Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Rupiah Masih di Atas Rp17.700, Faktor Apa yang Membayangi?

Rupiah Masih di Atas Rp17.700, Faktor Apa yang Membayangi?
ilustrasi rupiah (unsplash.com/Mufid Majnun)
  • Rupiah ditutup melemah 22 poin ke Rp17.744 per dolar AS pada 1 September 2026, setelah sepanjang Agustus bergerak di rentang Rp17.703-Rp18.037.
  • PMI manufaktur Indonesia turun ke zona kontraksi 49,8 pada Agustus, sementara inflasi tahunan mencapai 3,19 persen; kondisi ini memicu sentimen negatif pasar.
  • Pasar menunggu data manufaktur dan tenaga kerja AS serta dampak rebalancing MSCI. Bank Mandiri memperkirakan rupiah bergerak di kisaran Rp17.650-Rp17.800 hari ini.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih bergerak di atas Rp17.700. Pada penutupan perdagangan kemarin, Selasa (1/9/2026), kurs rupiah melemah 22 poin atau 0,12 persen ke level Rp17.744 per dolar AS.

Padahal, mata uang Garuda sempat menguat 5 poin pada perdagangan kemarin. Posisi tersebut lebih lemah dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp17.722 per dolar AS.

  1. 1. Kurs rupiah bergerak di rentang Rp17.703-18.037 selama Agustus 2026

    ilustrasi rupiah. (ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah)
    ilustrasi rupiah. (ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah)

    Selama 19 hari kerja di bulan Agustus 2026, kurs rupiah tak pernah menyentuh level di bawah Rp17.700 per dolar AS.

    Berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI), selama Agustus 2026, kurs rupiah bergerak di rentang Rp17.703 sampai Rp18.037.

  2. 2. Kontraksi PMI manufaktur lahirkan sentimen negatif

    Ilustrasi Kondisi Pabrik Sektor Manufaktur Otomotif. (Unsplash/Appliances)
    Ilustrasi Kondisi Pabrik Sektor Manufaktur Otomotif. (Unsplash/Appliances)

    Berdasarkan rilis terbaru S&P Global, PMI Manufaktur Indonesia kembali ke zona kontraksi di 49,8 pada Agustus 2026. Pada Juli 2026, PMI Manufaktur Indonesia di angka 50,2. Data itu menunjukkan kinerja manufaktur Indonesia tertinggal dari sejumlah negara di Asia Tenggara. Dari lima negara Asia Tenggara yang didata S&P Global, hanya indeks manufaktur Indonesia yang mengalami kontraksi.

    Belum lagi tingkat inflasi Indonesia secara tahunan per Agustus 2026 tembus 3,19 persen menurut data Badan Pusat Statistik (BPS). Menurut Chief Economist PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), Andry Asmoro mengatakan, kondisi itu melahirkan sentimen negatif bagi pelaku pasar.

    “Pelemahan manufaktur dan kenaikan inflasi menjadi risiko bagi pertumbuhan, meski surplus perdagangan mendukung Rupiah,” ucap Andry dikutip Rabu, (2/9/2026).

  3. 3. Prediksi pergerakan rupiah besok

    ilustrasi rupiah sebagai penggerak ekonomi (pexels.com/ansanjaya)
    ilustrasi rupiah sebagai penggerak ekonomi (pexels.com/ansanjaya)

    Menurut Andry, pasar menanti ISM Manufacturing PMI dan JOLTS AS malam ini. Di sisi lain, pelaku pasar juga menyoroti berlakunya hasil rebalancing index MSCI yang mendepak GOTO dan CPIN dari MSCI Global Standard Index.

    “Data AS yang kuat dapat memperbesar ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed, sementara rebalancing MSCI berpotensi memicu tekanan jual jangka pendek,” kata Andry.

    Atas faktor-faktor tersebut, dia memprediksi kurs rupiah akan bergerak di rentang Rp17.650-17.800 per dolar AS pada perdagangan hari ini.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More