Penjualan BYD Turun 8 Bulan Beruntun, Ekspor Naik 35 Persen

- Penjualan BYD di pasar domestik turun delapan bulan berturut-turut hingga April 2026, dengan penurunan 15,5 persen dibanding tahun sebelumnya akibat melemahnya permintaan dan persaingan ketat.
- Ekspor kendaraan BYD melonjak 35 persen menjadi 130 ribu unit pada April 2026, kini menyumbang lebih dari 40 persen total penjualan bulanan dan menjadi sumber pendapatan utama baru.
- Untuk menghadapi penurunan keuntungan dan pasar lesu, BYD meluncurkan teknologi pengisian cepat, memperluas jaringan stasiun daya, serta memperkenalkan SUV listrik premium Datang guna menarik segmen kelas atas.
Jakarta, IDN Times - Perusahaan kendaraan listrik asal China, BYD, kembali mencatat penurunan penjualan kendaraan pada bulan April 2026. Penurunan ini terjadi selama delapan bulan berturut-turut di pasar dalam negeri dan menjadi rekor penurunan terpanjang yang pernah dialami oleh perusahaan tersebut.
Berbeda dengan kondisi di dalam negeri yang sedang lesu, kinerja ekspor BYD justru menunjukkan hal yang sebaliknya. Pengiriman mobil penumpang dan pikap ke luar negeri naik sebesar 35 persen, yang kini menjadi sumber pendapatan baru bagi perusahaan yang berpusat di Shenzhen tersebut.
1. Rekor penurunan penjualan di pasar dalam negeri

Berdasarkan data dari unggahan eksekutif BYD, Li Yunfei, perusahaan berhasil menjual 321.123 unit kendaraan energi baru pada April 2026. Jumlah tersebut turun 15,5 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Kondisi ini memperpanjang rekor penurunan penjualan yang sebelumnya hanya berlangsung selama enam bulan pada akhir tahun 2019.
Penurunan permintaan di pasar dalam negeri menjadi penyebab utamanya. Berkurangnya subsidi tukar tambah untuk kendaraan listrik tipe dasar dan plug-in hybrid membuat konsumen beralih ke model yang lebih mahal. Selain itu, persaingan dengan Geely dan Leapmotor semakin ketat untuk memperebutkan pasar mobil dengan harga di bawah 150 ribu yuan (Rp382,59 juta).
"BYD butuh peningkatan jumlah penjualan di dalam negeri secara bertahap pada kuartal kedua. Mereka juga perlu memastikan pasar kembali pulih secara stabil di kuartal ketiga agar total keuntungan perusahaan bisa membaik," kata Eugene Hsiao, Kepala Strategi Ekuitas China di Macquarie Capital, dilansir MarketScreener.
2. Ekspor mobil ke luar negeri meningkat

Saat pasar dalam negeri turun, penjualan luar negeri BYD justru naik 35 persen menjadi 130 ribu unit pada April 2026. Data ini dihitung berdasarkan unggahan Li Yunfei di media sosial Weibo. Peningkatan ini memperbaiki kondisi pada bulan Maret lalu, di mana penjualan mereka sempat turun 20,5 persen.
Ekspor saat ini menyumbang lebih dari 40 persen dari total penjualan bulanan BYD, yang mengubah sumber pendapatan perusahaan secara berarti. Analis Morningstar, Vincent Sun, memperkirakan ekspor BYD akan tumbuh 25 hingga 30 persen tahun ini, sedangkan total penjualan kendaraan secara keseluruhan diperkirakan hanya naik sekitar 12 persen.
"Bagi BYD, industri otomotif adalah bisnis jangka panjang yang butuh investasi terus-menerus. Sangat sempit pemikirannya jika kami hanya mengejar peringkat penjualan untuk satu atau dua bulan saja," kata Li Yunfei.
Perusahaan juga telah menaikkan target penjualan luar negeri menjadi 1,5 juta unit pada tahun 2026.
3. Strategi perusahaan mengatasi penurunan penjualan

Meski ekspor tumbuh cepat, Eugene Hsiao mengingatkan bahwa penjualan luar negeri mungkin belum cukup untuk menutupi penurunan di pasar dalam negeri jika kondisi ini terus terjadi. BYD juga mengalami penurunan keuntungan bersih pada kuartal pertama sebesar 55,4 persen. Penurunan ini adalah yang paling cepat sejak 2020 karena adanya persaingan harga dan naiknya biaya suku cadang.
Untuk mengatasi tantangan tersebut, BYD meluncurkan mobil dengan baterai yang bisa diisi daya dengan sangat cepat. Mereka juga membangun jaringan stasiun pengisian daya cepat untuk memperkuat teknologi perusahaan. Selain itu, BYD menaikkan harga sistem bantuan pengemudi buatan mereka sendiri karena naiknya biaya perangkat keras penyimpanan data di seluruh dunia.
Pada pameran mobil di Beijing, BYD mulai membuka pemesanan awal untuk SUV listrik berukuran besar bernama Datang, yang menyasar pasar kelas atas. Langkah ini membuat BYD bersaing langsung dengan merek mobil mewah dari Eropa. Hal tersebut dilakukan karena perusahaan berusaha memperbanyak jenis produk mereka di tengah kondisi pasar dalam negeri yang belum stabil.



















