Direktur Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan, Luky Alfirman. (Dok/Istimewa).
Dia juga menyinggung banyaknya suara mengganggu (noise) yang menyebabkan sentimen negatif pada Kementerian Keuangan (Kemenkeu). Misalnya seperti isu seperti APBN yang tak akan bisa bertahan jika harga BBM tidak naik.
“Ini kan juga terjadi kan noise yang seolah-olah menggambarkan ekonomi kita sedang menuju keterpurukan dalam beberapa bulan ke depan. Mereka bilang kan 3 bulan waktu itu, kan berarti 2 bulan lagi, Juni, Juli. Tapi keadaannya enggak seperti itu. Noise dari pemerintah sudah kita rapikan nih,” ujar Purbaya.
Tak hanya itu, dia juga sempat menyoroti dugaan-dugaan bahwa dirinya tertutup dan tidak punya kemampuan bahasa Inggris, dan dia tak disarankan bertemu investor karena dianggap bisa mengganggu kepercayaan investor.
"Ada informasi yang keluar bahwa Menteri Keuangannya tertutup, nggak bisa bahas Inggris kali dan kalau bisa jangan dibawa ketemu investor karena dia akan mengacaukan. Itu dari internal, jadi kita rapikan itu sedikit," kata Purbaya.
Menurutnya, perbedaan pandangan di internal adalah hal yang normal. Namun, jika hal itu terkait penyebaran angka atau informasi yang tidak akurat, menurut Purbaya dapat menyesatkan dan berdampak buruk.
"Kalau perbedaan pendapatnya nggak apa-apa. Kita kalau perbedaan pendapat boleh loh di Keuangan. Marah-marah mereka ini. Nggak apa-apa. Cuman ketika ada misinformasi seperti itu kan meruntuhkan legacy pemerintah juga. Jadi mesti kita rapikan," ujar Purbaya.