Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

BPS Ungkap Alasan Tukang Becak Bisa Masuk Desil 9

BPS Ungkap Alasan Tukang Becak Bisa Masuk Desil 9
Tenaga Ahli Kemensos, Andi Kurniawan. (IDN Times/Triyan).
  • BPS menyebut tukang becak bisa masuk desil 9 akibat data yang belum mutakhir; posisi desil rumah tangga dapat berubah mengikuti kondisi sosial ekonomi terkini.
  • Penentuan desil tidak hanya mengandalkan pendapatan atau pengeluaran, melainkan estimasi dari lebih 40 variabel, termasuk kondisi rumah, aset, anggota keluarga, sanitasi, dan air bersih.
  • BPS mencatat inclusion-exclusion error sekitar 23 persen dan berupaya memperbaiki model serta data, termasuk peluang integrasi data pajak, PLN, dan pulsa dengan perlindungan privasi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Badan Pusat Statistik (BPS) angkat bicara terkait sejumlah kejanggalan dalam penetapan desil penerima bantuan sosial (bansos). Salah satunya, terdapat tukang becak yang tercatat dalam desil 9, sementara warga yang dinilai berkecukupan justru masuk desil 4.

Direktur Metodologi Statistik dan Sains Data BPS Setia Pramana mengatakan, kondisi tersebut tidak serta-merta disebabkan kesalahan dalam metode pemeringkatan desil. Menurutnya, ketidaksesuaian dapat terjadi karena data yang digunakan belum diperbarui sehingga tidak lagi mencerminkan kondisi ekonomi masyarakat saat ini.

"Karena data ini tidak mutakhir dan tidak sesuai dengan kondisi saat ini. Jadi yang penting adalah, tidak hanya bicara metodologi di ranking, tapi yang di-ranking itu apa? Datanya harus terkini, akurat, dan mutakhir," ujar Setia dalam diskusi di Politeknik Statistika STIS, Jakarta Timur, Jumat (11/9/2026).

  1. 1. Posisi desil rumah tangga bersifat dinamis

    Ilustrasi Bansos (Foto: IDN Times)
    Ilustrasi Bansos (Foto: IDN Times)

    Setia menegaskan, posisi desil rumah tangga bersifat dinamis. Ketika data masyarakat diperbarui sesuai kondisi terkini, posisi desilnya dapat berubah mengikuti kondisi sosial ekonomi rumah tangga tersebut.

    Selain persoalan pemutakhiran data, BPS juga meluruskan pemahaman masyarakat mengenai cara menentukan desil. Posisi desil tidak ditentukan hanya berdasarkan pendapatan atau pengeluaran rumah tangga.

  2. 2. Cara BPS mutakhirkan data pakai 40 variabel

    Ilustrasi Bansos (Foto: IDN Times)
    Ilustrasi Bansos (Foto: IDN Times)

    Menurut Setia, BPS menggunakan lebih dari 40 variabel dalam mengestimasi kondisi sosial ekonomi rumah tangga. Hal ini dilakukan karena kondisi kesejahteraan masyarakat tidak dapat diukur hanya dari pendapatan atau pengeluaran.

    "Desil itu bukan diurutkan berdasarkan pengeluaran saja. Jadi kita melakukan estimasi pengeluaran, tapi kita punya lebih dari 40 variabel," ujar Setia.

    Sejumlah indikator yang digunakan antara lain kondisi fisik rumah, kepemilikan aset, karakteristik anggota rumah tangga, serta akses terhadap sanitasi dan air bersih.

  3. 3. Berpeluang integrasikan data PLN dan perpajakan

    ilustrasi pembayaran pajak motor (IDN Times/Arief Rahmat)
    ilustrasi pembayaran pajak motor (IDN Times/Arief Rahmat)

    Ke depan, BPS membuka peluang untuk memperkuat pemutakhiran data dengan mengintegrasikan data dari berbagai kementerian dan lembaga. Data perpajakan, penggunaan listrik PLN hingga data pulsa seluler dinilai dapat membantu menggambarkan kondisi ekonomi warga secara lebih aktual.

    Namun, pemanfaatan data digital tersebut tetap harus memperhatikan ketentuan hukum dan perlindungan data pribadi masyarakat.

    "Kalau data tadi sudah ada, jauh lebih akurat. Seperti data PLN, misalkan data pulsa, tapi memang itu menjadi penting, itu harus on demand," ucap Setia.

    Model matematis yang digunakan dalam menentukan desil masyarakat masih memiliki inclusion-exclusion error. Kondisi ini membuat sebagian masyarakat yang masih membutuhkan bantuan justru keluar dari daftar penerima bansos, dengan tingkat inclusion-exclusion error sekitar 23 persen.

    Setia menjelaskan, angka tersebut tidak dapat dimaknai sebagai 23 persen masyarakat mengalami kesalahan dalam penentuan desil. Sebab, ketidaksesuaian hasil pemodelan dapat dipengaruhi berbagai faktor, baik dari sisi data maupun kondisi di lapangan.

    Menurutnya, salah satu persoalan utama adalah kualitas dan kemutakhiran data yang digunakan. Jika data yang menjadi input tidak sesuai dengan kondisi terbaru masyarakat, hasil pemodelan juga berpotensi tidak menggambarkan kondisi sebenarnya.

    “Error pertama ada di data. Apa pun data yang kita berikan, model yang kita gunakan itu bagus atau tidak, kalau datanya tidak sesuai dan kalau disalahkan, disalah,” katanya.

  4. 4. Penyempurnaan model dan pemutakhiran jadi pekerjaan rumah BPS

    IMG_20260205_162945.jpg
    Ilustrasi Pemutahiran DTSEN dan Desil. (IDN Times/Dini Suciatiningrum)

    Selain kualitas data, Setia menyebut kesalahan juga dapat berasal dari model yang digunakan untuk memprediksi kondisi sosial ekonomi masyarakat. Faktor lain yang turut memengaruhi antara lain kesalahan klasifikasi dan kondisi geografis yang berbeda-beda.

    “Data tidak mutakhir, akurat, kemudian juga salah klasifikasi, dan juga ada terkait dengan kondisi geografis,” ujarnya.

    Setia mengatakan, BPS melakukan evaluasi terhadap model secara statistik sekaligus melalui pengecekan di lapangan. Evaluasi tersebut dilakukan untuk mengetahui apakah ketidaksesuaian berasal dari model atau justru dari data yang digunakan.

    “Model bisa kita improve dengan pendekatan-pendekatan tertentu. Tapi data yang pertama, data yang akurat dan termutakhir,” tutur Setia.

    Dia menegaskan, penyempurnaan model dan pemutakhiran data masih menjadi pekerjaan yang terus dilakukan BPS bersama kementerian dan lembaga terkait. Upaya tersebut ditujukan untuk meminimalkan error dalam pemetaan kondisi sosial ekonomi masyarakat.

    “Kami mencoba meminimalisir error yang disebabkan, kalau kami, dari data dan model, bagaimana model itu kita bisa improve, bagaimana data yang akurat dan mutakhir itu bisa didapatkan,” ucapnya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More