Bisnis Makin Moncer, Pendapatan Blibli Naik 46 Persen Jadi Rp22,23 T

- Blibli membukukan pendapatan neto Rp22,23 triliun pada Januari-September 2026, naik 46 persen secara tahunan, dengan TPV konsolidasian meningkat 11 persen menjadi Rp67,16 triliun.
- Laba bruto tumbuh 29 persen menjadi Rp3,46 triliun, sementara rugi usaha menyusut 53 persen menjadi Rp783 miliar dan EBITDA negatif membaik 61 persen menjadi Rp566 miliar.
- Segmen institusi tumbuh 70 persen menjadi Rp9,91 triliun; pengguna aktif naik 10 persen menjadi 4,5 juta, didukung investasi teknologi, AI, infrastruktur pemenuhan, dan integrasi ekosistem.
Jakarta, IDN Times - PT Global Digital Niaga Tbk (BELI) atau Blibli mencatatkan pendapatan neto sebesar Rp22,23 triliun sepanjang Januari-September 2026. Realisasi tersebut meningkat 46 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp15,23 triliun. Pendapatan tersebut merupakan kontribusi konsolidasian Blibli bersama entitas anak usahanya, termasuk tiket.com, Ranch Market, dan Dekoruma.
Pertumbuhan pendapatan ditopang oleh seluruh segmen bisnis, terutama segmen institusi yang tumbuh 70 persen secara tahunan menjadi Rp 9,91 triliun. Sementara itu, total nilai pemrosesan transaksi atau Total Processing Value (TPV) konsolidasian meningkat 11 persen menjadi Rp67,16 triliun.
1. Blibli andalkan investasi teknologi dan AI untuk perkuat daya saing bisnis
Blibli menjadi ekosistem omnichannel terpadu bersama tiket.com, Ranch Market, dan Dekoruma untuk menghadirkan pengalaman berbelanja yang lebih terintegrasi. (Dok. Istimewa) CEO dan Co-Founder Blibli Kusumo Martanto mengatakan, kinerja perusahaan sepanjang sembilan bulan pertama 2026 menunjukkan kontribusi dari berbagai lini bisnis, mulai dari platform digital, gerai fisik, bisnis institusi hingga mitra usaha. Menurut dia, perusahaan tidak hanya mengejar pertumbuhan pendapatan, tetapi juga berupaya meningkatkan kualitas pertumbuhan melalui investasi yang lebih selektif dan efisiensi operasional.
"Di tengah pola belanja konsumen yang selektif dan persaingan pasar yang ketat, kami terus mencatatkan pertumbuhan se kaligus meningkatkan profitabilitas dan efisiensi operasional. Kemajuan ini mencerminkan fokus kami pada pertumbuhan berkualitas tinggi, investasi yang disiplin, serta perbaikan berkelanjutan, alih-alih sekadar mengejar pertumbuhan dengan cara apa pun," ungkapnya.
Blibli juga terus memperkuat layanan melalui ekosistem bisnis yang mencakup Blibli, tiket.com, Ranch Market, dan Dekoruma. Pengembangan tersebut dilakukan melalui perluasan penawaran produk dan layanan, penguatan kemitraan dengan pemegang merek, serta integrasi pengalaman belanja secara daring dan luring. Selain memperkuat ekosistem bisnis, perusahaan mengalokasikan investasi secara selektif untuk pengembangan infrastruktur pemenuhan pesanan, teknologi, dan integrasi antarlini usaha.
"Kami juga terus memperkuat kapabilitas yang mendukung daya saing jangka panjang. Investasi selektif pada infrastruktur pemenuhan pesanan, teknologi, dan integrasi ekosistem telah meningkatkan keandalan layanan, menyederhanakan proses, serta mendongkrak pro duktivitas di seluruh lini operasional kami. Secara paralel, kami memperluas pemanfaatan analitik data (data analytics) dan kecerdasan buatan (artificial intelligence) secara bertanggung jawab untuk mengoptimalkan manajemen barang dagang, penemuan produk, keterlibatan pelanggan, dan pengambilan keputusan," tegasnya.
2. Blibli berhasil pangkas rugi usaha 53 persen, EBITDA membaik 61 persen

Kinerja keuangan Blibli periode Januari-September 2026. (Dok/Istimewa). Dari sisi profitabilitas, Blibli membukukan laba bruto sebesar Rp3,46 triliun hingga September 2026. Angka ini tumbuh 29 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp2,67 triliun.
Sejalan dengan itu, rugi usaha Blibli menyusut 53 persen menjadi Rp783 miliar. Perbaikan juga terlihat pada EBITDA yang tercatat negatif Rp566 miliar, membaik 61 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang masih negatif Rp1,46 triliun. Perbaikan kinerja tersebut terjadi di tengah upaya perusahaan menekan biaya operasional. Blibli mencatatkan beban operasional sebesar Rp4,30 triliun, turun 1 persen dibandingkan Januari-September 2025.
3. Pengguna aktif Blibli tumbuh 10 persen, tembus 4,5 Juta hingga September 2026

Ilustrasi pengguna saat mengakses e-commerce Blibli. (IDN Times/Vadhia Lidyana) Sementara itu, CFO Blibli Ronald Winardi mengatakan, perbaikan kinerja keuangan ditopang oleh peningkatan bauran pendapatan dan pengelolaan biaya yang lebih disiplin. Selain itu, Blibli mencatatkan peningkatan take rate, yakni rasio pendapatan terhadap TPV, menjadi 9,1 persen pada Januari-September 2026, dari sebelumnya 8,4 persen pada periode yang sama tahun lalu. Khusus kuartal III 2026, take rate perusahaan mencapai 9,3 persen.
"Peningkatan take rate menjadi 9,1 persen serta perbaikan kinerja EBITDA sebesar 160 basis poin semakin menunjukkan kemajuan dalam kualitas pertumbuhan dan efisiensi operasional," ujar Ronald.
Dari sisi segmen bisnis, pendapatan neto segmen toko fisik tumbuh 37 persen menjadi Rp6,62 triliun. Sementara itu, segmen ritel pihak pertama (first-party/1P) meningkat 29 persen menjadi Rp4,49 triliun dan segmen ritel pihak ketiga (third-party/3P) tumbuh 9 persen menjadi Rp1,19 triliun. Pertumbuhan segmen institusi didukung oleh ekspansi regional pada kategori elektronik konsumen, khususnya smartphone dan elektronik rumah tangga. Sepanjang sembilan bulan pertama 2026, Blibli melayani sekitar 93 ribu klien institusi. Rata-rata belanja per klien juga meningkat 63 persen secara tahunan menjadi Rp145,1 juta.
Adapun pertumbuhan segmen toko fisik ditopang oleh peningkatan volume penjualan smartphone, peluncuran produk baru, serta perluasan jaringan toko elektronik konsumen. Hingga akhir September 2026, Blibli mengoperasikan 347 toko elektronik konsumen, yang terdiri dari 160 toko merek tunggal dan 187 toko multi merek. Perseroan juga mengelola 24 toko elektronik rumah tangga, satu toko fesyen dan olahraga, serta 60 gerai supermarket premium melalui Ranch Market.
Dari sisi pelanggan, jumlah pengguna aktif bertransaksi Blibli meningkat 10 persen menjadi 4,5 juta pengguna. Sementara itu, rata-rata nilai pesanan atau Average Order Value (AOV) tercatat sebesar Rp1,94 juta.
Ronald menambahkan, perusahaan masih berfokus memperluas margin, meningkatkan leverage operasional, serta menjaga disiplin alokasi modal untuk mempercepat pencapaian profitabilitas. Upaya tersebut diharapkan dapat memperkuat fondasi bisnis sekaligus mendorong pertumbuhan laba secara berkelanjutan.






















