Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Rekor Surplus 72 Bulan Runtuh, Neraca Dagang Defisit 1,61 Miliar Dolar
Ilustrasi neraca perdagangan. (IDN Times/Mardya Shakti)
  • Neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2026 mencatat defisit 1,61 miliar dolar AS, mengakhiri tren surplus selama 72 bulan berturut-turut sejak tahun 2020.
  • BPS menyebut defisit terutama disebabkan oleh sektor migas yang mengalami minus 3,76 miliar dolar AS akibat lonjakan impor hasil minyak dan minyak mentah.
  • Sektor nonmigas masih mencatat surplus 2,15 miliar dolar AS, namun tidak mampu menutupi defisit besar dari migas di tengah penurunan ekspor dan kenaikan impor signifikan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Indonesia dulu selalu punya uang lebih dari jual-beli barang ke luar negeri, tapi sekarang malah kurang 1,61 miliar dolar. Katanya karena beli minyak dan bensin dari luar negeri banyak banget, tapi jualnya sedikit. Orang BPS bilang yang bukan minyak masih untung, tapi belum cukup buat nutup yang rugi. Sekarang Indonesia lagi hitung-hitungan lagi biar seimbang.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN TimesBadan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia berbalik mengalami defisit sebesar 1,61 miliar dolar AS pada Mei 2026. Kondisi ini mengakhiri tren surplus yang telah berlangsung selama 72 bulan berturut-turut sejak 2020.

Sebelumnya, pada April 2026, neraca perdagangan Indonesia masih mencatat surplus sebesar 89,1 juta dolar AS. Berbaliknya posisi neraca perdagangan tersebut menjadi defisit menandai perubahan signifikan pada kinerja perdagangan.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengatakan defisit neraca perdagangan pada Mei 2026 terutama dipicu oleh besarnya defisit pada sektor migas.

"Defisit neraca perdagangan terutama disebabkan oleh komoditas migas yang mencatat defisit sebesar minus 3,76 miliar dolar AS. Defisit tersebut berasal dari perdagangan hasil minyak dan minyak mentah," ujar Ateng dalam konferensi pers, Rabu (1/7/2026).

Di sisi lain, neraca perdagangan komoditas nonmigas masih mencatat surplus sebesar 2,15 miliar dolar AS. Surplus tersebut terutama ditopang oleh komoditas bahan bakar mineral, lemak dan minyak hewan maupun nabati, serta besi dan baja. Dari sisi ekspor, nilai ekspor Indonesia pada Mei 2026 tercatat sebesar 23,20 miliar dolar AS atau turun 5,73 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu (year on year/yoy).

Penurunan tersebut terutama disebabkan oleh melemahnya ekspor nonmigas sebesar 4,50 persen menjadi 22,45 miliar dolar AS. Sementara itu, ekspor migas turun lebih dalam, yakni 31,76 persen secara tahunan menjadi 760 juta dolar AS.

Di sisi impor, BPS mencatat nilai impor Indonesia mencapai 24,82 miliar dolar AS pada Mei 2026 atau meningkat 22,16 persen dibandingkan Mei 2025. Kenaikan impor terutama didorong oleh impor nonmigas yang tumbuh 14,89 persen secara tahunan menjadi 20,30 miliar dolar AS. Sementara itu, impor migas melonjak 70,78 persen menjadi 4,51 miliar dolar AS.

Lonjakan impor migas yang jauh lebih tinggi dibandingkan nilai ekspor menjadi faktor utama yang mendorong Indonesia mencatat defisit neraca perdagangan pada Mei 2026. BPS mencatat, meskipun sektor nonmigas masih mampu membukukan surplus, nilainya belum cukup untuk menutupi defisit perdagangan migas yang mencapai 3,76 miliar dolar AS.

Editorial Team

Related Article