Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
PMI-BI Kuartal II 2026 Turun Tipis, Industri Manufaktur Masih Ekspansi
ilustrasi pekerja manufaktur (Freepik/aleksandarlittlewolf)
  • PMI-BI kuartal II 2026 tercatat 51,43 persen, menandakan industri pengolahan masih ekspansif meski melambat dari kuartal sebelumnya yang mencapai 52,03 persen.
  • Bank Indonesia memproyeksikan kinerja industri pengolahan membaik pada kuartal III 2026 dengan PMI-BI naik menjadi 52,32 persen didorong peningkatan produksi dan pesanan.
  • Jumlah tenaga kerja sektor manufaktur masih kontraksi di angka 48,65 persen, namun diperkirakan membaik pada kuartal III meski belum masuk zona ekspansi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Bank Indonesia (BI) melaporkan kinerja industri pengolahan nasional masih bertahan di zona ekspansi pada kuartal II 2026. Hal itu tercermin dari Prompt Manufacturing Index Bank Indonesia (PMI-BI) yang tercatat sebesar 51,43 persen, meski sedikit melambat dibandingkan kuartal I 2026 yang mencapai 52,03 persen.

BI menyebut, capaian tersebut menunjukkan aktivitas manufaktur masih tumbuh karena indeks tetap berada di atas level 50. Penopang utama ekspansi berasal dari komponen Volume Produksi yang mencapai 53,81 persen, Volume Persediaan Barang Jadi 53,00 persen, serta Volume Total Pesanan 52,77 persen.

1. Kinerja industri pengolahan kuartal III diperkirakan membaik

Robot Manufaktur (Sumber : https://www.freepik.com)

Bank sentral juga memperkirakan kinerja industri pengolahan akan membaik pada kuartal III 2026. PMI-BI diperkirakan meningkat menjadi 52,32 persen, didorong oleh kenaikan Volume Produksi menjadi 54,33 persen, Volume Persediaan Barang Jadi 53,67 persen, dan Volume Total Pesanan 53,66 persen.

Sementara itu, komponen Kecepatan Penerimaan Barang Input dan Jumlah Tenaga Kerja diproyeksikan membaik, meski masih berada di zona kontraksi, masing-masing sebesar 48,88 persen dan 49,70 persen.

2. Volume produksi di kuartal II masuk zona ekspansi

Ilustrasi Kondisi Pabrik Sektor Manufaktur Otomotif. (Unsplash/Appliances)

Lebih lanjut, komponen volume produksi yang berada di zona ekspansi dengan indeks 53,81 persen, meski sedikit melambat dibandingkan kuartal I 2026 yang mencapai 54,07 persen.

"Terjaganya produksi manufaktur didukung oleh permintaan yang masih kuat, peningkatan volume total pesanan, serta tingginya persediaan barang jadi. Selain itu, ketersediaan sarana produksi turut menopang aktivitas industri. Pada kuartal III 2026, volume produksi diperkirakan kembali meningkat dengan indeks 54,33 persen," jelasnya.

Sejalan dengan produksi, volume total pesanan juga masih berada dalam fase ekspansi. Indeks komponen ini tercatat sebesar 52,77 persen pada kuartal II 2026, meski turun tipis dari 53,20 persen pada periode sebelumnya. Kondisi tersebut mencerminkan permintaan industri yang tetap terjaga, didukung oleh kecukupan stok barang jadi. Ke depan, volume total pesanan diperkirakan meningkat menjadi 53,66 persen pada kuartal III 2026.

3. Jumlah pekerja di sektor industri pengolahan masih kontraksi

ilustrasi manufaktur (pexels.com/Kateryna Babaieva)

Di sisi lain, komponen kecepatan penerimaan barang input masih mengalami tekanan. Pada kuartal II 2026, indeksnya berada di zona kontraksi sebesar 47,46 persen, lebih rendah dibandingkan 49,06 persen pada kuartal sebelumnya. Kendati demikian, BI memperkirakan kondisi ini mulai membaik pada kuartal III 2026 dengan indeks mencapai 48,88 persen.

Sementara itu, volume persediaan barang jadi tetap mencatatkan ekspansi dengan indeks 53,00 persen pada kuartal II 2026. Meski menurun dibandingkan kuartal sebelumnya yang sebesar 54,43 persen, level persediaan masih cukup tinggi sejalan dengan aktivitas produksi yang tetap ekspansif.

"Pada kuartal III 2026, indeks volume persediaan barang jadi diperkirakan meningkat menjadi 53,67 persen," jelasnya.

Dari sisi tenaga kerja, jumlah pekerja di sektor industri pengolahan masih berada di zona kontraksi. Indeks jumlah tenaga kerja pada kuartal II 2026 tercatat 48,65 persen, turun tipis dari 48,76 persen pada kuartal sebelumnya. Namun, BI memperkirakan penggunaan tenaga kerja akan membaik pada kuartal III 2026 dengan indeks 49,70 persen, meski masih berada di bawah ambang ekspansi.

Berdasarkan sublapangan usaha (Sub-LU), sebagian besar sektor industri pengolahan masih berada dalam fase ekspansi pada kuartal II 2026. Industri Mesin dan Perlengkapan mencatat kinerja tertinggi dengan indeks 58,24 persen.

Selain itu, ekspansi juga ditopang oleh industri makanan dan minuman dengan indeks 54,05 persen, industri logam dasar sebesar 53,59 persen, serta industri barang galian bukan logam sebesar 53,22 persen.

Pada kuartal III 2026, BI memperkirakan mayoritas Sub-LU tetap tumbuh ekspansif. Industri mesin dan perlengkapan diproyeksikan kembali mencatat indeks tertinggi sebesar 56,62 persen, diikuti industri pengolahan tembakau (56,00 persen), industri logam dasar (55,87 persen), dan industri alat angkutan (55,44 persen).

Curated For You

Editorial Team

Related Article