diterjemahkan menjadi defisit yang lebih tinggi atau pajak yang lebih tinggi, kita harus tetap fokus pada penanganan akar penyebabnya,” kata Macron. Dia juga menegaskan bahwa Prancis tidak memilih perang ini dan tidak berpartisipasi dalam konflik antara Amerika Serikat dan Iran, kendati turut merasakan dampak ekonominya.