Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

IHSG Rontok Lebih dari 4,7 Persen, Bos BEI: Banyak Ketidakpastian

IHSG Rontok Lebih dari 4,7 Persen, Bos BEI: Banyak Ketidakpastian
Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik (IDN Times/Vadhia Lidyana)
Intinya Sih
Gini Kak
Sisi Positif
  • IHSG anjlok lebih dari 4,7 persen hingga menyentuh level 6.398,79 akibat meningkatnya ketidakpastian di pasar modal.
  • Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menjelaskan pelemahan IHSG sejalan dengan tren koreksi di pasar global selama libur bursa Indonesia.
  • Jeffrey menyoroti faktor global seperti fluktuasi harga minyak, nilai tukar, dan konflik geopolitik sebagai pemicu utama ketidakpastian pasar.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Bursa Efek Indonesia (BEI) merespons pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini, Senin (18/5/2026).

Berdasarkan data IDX Mobile, IHSG sempat menyentuh level 6.398,79 hari ini. Dilihat dari pergerakannya, IHSG sempat melemah lebih dari 4,7 persen.

Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik mengatakan, pelemahan IHSG didorong oleh ketidakpastian yang masih mengerubungi pasar.

“Kalau kita melihat IHSG hari ini, pertama tentu ini karena pasar kita masih banyak ketidakpastian, di pasar,” tutur Jeffrey di kantor BEI, Jakarta Selatan.

Di sisi lain, pelemahan IHSG hari ini menurutnya sejalan dengan kondisi pasar global. Dia juga menyoroti aktivitas perdagangan Indonesia yang libur sejak Kamis (14/5/2026), karena memperingati Kenaikan Yesus Kristus. Di saat itu, bursa efek negara lain masih beroperasi.

“Dan dalam dua hari (14-15 Mei) itu ada akumulasi penurunan di pasar global Asia. Nah ditambah dengan sedikit koreksi lagi di hari ini, jadi sebenarnya koreksi kita hari ini in-line dengan koreksi tiga hari yang ada di pasar global,” tutur Jeffrey.

Jeffrey mengatakan, ketidakpastian di pasar modal itu dirasakan oleh negara-negara lain, tak hanya Indonesia.

“Tidak hanya pasar kita sebenarnya, tetapi pasar saham global masih penuh ketidakpastian. Fluktuasi komoditas minyak khususnya, fluktuasi nilai tukar mata uang, kemudian ketidakjelasan penyelesaian konflik di Timur Tengah maupun di Rusia. Itulah yang menjadi akumulasi ketidakpastian global khususnya di pasar Indonesia,” ucap Jeffrey.

Dia pun mengingatkan agar para investor tidak panik, dan tetap memperhatikan fundamental saham.

“Menganalisis secara cermat, mengatur strategi berinvestasi sesuai dengan profil risiko masing-masing. Karena kondisi pasar sangat dinamis, dan ketidakpastiannya masih cukup tinggi,” kata dia.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Dwifantya Aquina
EditorDwifantya Aquina
Follow Us

Related Articles

See More