Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Pemerintah Mau Salurkan Bantuan Telur dan Ayam Lagi? Ini Kata Bapanas

Pemerintah Mau Salurkan Bantuan Telur dan Ayam Lagi? Ini Kata Bapanas
Masrokan, peternak telur ayam di Kabupaten Lampung. (IDN Times/Istimewa).
Intinya Sih
  • Bapanas belum memutuskan kelanjutan program bantuan telur dan daging ayam tahun ini, menunggu hasil rapat koordinasi terbatas bidang pangan.
  • Harga ayam broiler dan telur mulai naik di tingkat peternak, dipicu meningkatnya permintaan setelah libur sekolah dan berjalannya kembali program Makan Bergizi Gratis.
  • Peternak berharap program bantuan pangan digulirkan lagi karena sebelumnya membantu stabilisasi harga serta mendukung penanganan stunting melalui kemitraan dengan ribuan peternak rakyat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Badan Pangan Nasional (Bapanas) belum memutuskan apakah program bantuan pangan berupa telur dan daging ayam akan kembali digulirkan pada tahun ini. Keputusan tersebut masih menunggu hasil rapat koordinasi terbatas (rakortas) bidang pangan.

"(Bantuan pangan telur dan daging ayam) belum ada keputusan rakortas. Tentu nanti kita masih perlu menunggu. Jika dimungkinkan diputuskan, (tentu) kita lakukan," kata Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa dalam keterangan tertulis, Sabtu (18/7/2026).

Sebagai informasi, pada 2023 dan 2024, Bapanas menugaskan ID FOOD melalui Kementerian BUMN untuk menyalurkan bantuan pangan bagi penanganan stunting kepada 1,4 juta keluarga. Setiap keluarga menerima 1 kilogram daging ayam dan 10 butir telur setiap bulan selama tiga bulan.

Program itu juga melibatkan ribuan peternak rakyat, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Hingga 2024, tercatat 8.778 peternak bermitra dalam penyaluran bantuan tersebut, terdiri atas 6.895 peternak ayam petelur dan 1.883 peternak ayam broiler.

1. Harga ayam dan telur mulai membaik

Pemerintah Mau Salurkan Bantuan Telur dan Ayam Lagi? Ini Kata Bapanas
Harga Ayam, Telur, hingga Jeruk di Bandung Turun Usai MBG Diliburkan. IDN Times/Debbie SUtrisno

Ketut menyebut harga ayam broiler dan telur di tingkat peternak mulai menunjukkan tren positif. Menurut dia, perbaikan harga dipengaruhi berakhirnya bulan Suro, dimulainya kembali kegiatan sekolah, serta beroperasinya lagi program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Dia mengatakan, ketiga faktor tersebut mendorong peningkatan permintaan sehingga harga di tingkat peternak mulai bergerak naik.

"Nah kalau ini sudah dilewati, tentu harga akan mulai terkoreksi positif bagi peternak kita. Tolong biarkan dulu peternak kita menikmati, sehingga mencapai harga acuan yang kita tetapkan," ujarnya.

2. Harga ayam broiler naik 5,53 persen dalam sepekan

IMG_20260706_101114.jpg
Harga Ayam, Telur, hingga Jeruk di Bandung Turun Usai MBG Diliburkan. IDN Times/Debbie SUtrisno

Berdasarkan data Bapanas per 16 Juli 2026, rata-rata harga ayam broiler di tingkat peternak secara nasional naik 5,53 persen dalam sepekan, dari Rp20.878 menjadi Rp22.032 per kilogram berat hidup.

Sumatera Selatan menjadi daerah dengan harga ayam broiler terendah, yakni Rp19.500 per kilogram berat hidup. Sementara harga tertinggi tercatat di Riau sebesar Rp26.000 per kilogram.

Di tingkat konsumen, harga daging ayam ras juga mengalami kenaikan. Namun, rata-ratanya masih berada di bawah Harga Acuan Penjualan (HAP) Rp40.000 per kilogram.

Sementara itu, rata-rata harga telur di tingkat peternak naik 2,2 persen dalam sepekan, dari Rp22.495 menjadi Rp22.989 per kilogram. Harga tertinggi tercatat di Sulawesi Utara sebesar Rp27.067 per kilogram atau sudah melampaui HAP Rp26.500 per kilogram. Sebaliknya, harga di Banten masih berada di bawah HAP, yakni Rp21.250 per kilogram.

Lebih lanjut, rata-rata harga telur ayam ras di tingkat konsumen mencapai Rp27.798 per kilogram atau masih sekitar 7,34 persen di bawah HAP sebesar Rp30.000 per kilogram.

3. Peternak berharap bantuan pangan kembali digulirkan

Riyanto
Sajad peternak ayam pedaging di Desa Gelung, Kecamatan Paron Ngawi. IDN Times/Riyanto.

Anggota Gabungan Peternak Rakyat Solo Raya Parjuni mengatakan turunnya harga produk unggas sebelumnya dipengaruhi melemahnya permintaan masyarakat. Kondisi itu terjadi saat bulan Suro dan ketika program MBG dihentikan sementara selama libur sekolah.

Meski demikian, dia menilai harga telur di tingkat peternak mulai berangsur membaik, meski belum mencapai Harga Acuan Pembelian (HAP). Menurutnya, harga telur yang sebelumnya berada di kisaran Rp17.000-Rp18.000 per kilogram kini meningkat menjadi sekitar Rp20.000-Rp21.000 per kilogram.

"(Dahulu) itu kan ada program stunting. Barangkali nanti bisa dibikin pola yang sama. Jadi konsepnya (dibahas) sekarang, September aplikasi. Itu saya kira nanti akan mengatasi," kata Parjuni.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More