Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Prabowo Diperkirakan Perlu Rp130 Triliun buat Sulap Batu Bara Jadi Bensin
Ilustrasi tambang batu bara (unsplash.com/Artyom Korshunov)
  • Pembangunan pabrik bensin dari batu bara diperkirakan membutuhkan investasi awal Rp130 triliun hingga Rp180 triliun.

  • Teknologinya telah digunakan secara komersial, tetapi pembangunan fasilitas berskala besar membutuhkan waktu hingga bertahun-tahun.

  • Presiden Prabowo Subianto menyampaikan rencana pemanfaatan batu bara untuk menghasilkan bensin.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
1955

Afrika Selatan melalui Sasol mulai memproduksi BBM dari batu bara.

sekitar 2004

Pabrik Ordos mulai dibangun dengan kapasitas 1,08 juta ton per tahun.

sekitar 2006

Fasilitas percontohan Jincheng mulai dibangun.

2008

Fasilitas Ordos mulai beroperasi.

2009

Fasilitas percontohan Jincheng mulai beroperasi.

sekitar 2013

Pabrik Ningdong mulai dibangun dengan kapasitas 4 juta ton per tahun.

2016

Fasilitas Ningdong mulai beroperasi.

2020

Proyek DME Tanjung Enim ditetapkan sebagai Proyek Strategis Nasional.

Januari 2022

Peletakan batu pertama proyek DME Tanjung Enim berlangsung.

Maret 2023

Mitra utama proyek DME Tanjung Enim mundur.

Sabtu (19/9/2026)

Prabowo Subianto menyampaikan rencana pemanfaatan batu bara untuk menghasilkan bensin dalam Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor.

Sabtu (26/9/2026)

Yayan Satyakti menyampaikan perkiraan investasi pembangunan pabrik bensin dari batu bara.

2027

Kajian dan keputusan investasi diperkirakan baru cukup dilakukan. Keputusan investasi final proyek DME Tanjung Enim ditargetkan pada akhir 2027.

2030

Pabrik percontohan kecil diperkirakan baru mungkin beroperasi jika keputusan investasi diambil sekarang.

2032-2035

Pabrik skala komersial diperkirakan baru realistis berproduksi.

2035-2037

Pabrik skala komersial diperkirakan mencapai kapasitas penuh.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Pembangunan pabrik bensin dari batu bara diperkirakan membutuhkan investasi awal Rp130 triliun hingga Rp180 triliun.
  • Who?
    Ekonom energi Universitas Padjadjaran Yayan Satyakti dan Presiden Prabowo Subianto.
  • Where?
    Rencana tersebut disampaikan Prabowo di Ponorogo, Jawa Timur, sedangkan lokasi pabrik bensin dari batu bara belum ada keterangan resmi.
  • When?
    Perkiraan investasi disampaikan pada Sabtu (26/9/2026), sementara Prabowo menyampaikan rencananya pada Sabtu (19/9/2026).
  • Why?
    Batu bara akan dimanfaatkan sebagai salah satu sumber untuk menghasilkan bensin.
  • How?
    Batu bara berkalori rendah Indonesia perlu dikeringkan terlebih dahulu dan sekitar separuh energinya menjadi bensin melalui teknologi yang telah digunakan secara komersial.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Prabowo ingin membuat bensin dari batu bara. Yayan, ekonom energi, bilang pabriknya perlu uang sangat banyak, sampai Rp180 triliun. Teknologinya sudah dipakai di beberapa negara, tetapi membuat pabrik besar perlu waktu lama. Pabrik di Indonesia belum bisa cepat menghasilkan bensin dan masih perlu kajian serta keputusan investasi.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Teknologi pengolahan batu bara menjadi bensin memiliki rekam penggunaan komersial di Afrika Selatan dan Tiongkok. Informasi ini menunjukkan bahwa rencana tersebut memiliki rujukan teknologi yang telah digunakan, sementara karakteristik batu bara kalori rendah Indonesia juga telah diperhitungkan dalam penjelasan mengenai proses pengolahannya.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Ekonom energi Universitas Padjadjaran (Unpad) Yayan Satyakti memperkirakan pembangunan pabrik bensin dari batu bara membutuhkan investasi awal 7,3 miliar dolar AS hingga 10 miliar dolar AS atau Rp130 triliun hingga Rp180 triliun.

Hal itu dengan asumsi pabrik berkapasitas 69 ribu barel per hari atau sekitar 4 juta kiloliter per tahun yang setara sekitar seperlima impor bensin.

"Investasi awal sekitar 7,3-10,0 miliar dolar AS (Rp130-180 triliun). Sebagai pembanding, pabrik Ningdong di Tiongkok menelan sekitar 8,6 miliar dolar AS," kata dia kepada IDN Times, Sabtu (26/9/2026).

Biaya operasi pabrik diperkirakan 1,4 miliar dolar AS hingga 1,8 miliar dolar AS atau Rp25 triliun hingga Rp32 triliun per tahun. Sekitar 900 juta dolar AS hingga 1 miliar dolar AS digunakan untuk membeli 16 juta hingga 20 juta ton batu bara.

Cicilan modal menyumbang hampir 60 persen biaya produksi berdasarkan kajian National Energy Technology Laboratory (NETL) 2014.

1. Teknologinya memang sudah teruji

Ilustrasi Batu Bara. (IDN Times/Anjani Asra)

Teknologi pembuatan BBM dari batu bara sudah digunakan secara komersial. Afrika Selatan melalui Sasol memproduksi BBM dari batu bara sejak 1955. Di Tiongkok, fasilitas di Ordos beroperasi sejak 2008 dan Ningdong sejak 2016, termasuk pengolahan batu bara menjadi bensin melalui metanol.

"Batu bara kalori rendah Indonesia bisa diolah, tetapi harus dikeringkan terlebih dahulu, dan hanya sekitar separuh energinya yang menjadi bensin," paparnya.

2. Pembangunan pabrik memakan banyak waktu

Ilustrasi pabrik. (IDN Times/Arief Rahmat)

Pabrik bensin dari batu bara membutuhkan waktu pembangunan yang panjang. Yayan memperkirakan 2027 baru cukup untuk kajian dan keputusan investasi, sedangkan pabrik percontohan kecil baru mungkin beroperasi pada 2030 jika keputusan investasi diambil sekarang.

"Pabrik skala komersial baru realistis berproduksi pada 2032-2035 dan mencapai kapasitas penuh sekitar 2035-2037," ujar dia.

Perkiraan itu mengacu pada waktu pembangunan sejumlah fasilitas di Tiongkok. Pabrik Ningdong berkapasitas 4 juta ton per tahun dibangun sekitar 2013 dan beroperasi pada akhir 2016. Pembangunannya memakan waktu sekitar 3,5 hingga 4 tahun.

Pabrik Ordos berkapasitas 1,08 juta ton per tahun dibangun sekitar 2004. Produksi pertama berlangsung pada akhir 2008 dan baru stabil beberapa tahun kemudian.

Jincheng menggunakan jalur metanol menjadi bensin dengan kapasitas 100 ribu ton per tahun. Fasilitas percontohan itu dibangun sekitar 2006 dan beroperasi pada 2009.

Di Indonesia, proyek DME Tanjung Enim ditetapkan sebagai Proyek Strategis Nasional pada 2020. Peletakan batu pertama berlangsung pada Januari 2022, lalu mitra utama mundur pada Maret 2023. Keputusan investasi final ditargetkan pada akhir 2027. Proyek tersebut sudah berjalan enam tahun tanpa keputusan investasi.

"Artinya, pabrik ini tidak bisa menjadi jawaban atas lonjakan harga minyak hari ini. Harga minyak saat pabrik mulai berproduksi bisa sangat berbeda dari harga 106 dolar AS sekarang," tuturnya.

3. Prabowo ingin buat bensin dari batu bara

Presiden Prabowo Subianto saat Sidang Kabinet Paripurna pada Jumat (13/3/2026). (YouTube/Sekretariat Presiden)

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan rencana pemanfaatan batu bara untuk menghasilkan bensin. Pernyataan itu disampaikan dalam Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor di Ponorogo, Jawa Timur, Sabtu (19/9/2026).

Prabowo saat itu juga menyampaikan akademisi Indonesia telah mengembangkan bahan bakar dari kelapa sawit, termasuk solar dan bensin. Dia kemudian menyebut batu bara sebagai salah satu sumber yang akan dikembangkan untuk menghasilkan bensin.

"Profesor-profesor kita yang pintar, yang benar pintarnya, ya, bukan yang profesor tadi itu, dari fakultas-fakultas teknik kita, sudah berhasil bikin solar dari kelapa sawit dan sudah bisa membikin bensin dari kelapa sawit. Dan, kita juga nanti akan bikin juga, bensin dari batu bara," kata Prabowo.

Curated For You

Editorial Team

Related Article