Lebih lanjut, Lukman memproyeksi pergerakan rupiah hari ini berpotensi menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di tengah meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah setelah penghentian aksi saling serang antara AS dan Iran.
Namun, penguatan rupiah diperkirakan akan terbatas karena pelaku pasar masih memilih bersikap wait and see menjelang sejumlah agenda penting di Amerika Serikat.
"Investor tengah menanti rilis data produk domestik bruto (PDB), inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE), serta hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang akan menjadi petunjuk arah kebijakan suku bunga The Fed," tegasnya.
Dengan mempertimbangkan sejumlah faktor tersebut, rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp17.900–Rp18.000 per dolar AS.