ilustrasi manufaktur (pexels.com/Kateryna Babaieva)
Di sisi lain, komponen kecepatan penerimaan barang input masih mengalami tekanan. Pada kuartal II 2026, indeksnya berada di zona kontraksi sebesar 47,46 persen, lebih rendah dibandingkan 49,06 persen pada kuartal sebelumnya. Kendati demikian, BI memperkirakan kondisi ini mulai membaik pada kuartal III 2026 dengan indeks mencapai 48,88 persen.
Sementara itu, volume persediaan barang jadi tetap mencatatkan ekspansi dengan indeks 53,00 persen pada kuartal II 2026. Meski menurun dibandingkan kuartal sebelumnya yang sebesar 54,43 persen, level persediaan masih cukup tinggi sejalan dengan aktivitas produksi yang tetap ekspansif.
"Pada kuartal III 2026, indeks volume persediaan barang jadi diperkirakan meningkat menjadi 53,67 persen," jelasnya.
Dari sisi tenaga kerja, jumlah pekerja di sektor industri pengolahan masih berada di zona kontraksi. Indeks jumlah tenaga kerja pada kuartal II 2026 tercatat 48,65 persen, turun tipis dari 48,76 persen pada kuartal sebelumnya. Namun, BI memperkirakan penggunaan tenaga kerja akan membaik pada kuartal III 2026 dengan indeks 49,70 persen, meski masih berada di bawah ambang ekspansi.
Berdasarkan sublapangan usaha (Sub-LU), sebagian besar sektor industri pengolahan masih berada dalam fase ekspansi pada kuartal II 2026. Industri Mesin dan Perlengkapan mencatat kinerja tertinggi dengan indeks 58,24 persen.
Selain itu, ekspansi juga ditopang oleh industri makanan dan minuman dengan indeks 54,05 persen, industri logam dasar sebesar 53,59 persen, serta industri barang galian bukan logam sebesar 53,22 persen.
Pada kuartal III 2026, BI memperkirakan mayoritas Sub-LU tetap tumbuh ekspansif. Industri mesin dan perlengkapan diproyeksikan kembali mencatat indeks tertinggi sebesar 56,62 persen, diikuti industri pengolahan tembakau (56,00 persen), industri logam dasar (55,87 persen), dan industri alat angkutan (55,44 persen).