Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan pergerakan pasar keuangan masih dipengaruhi perkembangan hubungan Amerika Serikat dan Iran. Menurut dia, sentimen pasar sempat terguncang setelah Presiden AS Donald Trump memperingatkan Iran mengenai kemungkinan adanya aksi militer tambahan apabila Teheran tidak mengambil langkah untuk mengendalikan kelompok Hizbullah yang beroperasi di Lebanon.
Pernyataan tersebut muncul di tengah dimulainya babak baru pembicaraan diplomatik antara AS dan Iran di Swiss yang dibuka oleh Wakil Presiden AS JD Vance. Namun, dia menyampaikan pembicaraan kedua negara di Swiss berakhir dengan sejumlah perkembangan yang dinilai meredakan kekhawatiran.
"Pembicaraan AS-Iran berakhir di Swiss, dengan Teheran mengatakan telah mendapatkan pengecualian untuk ekspor minyak dan petrokimia, meredakan kekhawatiran tentang kekurangan pasokan di pasar global dan menekan harga minyak mentah," ujar Ibrahim.
Dia juga menyampaikan para pejabat tinggi AS dan Iran telah menyelesaikan putaran pertama pembicaraan mereka di Swiss pada Senin. Proses negosiasi itu dimulai sejak Minggu berdasarkan nota kesepahaman yang disepakati pekan lalu untuk memperpanjang gencatan senjata yang masih rapuh sejak April selama setidaknya 60 hari lagi.
Menurut Ibrahim, Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan telah tercapai kemajuan yang baik dalam pembicaraan tersebut. Sementara itu, mediator dari Qatar dan Pakistan disebut menyampaikan para negosiator telah menyepakati peta jalan menuju kesepakatan yang lebih luas. Diskusi teknis dijadwalkan berlanjut sepanjang pekan ini.