PLN Gandeng Pakar Matangkan Proyek Transmisi HVDC

- PLN bersama pemerintah mematangkan dua proyek transmisi HVDC sesuai RUPTL 2025–2034 untuk memperkuat ketahanan energi nasional dan mendorong efisiensi sumber daya domestik.
- Interkoneksi antarpulau seperti Sumatra–Jawa dinilai krusial guna memastikan keandalan sistem kelistrikan nasional di tengah transisi energi, dengan dukungan kolaborasi lintas sektor dan pakar global.
- Pemerintah menargetkan tambahan kapasitas pembangkit 69,5 GW, mayoritas dari energi terbarukan, serta menyiapkan dukungan fiskal Rp402,4 triliun dan proyeksi investasi listrik lebih dari 500 miliar dolar AS.
Jakarta, IDN Times - Pemerintah dan PT PLN (Persero) telah mematangkan rencana pembangunan dua proyek transmisi High Voltage Direct Current (HVDC). Hal itu sejalan dengan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034.
Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, mengatakan penguatan ketahanan energi nasional memerlukan kerja sama lintas sektor yang kuat dengan mengedepankan pemanfaatan sumber daya domestik efisien dan berkelanjutan.
Hal tersebut dibahas dalam Workshop "HVDC Transmission: Indonesia’s Green Enabling Interconnection" yang digelar Masyarakat Ketenagalistrikan Indonesia (MKI) bersama CIGRE Indonesia di Kantor Pusat PLN, Jakarta, Senin (20/4/2026).
"Dengan semangat kebersamaan, kita bisa menciptakan masa depan energi yang lebih baik. Kami ingin menghadirkan energi yang lebih terjangkau, mendorong investasi lebih besar, serta mempercepat pembangunan nasional," kata Darmawan dalam keterangan tertulis, Selasa (21/4/2026).
1. Urgensi jaringan transmisi untuk integrasi energi

Indonesia membutuhkan jaringan transmisi hingga 48 ribu kilometer (km) sebagai bagian dari strategi transisi energi nasional. Itu untuk menjembatani ketimpangan antara pusat sumber energi terbarukan di daerah terpencil dengan pusat permintaan listrik kawasan ekonomi utama.
Saat ini, PLN tengah menyiapkan proyek prioritas interkoneksi Sumatra-Jawa menggunakan teknologi HVDC dengan panjang sirkuit 112 km.
Pembahasan teknis mengenai penerapan teknologi tersebut turut didalami dalam forum tersebut melalui sesi lecture yang disampaikan President of CIGRE, Prof. Dr. Konstantin Papailiou, bersama perwakilan dari technology leader seperti GE Vernova, Hitachi Energy, Siemens Energy, dan State Grid Power Indonesia.
2. Interkoneksi antarpulau sebagai kebutuhan mendesak

Ketua Umum MKI, Suroso Isnandar, yang juga menjabat sebagai Direktur Manajemen Proyek dan Energi Baru Terbarukan PLN menyatakan konektivitas antarpulau seperti Sumatra dan Jawa kini menjadi kebutuhan krusial, bukan lagi sekadar wacana.
Menurut Suroso, interkoneksi ini penting untuk memastikan keandalan sistem kelistrikan nasional di tengah upaya transisi energi.
"Interkoneksi ini bukan lagi wacana, tetapi kebutuhan krusial untuk mendukung transisi energi dan memastikan keandalan sistem kelistrikan nasional," paparnya.
Sebanyak 221 peserta dari kalangan regulator hingga industri global hadir dalam workshop tersebut. MKI mempertemukan para pihak tersebut untuk menyamakan persepsi terkait transisi energi dan teknis perluasan akses listrik di Tanah Air.
3. Target pembangkit dan proyeksi investasi

Indonesia tengah mengejar penambahan kapasitas pembangkit baru sebesar 69,5 gigawatt (GW). Sebanyak 76 persen dari target tersebut berasal dari energi terbarukan seperti surya, air, angin, dan panas bumi, yang didukung sistem penyimpanan energi berupa baterai dan pumped-storage hydropower.
Target EBT tersebut meliputi 17,1 GW tenaga surya, 11,7 GW air, 7,2 GW angin, dan 5,2 GW panas bumi. Di luar target tersebut, Presiden Prabowo Subianto menargetkan tambahan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 100 GW untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Pemerintah telah menyiapkan dukungan fiskal ketahanan energi sebesar Rp402,4 triliun pada 2026. Sementara itu, proyeksi investasi sektor ketenagalistrikan diprediksi melampaui 500 miliar dolar AS.
Selain aspek teknis, diskusi dalam workshop tersebut juga mencakup opsi pendanaan swasta dan model bisnis proyek HVDC, dengan melibatkan perwakilan dari PLN, Kansai Electric Power Indonesia, Voksel, serta KEPCO.


















