Minyak Dunia Dekati 108 Dolar AS Imbas Pipa Utama Arab Saudi Diserang

- Arab Saudi menutup pipa minyak Timur-Barat setelah serangan di Riyadh dan Madinah, menghentikan jalur berkapasitas hingga 7 juta barel per hari menuju Laut Merah.
- Penutupan pipa mendorong Brent naik 3,19 persen ke 107,95 dolar AS per barel dan WTI ke 103,19 dolar AS, di tengah kekhawatiran pasokan energi global.
- Krisis turut menunda pertemuan Iran-negara Teluk soal jalur pelayaran Selat Hormuz, sementara konflik Washington-Teheran telah mendorong reli minyak 77 persen sepanjang tahun.
Jakarta, IDN Times - Harga minyak mentah dunia melonjak mendekati 108 dolar AS atau setara Rp1.905.984 (kurs Rp17.648) per barel pada Senin (14/9/2026). Lonjakan harga ini dipicu oleh keputusan Arab Saudi yang menutup jaringan pipa minyak utama Timur-Barat (East-West) usai terjadinya rentetan serangan di wilayahnya.
Langkah penutupan tersebut memutus jalur vital ekspor minyak mentah yang selama ini digunakan untuk menghindari kekacauan pengiriman di Selat Hormuz akibat perang Amerika Serikat dan Iran. Situasi ini langsung memicu kekhawatiran pasar terhadap krisis pasokan energi global yang kian mendalam.
1. Operasi pipa ditutup setelah serangan di Riyadh dan Madinah

ilustrasi kilang minyak (unsplash.com/Jakub Pabis) Dilansir The National, minyak mentah Brent yang menjadi acuan dua pertiga minyak dunia sempat naik hingga 3,7 persen sebelum diperdagangkan menguat 3,19 persen ke level 107,95 dolar AS atau setara Rp1.905.101 per barel pada pukul 08.05 waktu Uni Emirat Arab. Pada saat yang sama, minyak West Texas Intermediate (WTI) tercatat naik 3,14 persen menjadi 103,19 dolar AS atau setara Rp1.821.097 per barel. Komoditas gas alam Eropa juga mencatatkan penguatan harga dengan lonjakan mencapai 3,8 persen akibat perkembangan situasi tersebut.
Kementerian Energi Arab Saudi menyatakan telah menghentikan operasional pipa minyak Timur-Barat sebagai langkah pencegahan pada Jumat (11/9/2026) malam. Penghentian tersebut dilakukan setelah terjadinya sejumlah serangan di kawasan Riyadh dan Madinah pada Kamis (10/9/2026) yang menimbulkan korban luka-luka. Kementerian Energi Arab Saudi tidak memberikan rincian terkait kerusakan fisik yang dialami pipa tersebut maupun kepastian waktu dimulainya kembali aliran minyak mentah.
Pipa transmisi tersebut memiliki fungsi penting dalam menghubungkan fasilitas produksi minyak di Provinsi Timur dengan kawasan Yanbu di pesisir barat Arab Saudi. Kapasitas pemompaan penuh pada pipa Timur-Barat ini mencapai sekitar 7 juta barel per hari. Jalur darat ini memungkinkan produsen minyak terbesar Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak Bumi (OPEC) tersebut mengapalkan minyak melalui pelabuhan Laut Merah tanpa melintasi ketegangan di Selat Hormuz.
2. Pasar energi merespons lonjakan harga dan ancaman pasokan

ilustrasi kapal tanker (unsplash.com/Shaah Shahidh) Ahli strategi riset di Pepperstone, Ahmad Assiri, menyatakan bahwa pipa Timur-Barat sebelum ditutup memasok 6 hingga 7 juta barel per hari bagi pasar dunia atau mewakili 30 hingga 40 persen pasokan minyak mentah dari kawasan Teluk. "Reaksi pasar sangat jelas dan mendorong harga minyak melampaui angka 100 dolar AS, serta menyentuh 110 dolar AS dalam perdagangan harian," kata Assiri. Sebagai gambaran nilai tukar, 100 dolar AS setara dengan Rp1.764.800 dan 110 dolar AS setara dengan Rp1.941.280. Assiri menambahkan bahwa jika gangguan pada pipa krusial ini terus berlanjut, pasar akan terpaksa menetapkan harga minyak mentah jauh lebih tinggi seperti level pada awal konflik.
Analis pasar minyak senior di Sparta Commodities SA, June Goh, menilai bahwa dampak gangguan ini sangat bergantung pada lamanya penghentian operasi pipa. “Semuanya bermuara pada durasi,” kata Goh sebagaimana dilaporkan Bloomberg. Goh menjelaskan bahwa apabila aliran minyak dapat dipulihkan secara cepat, dampaknya akan terbatas karena persediaan minyak di Yanbu dapat dimanfaatkan, namun penutupan yang berlarut-larut dapat memaksa dilakukannya pemangkasan produksi.
Kekhawatiran pasar terhadap pasokan jangka pendek terlihat dari selisih kontrak terdekat minyak Brent yang mengalami backwardation sebesar 5,53 dolar AS atau setara Rp97.593 per barel. Angka selisih harga tersebut meningkat dibandingkan posisi sepekan sebelumnya yang berada di angka 3,84 dolar AS atau setara Rp67.768 per barel. Kondisi pasar bullish ini mencerminkan tingginya premi untuk harga pengiriman minyak segera dibandingkan dengan jadwal pengiriman berikutnya di tengah kekhawatiran pasokan jangka pendek.
3. Krisis kawasan meluas hingga hambatan diplomasi maritim

Selat Hormuz (MODIS Land Rapid Response Team, NASA GSFC, Public Domain, via Wikimedia Commons) Dilansir The Edge SIngapore, krisis ini turut memukul upaya diplomatik di kawasan setelah rencana pertemuan antara Iran dan beberapa negara Teluk pada Senin (14/9/2026) resmi ditunda menurut keterangan Menteri Luar Negeri Oman, Badr Albusaidi. Pertemuan tersebut mulanya diagendakan untuk membahas pembentukan jalur pelayaran sementara melintasi Selat Hormuz. Sebelum pembatalan diumumkan, Bahrain telah menyatakan ketidakhadirannya antara lain karena serangan terhadap pipa Timur-Barat, sementara Riyadh juga dilaporkan memiliki keraguan terhadap rencana tersebut.
Di sisi lain, para pelaku pasar terus memantau dampak pergerakan militer kelompok militan Houthi yang didukung Iran di sepanjang pesisir Laut Merah Yaman. Kemajuan teritorial kelompok tersebut membuka peluang peningkatan kendali mereka atas Selat Bab el-Mandeb yang merupakan titik sempit maritim penting dunia. Sementara itu, pemerintah Irak mulai bergerak untuk meredam dampak serangan terhadap pipa Arab Saudi setelah serangan tersebut teridentifikasi diluncurkan dari dalam wilayah Irak.
Ketegangan antara Washington dan Teheran telah memicu reli harga minyak mentah sebesar 77 persen sepanjang tahun ini dan memberi guncangan inflasi terhadap perekonomian global. Menteri Keuangan Amerika Serikat, Scott Bessent, menyatakan bakal mengumumkan sanksi terhadap bank besar pada Senin (14/9/2026) guna memaksa Teheran menyerah, seiring langkah Angkatan Laut Amerika Serikat yang memblokade pelabuhan Iran untuk membatasi ekspor energinya. Kenaikan harga minyak, gas, dan bahan bakar minyak ini, ditambah data inflasi Amerika Serikat yang meningkat pada Agustus, kian memperkuat ekspektasi pasar terhadap potensi kenaikan suku bunga acuan oleh Federal Reserve.





















