Harga Kondom Berpotensi Naik 30 Persen akibat Perang Iran-AS

- Perang Iran-AS-Israel bikin rantai pasok terganggu, produsen kondom terbesar dunia Karex Bhd berencana naikkan harga 20–30 persen.
- Karex produksi 5 miliar kondom per tahun untuk merek global dan program kesehatan, namun biaya bahan baku melonjak tajam.
- Meskipun stok masih aman beberapa bulan, pengiriman ke Eropa dan AS kini dua kali lebih lama akibat konflik.
Jakarta, IDN Times - Dampak perang Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel melebar ke sejumlah sektor bisnis. Salah satu yang terdampak adalah bisnis kondom.
Dilansir dari theguardian.com, produsen kondom terbesar di dunia dari Malaysia, Karex Bhd, menyampaikan akan menaikkan harga produknya 20 hingga 30 persen. Sebab, rantai pasok produk Karex terganggu akibat perang Iran dengan AS dan ISrael.
“Situasinya jelas sangat rapuh, harga mahal … Kami tidak punya pilihan selain meneruskan biaya tersebut kepada pelanggan saat ini,” ujar CEO Karex, Goh Miah Kiat dilansir dari theguardian yang mengutip Reuters, Jumat (24/4/2026).
Table of Content
1. Karex produksi kondom lebih dari 5 miliar dalam setahun

Karex memproduksi 5 miliar kondom dalam setahun. Mereka memasok untuk merek Durex dan Trojan. Karex juga membantu program sistem kesehatan nasional seperti NHS di Inggris dan program bantuan global yang dilakukan Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB).
Sejak konflik di Iran meletus, Karex mengalami kenaikan biaya untuk berbagai bahan, mulai dari karet sintetis dan nitril yang digunakan dalam produksi kondom hingga bahan kemasan dan pelumas seperti aluminium foil dan minyak silikon.
2. Karex memiliki persediaan yang cukup untuk beberapa bulan

Meski demikian, Goh menyampaikan, Karex masih memiliki persediaan yang cukup untuk beberapa bulan. Dia mengaku, produksinya tidak bisa dikurangi karena tingginya permintaan.
Menurut Goh, permintaan kondom juga meningkat 30 persen. Hal itu juga dipengaruhi akibat adanya gangguan pengiriman.
3. Pengiriman ke Eropa dan AS memakan waktu lebih lama tiba

Lebih lanjut, Goh mengatakan, pengiriman ke Eropa dan AS memakan waktu lebih lama dari biasanya. Sebelum ada perang, pengiriman produk ke dua benua itu hanya satu bulan, kini harus menghabiskan waktu dua bulan.
“Kami melihat semakin banyak kondom yang sebenarnya masih berada di kapal dan belum tiba di tujuan, padahal sangat dibutuhkan,” kata Goh.


















