PT Pyridam Farma Tbk (PYFA). (Dok/Istimewa).
Sinta mengatakan, PYFA tidak hanya memperluas bisnis di pasar domestik dan regional, tetapi juga terus memperbaiki struktur biaya operasional untuk mempercepat pencapaian profitabilitas.
Seiring dengan pertumbuhan pendapatan, PYFA juga mencatatkan perbaikan margin. Laba bruto Perseroan tumbuh 29,9 persen menjadi Rp542,76 miliar dari Rp417,86 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan tersebut lebih tinggi dibandingkan kenaikan pendapatan.
Hal ini turut mendorong peningkatan margin laba bruto menjadi 22,5% dari sebelumnya 20,3 persen. Perseroan menyebut peningkatan volume produksi membuat biaya tetap per unit lebih rendah sehingga mendukung efisiensi operasional.
"Perbaikan kinerja juga terlihat pada level operasional. EBITDA PYFA melonjak menjadi Rp239,9 miliar dibandingkan Rp8,8 miliar pada periode yang sama tahun lalu," tegasnya.
Meski demikian, beban depresiasi dan amortisasi sebesar Rp252,7 miliar serta beban keuangan Rp322,4 miliar masih menekan kinerja Perseroan. Sebagian besar beban depresiasi dan amortisasi tersebut berasal dari aset hasil akuisisi Probiotec.
Alhasil, PYFA masih membukukan rugi periode berjalan sebesar Rp338,7 miliar. Meski begitu, kerugian tersebut menyusut 7,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, rugi komprehensif Perseroan turun 27,8 persen menjadi Rp221,4 miliar, termasuk setelah memperhitungkan selisih kurs penjabaran.