Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Pasokan Minyak Saudi Terganggu, Eropa Cari Pasokan Alternatif
ilustrasi barel minyak (pexels.com/Tony Wu)
  • Saudi Aramco dilaporkan membatalkan pengiriman minyak bulan depan ke setidaknya dua kilang Eropa setelah serangan drone merusak pipa East-West dan mengganggu pemuatan di Yanbu.
  • Kilang Eropa mencari pasokan alternatif, termasuk Orlen yang membeli minyak Laut Utara, sementara Aramco meningkatkan ekspor melalui Teluk dan memperkirakan pemulihan penuh pipa hingga enam pekan.
  • Harga minyak dunia naik sekitar 20 persen; Macron menginisiasi pertemuan energi G7 untuk membahas koordinasi respons, termasuk kemungkinan pelepasan cadangan strategis di tengah merosotnya lalu lintas Selat Hormuz.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Perusahaan minyak milik negara Arab Saudi, Saudi Aramco dilaporkan menghentikan pengiriman minyak mentah untuk bulan depan ke setidaknya dua pelanggan kilang di kawasan Eropa. Langkah penghentian tersebut diberlakukan menyusul serangan pesawat nirawak yang merusak tiga stasiun pompa pada pipa utama East-West. Serangan tersebut memaksa penutupan jaringan pipa dan mengganggu proses pemuatan minyak di pelabuhan Yanbu yang berada di pesisir Laut Merah.

Kondisi itu mendorong sejumlah kilang di Eropa bergerak cepat mencari pasokan pengganti di tengah lonjakan harga energi mentah dunia. Pada saat yang sama, Prancis menginisiasi pertemuan G7 bidang energi untuk memperkuat koordinasi energi dan mengkaji opsi pelepasan cadangan minyak strategis.

1. Penghentian kiriman Saudi dorong kilang cari pasokan pengganti

ilustrasi kilang minyak (unsplash.com/Jakub Pabis)

Kilang-kilang di Eropa biasanya membeli minyak mentah Arab Saudi melalui kontrak berkala yang menjamin kepastian pasokan bulanan. Namun, Saudi Aramco telah memberi tahu para pembeli bahwa pengiriman yang direncanakan untuk bulan depan ditiadakan setelah adanya kerusakan infrastruktur pipa tersebut. Bloomberg News melaporkan pembatalan pasokan itu. Reuters tidak dapat memverifikasi laporan tersebut secara independen, dan Saudi Aramco tidak segera menanggapi permintaan komentar.

Gangguan rantai pasok tersebut langsung memicu para pelaku industri pengolahan minyak di kawasan Eropa mencari alternatif dari produsen lain. Perusahaan kilang asal Polandia, Orlen, dilaporkan telah membeli minyak mentah Laut Utara untuk menggantikan impor dari Arab Saudi yang terganggu, menurut keterangan sejumlah pedagang yang dilaporkan Reuters. Langkah itu menjadi bagian dari upaya kilang Eropa mencari pasokan pengganti.

Dilansir TRT World, Saudi Aramco saat ini sedang berupaya mengaktifkan kembali sebagian pipa East-West dalam beberapa hari ke depan. Pemulihan kapasitas penuh pada jaringan pipa penyalur tersebut diperkirakan membutuhkan waktu hingga enam pekan. Demi menambal berkurangnya volume muatan melalui Laut Merah, perusahaan tersebut meningkatkan ekspor minyak mentah lewat Teluk menggunakan metode transfer antarkapal di lepas pantai pelabuhan Sohar, Oman.

2. Macron inisiasi pertemuan G7 bahas opsi cadangan strategis

Presiden Prancis Emmanuel Macron (Kremlin.ru, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons)

Terganggunya distribusi minyak dari Arab Saudi berlangsung bersamaan dengan naiknya harga minyak mentah dunia sekitar 20 persen dalam bulan ini. Kenaikan harga tersebut didorong oleh ketegangan konflik antara Amerika Serikat dan Iran serta aksi pertempuran milisi Houthi di Yaman. Pada Jumat, harga minyak mentah Brent diperdagangkan sekitar 104 dolar AS atau setara Rp1,85 juta (kurs Rp17.750) per barel, di tengah kekhawatiran atas kapasitas Saudi dan evolusi konflik.

Menghadapi tekanan pasar tersebut, Presiden Prancis Emmanuel Macron menyatakan akan menggelar pertemuan G7 bidang energi dalam beberapa pekan ke depan. Prancis, yang memegang posisi kepresidenan G7 tahun ini, berupaya menyatukan langkah negara-negara maju untuk meredam lonjakan harga. Salah satu opsi yang diusulkan Macron adalah kembali menggunakan cadangan strategis terkoordinasi melalui Badan Energi Internasional (IEA). Pengumuman itu disampaikan setelah Macron berdiskusi secara tertutup dengan para pimpinan partai politik dan kandidat pemilihan presiden Prancis 2027.

Macron menegaskan bahwa lonjakan harga bahan bakar saat ini merupakan akibat langsung dari eskalasi konflik geopolitik internasional dan bukan timbul dari keputusan pemerintah. “Dalam beberapa pekan ke depan, kami akan mengadakan pertemuan G7 yang dikhususkan untuk masalah-masalah energi ini,” tutur Macron. Dia menambahkan bahwa agenda pertemuan tersebut akan menjadi momentum “untuk mempertimbangkan opsi bagi kemungkinan pelepasan atau pembukaan cadangan strategis”.

3. Lalu lintas Selat Hormuz merosot di tengah tensi kawasan

kapal militer AS di Selat Hormuz (Official U.S. Navy Page from United States, Public Domain, via Wikimedia Commons)

Dilansir Democrata, kekhawatiran terhadap ketahanan pasokan minyak kian menguat menyusul penurunan signifikan pergerakan kapal dagang yang melintasi Selat Hormuz. Berdasarkan data Kpler yang dihimpun Reuters, lalu lintas kapal kargo yang melewati selat vital tersebut pada Kamis (17/9/2026) hanya tersisa empat kapal, merosot tajam dari rata-rata 16 kapal pada sepuluh hari sebelumnya. Kerentanan rute pengiriman energi ini sebelumnya telah mendorong negara-negara G7 pada Juni lalu untuk berkomitmen memperbanyak diversifikasi pasokan dan meningkatkan cadangan demi mengurangi ketergantungan pada Selat Hormuz.

Menurut sumber perdagangan yang dilaporkan Reuters, Saudi Aramco diperkirakan akan memobilisasi sekitar 60 juta barel minyak mentah selama September dan Oktober dari Ras Tanura lewat perairan Oman. Rencana pengkajian cadangan darurat oleh G7 ini juga menyusul kebijakan IEA enam bulan lalu yang pernah menyetujui pelepasan terkoordinasi sebesar 400 juta barel minyak mentah. Di samping itu, Macron juga merencanakan pembicaraan dengan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen pada Jumat (18/9/2026) ini untuk meninjau ketersediaan cadangan gas Eropa serta kemungkinan langkah menahan harga.

Macron menegaskan bahwa penanganan gejolak energi harus diselesaikan dari sumber permasalahannya sebelum membebankan pengeluaran baru kepada anggaran negara. “Sebelum menghabiskan sejumlah besar uang, yang merupakan uang pembayar pajak dan pada akhirnya akan diterjemahkan menjadi defisit yang lebih tinggi atau pajak yang lebih tinggi, kita harus tetap fokus pada penanganan akar penyebabnya,” kata Macron. Dia juga menegaskan bahwa Prancis tidak memilih perang ini dan tidak berpartisipasi dalam konflik antara Amerika Serikat dan Iran, kendati turut merasakan dampak ekonominya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article