Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
- PT Pyridam Farma Tbk (PYFA) membukukan pendapatan neto sebesar Rp1,62 triliun. (Dok/Istimewa).
  • PYFA mencatat pendapatan neto Rp2,41 triliun hingga kuartal III-2026, naik 17,2 persen secara tahunan, didorong bisnis CDMO yang beroperasi di Indonesia dan Australia.
  • Laba bruto tumbuh 29,9 persen menjadi Rp542,76 miliar dan EBITDA mencapai Rp239,9 miliar, sementara rugi periode berjalan menyusut 7,4 persen menjadi Rp338,7 miliar.
  • PYFA memperluas portofolio melalui izin edar Fenofibrate, memanfaatkan fasilitas Australia berlisensi TGA untuk ekspor, serta menargetkan fasilitas injeksi steril Lini 3 beroperasi komersial pada 2027.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - PT Pyridam Farma Tbk (PYFA) membukukan pendapatan neto sebesar Rp2,41 triliun hingga kuartal III-2026. Angka ini meningkat 17,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp2,06 triliun.

Mengutip laporan keuangan yang disampaikan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), pertumbuhan pendapatan PYFA ditopang oleh bisnis Contract Development and Manufacturing Organization (CDMO) yang kini beroperasi di Indonesia dan Australia.

1. Perbaikan kinerja merupakan hasil integrasi strategi ekspansi dan efisiensi operasional

PT Pyridam Farma Tbk (IDX: PYFA).

Direktur Keuangan PT Pyridam Farma Tbk Sinta Ningsih mengatakan, perbaikan kinerja tersebut merupakan hasil integrasi strategi ekspansi dan efisiensi operasional yang dijalankan Perseroan selama dua tahun terakhir. Menurutnya, pertumbuhan pendapatan yang diikuti kenaikan laba bruto menunjukkan semakin kuatnya model bisnis manufaktur terintegrasi dan layanan CDMO PYFA.

“Capaian hingga kuartal III-2026 menunjukkan bahwa integrasi strategi ekspansi dan efisiensi operasional yang kami jalankan selama dua tahun terakhir berada di jalur yang tepat. Pertumbuhan pendapatan 17,2 persen yang diiringi kenaikan laba bruto 29,9 persen serta penyusutan rugi usaha 91,5 persen mencerminkan bahwa model bisnis manufaktur terintegrasi dan layanan CDMO kami semakin solid,” ujar Sinta.

2. Laba bruto PYFA melonjak 29,9 persen, EBITDA Tembus Rp239,9 Miliar

PT Pyridam Farma Tbk (PYFA). (Dok/Istimewa).

Sinta mengatakan, PYFA tidak hanya memperluas bisnis di pasar domestik dan regional, tetapi juga terus memperbaiki struktur biaya operasional untuk mempercepat pencapaian profitabilitas.

Seiring dengan pertumbuhan pendapatan, PYFA juga mencatatkan perbaikan margin. Laba bruto Perseroan tumbuh 29,9 persen menjadi Rp542,76 miliar dari Rp417,86 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan tersebut lebih tinggi dibandingkan kenaikan pendapatan.

Hal ini turut mendorong peningkatan margin laba bruto menjadi 22,5% dari sebelumnya 20,3 persen. Perseroan menyebut peningkatan volume produksi membuat biaya tetap per unit lebih rendah sehingga mendukung efisiensi operasional.

"Perbaikan kinerja juga terlihat pada level operasional. EBITDA PYFA melonjak menjadi Rp239,9 miliar dibandingkan Rp8,8 miliar pada periode yang sama tahun lalu," tegasnya.

Meski demikian, beban depresiasi dan amortisasi sebesar Rp252,7 miliar serta beban keuangan Rp322,4 miliar masih menekan kinerja Perseroan. Sebagian besar beban depresiasi dan amortisasi tersebut berasal dari aset hasil akuisisi Probiotec.

Alhasil, PYFA masih membukukan rugi periode berjalan sebesar Rp338,7 miliar. Meski begitu, kerugian tersebut menyusut 7,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, rugi komprehensif Perseroan turun 27,8 persen menjadi Rp221,4 miliar, termasuk setelah memperhitungkan selisih kurs penjabaran.

3. PYFA Perluas Pasar Ekspor, Andalkan Fasilitas Produksi di Australia

Emiten farmasi PT Pyridam Farma Tbk (PYFA) melalui anak usahanya, PT Ethica Industri Farmasi, memperkuat kapasitas manufaktur obat steril nasional dengan meresmikan fasilitas produksi Injeksi Steril Lini 3 dan gudang. (Dok/Istimewa).

Selain mengembangkan bisnis CDMO, PYFA juga memperluas portofolio produk berlisensi. Pada September 2026, Perseroan memperoleh persetujuan izin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk produk Fenofibrate 145 mg yang digunakan dalam penanganan gangguan lipid.

"Produk tersebut melengkapi portofolio PYFA di segmen terapi kardiovaskular. Berdasarkan data BPJS Kesehatan periode Januari-September 2026, pembiayaan penyakit jantung mencapai Rp17,35 triliun, sedangkan pembiayaan stroke sebesar Rp7,21 triliun," jelasnya.

Kontribusi produk Fenofibrate terhadap pendapatan Perseroan diperkirakan mulai terlihat pada periode berikutnya seiring dengan berlangsungnya distribusi. Adapun pengembangan bisnis CDMO PYFA dilakukan secara bertahap sejak Perseroan mengakuisisi Probiotec dan meluncurkan layanan tersebut pada 2024.

Layanan CDMO PYFA mencakup pengembangan formula, registrasi produk, hingga produksi massal untuk berbagai bentuk sediaan, mulai dari tablet, kapsul, sirup, krim, hingga injeksi. Kegiatan tersebut didukung fasilitas manufaktur di Indonesia dan Australia.

Fasilitas manufaktur PYFA di Australia telah mengantongi lisensi Therapeutic Goods Administration (TGA), yang membuka peluang bagi Perseroan untuk memperluas jangkauan pasar ekspor.

Selain itu, PYFA telah menyelesaikan ekspansi fasilitas injeksi steril Lini 3 di PT Ethica Industri Farmasi. Fasilitas tersebut ditargetkan mulai beroperasi secara komersial pada 2027 untuk meningkatkan utilisasi kapasitas produksi dan mengoptimalkan kontribusi bisnis CDMO terhadap pendapatan Perseroan.

Curated For You

Editorial Team

Related Article