Direktur Utama PT Energi Pelabuhan Indonesia, Andriyuda Siahaan mengatakan, pihaknya telah melakukan uji coba Onshore Power Supply di Tanjung Priok dan hasilnya menunjukkan efisiensi penggunaan BBM sekitar 700 liter atau setara dengan 50–60% dalam satu kali sandar. (dok. PLN)
Direktur Utama PT Energi Pelabuhan Indonesia, Andriyuda Siahaan mengatakan, pengembangan OPS rencananya akan dilakukan secara bertahap mulai dari kawasan Pelabuhan Tanjung Priok sebanyak 24 unit pada 2027 dan berpotensi direplikasi ke terminal multipurpose, dermaga umum, serta pelabuhan lain hingga mencapai 123 unit OPS pada 2050.
Sementara itu, melalui hasil uji coba OPS di Tanjung Priok, lanjut Andriyuda, menunjukkan adanya efisiensi penggunaan bahan bakar minyak (BBM) yang signifikan dalam satu kali sandar.
“Kita lakukan uji coba, tidak sampai 24 jam efisiensinya mencapai sekitar 700 liter (setara 50 hingga 60 persen per hari sandar). Tidak sampai 24 jam,” ujar Andriyuda.
Ia menambahkan, manfaat dari efisiensi tersebut akan semakin besar apabila penerapan OPS dilakukan secara lebih luas. Melalui implementasi penuh pada 24 unit berkapasitas total 12 MVA yang rencananya akan dibangun, potensi penghematan BBM diperkirakan mencapai sekitar 4–5 juta liter per tahun, dengan potensi penurunan emisi hingga sekitar 8–10 ribu ton CO2 per tahun.
Selain menekan emisi karbon, penggunaan listrik dari darat juga mengurangi polusi udara, kebisingan, dan getaran yang ditimbulkan dari kapal selama bersandar. Dari sisi kualitas pasokan, hasil uji coba menunjukkan tegangan listrik juga berada pada level stabil.
“Hasil uji coba OPS di Tanjung Priok membuktikan bahwa elektrifikasi pelabuhan memberikan dampak yang terukur, mulai dari penghematan bahan bakar hingga 60 persen per hari sandar, penurunan emisi karbon sekitar 1,5 ton CO2 per hari sandar, hilangnya asap dan kebisingan genset, hingga kualitas daya listrik yang jauh lebih stabil bagi kapal,” tutup Andriyuda. (WEB)