PM Kanada Tegaskan Negaranya Siap Ladeni Perang Tarif Donald Trump

- PM Kanada Mark Carney menghentikan perundingan dagang dengan AS setelah tuntutan Washington dinilai membebani otomotif, budaya lokal, dan hak Kanada menjalin kerja sama dagang.
- AS mengenakan tarif 50 persen pada sekitar 20 miliar dolar AS produk Kanada; Ottawa membalas setara nilai dolar dan memperkirakan 56 ribu pekerjaan berisiko terdampak.
- Carney mendapat dukungan politik domestik untuk mempertahankan kedaulatan ekonomi, sambil memperluas kerja sama global dan membuka negosiasi jika AS menawarkan hubungan saling menguntungkan.
Jakarta, IDN Times - Perdana Menteri Kanada Mark Carney menegaskan negaranya siap menghadapi perang tarif dengan Amerika Serikat demi membangun perekonomian yang mandiri serta berdaya tahan. Langkah tegas tersebut diambil setelah perundingan dagang bilateral menemui jalan buntu akibat desakan sepihak dari Presiden Donald Trump.
Carney menyampaikan komitmen tersebut di hadapan para investor global dalam acara Canada Investment Summit di Toronto, Selasa (15/9/2026). Ia menekankan bahwa Ottawa memilih menunggu kondisi yang tepat daripada terburu-buru menyepakati perjanjian dagang yang merugikan kedaulatan nasional mereka.
Table of Content
1. Tuntutan sepihak Washington memicu kebuntuan perundingan

Gedung Putih, Washington D.C. (unsplash.com/Tabrez Syed) Sebelumnya, Carney menginstruksikan tim negosiator Kanada untuk menarik diri dari meja perundingan. Ia menyampaikan hal itu di Ottawa pada Sabtu (22/8). Keputusan itu diambil usai pemerintahan Trump menyodorkan syarat mendadak yang membebani sektor otomotif, perlindungan budaya lokal, hingga pembatasan hak Kanada dalam menjalin kerja sama dagang dengan negara lain.
Dilansir CBC News, Carney menyebut Amerika Serikat menuntut terlalu banyak konsesi tetapi hanya menawarkan sedikit keuntungan. Carney menilai sikap Washington itu menunjukkan Amerika Serikat tidak tertarik membangun kemitraan ekonomi sejati dengan Kanada.
Pemerintah Kanada menolak keras campur tangan delegasi Amerika Serikat yang mempersoalkan subsidi budaya Prancis, keberadaan media daring berbahasa Prancis, hingga kewajiban label dwibahasa pada kemasan produk.
"Kami tidak bisa menerima apa yang telah mereka tawarkan, dan kami tidak akan memberikan apa yang mereka minta," tegas Carney di Ottawa.
Carney mengkritik pendekatan transaksional dan zero-sum yang makin mewarnai kebijakan dagang Amerika Serikat. Ia menilai integrasi ekonomi dan kedaulatan nasional semakin berada dalam ketegangan.
Pemerintahan Trump juga dinilai kerap mengubah dalih penetapan tarif secara sepihak, antara lain fentanil, asap kebakaran hutan, kuota susu, sertifikasi pesawat AS, hingga iklan anti-tarif Doug Ford yang mengutip Ronald Reagan. Menanggapi ketidakkonsistenan itu, Carney menyindir bahwa kadang-kadang tanda tangan Amerika Serikat ditulis dengan pensil.
2. Dampak tarif miliaran dolar dan respons balasan Ottawa

ilustrasi pesawat kargo (unsplash.com/Patrick Campanale) Buntut dari kebuntuan perundingan tersebut, Amerika Serikat memberlakukan tarif impor 50 persen atas sekitar 20 miliar dolar AS atau setara Rp352,9 triliun (kurs Rp17.648) produk Kanada. Pemerintah federal Kanada memperkirakan kebijakan itu berdampak pada sekitar 27 miliar dolar AS barang Kanada atau setara Rp476,5 triliun.
Dilansir CBC News, Ottawa merespons kebijakan itu dengan menerapkan tarif balasan yang seimbang secara nominal dolar demi dolar (dollar-for-dollar). Walau tensi perdagangan kedua negara memanas, Carney mencatat bahwa sekitar 80 persen nilai perdagangan bilateral saat ini sebenarnya masih berlangsung bebas tarif.
Pemerintah federal memperkirakan ancaman proteksionisme tersebut berisiko menekan sekitar 56 ribu lapangan kerja di Kanada. Sebagai langkah memperkuat kemandirian ekonomi, Ottawa merencanakan konsesi jangka panjang pengelolaan empat bandara terbesar kepada pihak swasta dengan tetap mempertahankan kepemilikan publik atas tanah dan aset.
Carney menjelaskan bahwa skema investasi ini berpotensi menghimpun puluhan miliar dolar untuk mendanai sektor transportasi dan infrastruktur nasional.
3. Dukungan politik domestik untuk mempertahankan kedaulatan

Perdana Menter Kanada Mark Carney (World Economic Forum, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons) Langkah tegas yang diambil Carney mendapat dukungan dari sejumlah tokoh politik domestik di Kanada. Premier Ontario Doug Ford menyambut baik keputusan pemerintah federal yang menolak menandatangani kesepakatan tersebut karena dinilai sangat merugikan industri baja, otomotif, dan manufaktur.
Ford menyatakan bahwa Kanada berada dalam posisi bersatu serta siap memberikan perlawanan ekonomi demi mengingatkan Washington akan peran penting Ottawa sebagai pelanggan utama mereka.
Dukungan serupa turut disuarakan oleh Pemimpin Partai Konservatif Pierre Poilievre yang menegaskan partainya menolak tarif sepihak yang dapat memicu deindustrialisasi di negaranya. Poilievre berharap dapat berbicara dengan Carney untuk membahas langkah membela pekerja, bisnis, dan ekonomi Kanada.
Di sisi lain, saat mengumumkan penarikan negosiator pada akhir Agustus lalu, Carney berjanji akan merilis rincian dukungan bagi bisnis terdampak bersamaan dengan langkah tarif balasan Kanada, dan menegaskan komitmen untuk mendukung mereka selama diperlukan.
Ottawa kini melangkah untuk mempererat kerja sama ekonomi dengan mitra global lainnya dan mengagendakan pidato resmi di Parlemen Eropa. Carney menegaskan bahwa ruang perundingan tetap terbuka apabila Amerika Serikat bersedia kembali menjalin hubungan yang saling menguntungkan.
"Ketika peluang itu kembali, Kanada akan menjadi mitra yang lebih baik — lebih kuat, lebih berdaya tahan, lebih mandiri," tutur Carney.




















